Komposer Vietnam Tran Tien dikenal lewat karya-karya yang kaya narasi, berjiwa bebas, dan berakar pada kehidupan. Lagu-lagunya menjangkau tema yang luas, mulai dari tentara, tanah air, dan cinta, hingga perenungan tentang kemanusiaan serta waktu.
Penghormatan atas jejak musikalnya dihadirkan dalam edisi Juli program Conversations with Time bertema “Warna-Warna Tran Tien”. Program ini merekonstruksi perjalanan musik Tran Tien yang beragam, dari masa perang, pengalaman bermusik di berbagai negeri, dan kisah-kisah kehidupan yang ia temui, hingga refleksinya tentang cinta, tanah air, dan kehidupan.
Dalam konsep “Colors”, setiap lagu diposisikan sebagai nuansa warna yang berbeda. Gagasan ini sekaligus menegaskan pandangan hidup Tran Tien yang bebas tanpa batasan, serta membentuk gambaran sosok musisi keliling yang karismatik dan individualistis.
Penyanyi Tung Duong, yang terlibat dalam program tersebut, menyampaikan penghormatannya kepada Tran Tien. Ia mengatakan selalu memandang Tran Tien sebagai guru, figur ayah, sekaligus ikon musik yang memberi inspirasi. Menurutnya, keikutsertaannya menjadi kesempatan untuk menyatakan respek kepada musisi yang berpengaruh dalam perjalanan artistiknya.
Di usia 80 tahun, Tran Tien masih tampil di panggung bersama gitar kesayangannya, terus bernyanyi dan menyampaikan kisah melalui musik. Selain membawakan lagu-lagu yang lekat dengan namanya seperti “Jejak Kaki Bulat di Pasir”, “Selamat Tinggal Burung Walet”, dan “Mimpi Chapi”, program ini juga menampilkan “Melewati Hidupku”, lagu baru yang ia selesaikan pada usia 80 tahun.
Dengan format pertunjukan langsung yang didukung sebuah band, “Colors of Tran Tien” mengajak penonton kembali ke ruang musik yang merekam perjalanan penciptaan lagu dan penjelajahan kreatif sang komposer.