Pasar musik global diproyeksikan terus tumbuh pada paruh pertama 2026, namun laporan terbaru menunjukkan perubahan selera pendengar berlangsung semakin cepat. Laporan Pertengahan Tahun Luminate 2026 mencatat streaming audio on-demand global diperkirakan meningkat 9,8% pada periode tersebut. Pertumbuhan di luar Amerika Serikat diproyeksikan lebih tinggi, yakni 11,8%, sementara pasar AS diperkirakan naik 4,4%.
Di tengah pertumbuhan itu, musik dance/elektronik disebut menjadi “bintang” baru. Luminate mencatat streaming genre dance/elektronik meningkat 18,9% pada paruh pertama 2026, didorong antara lain oleh kesuksesan artis seperti John Summit dan Disco Lines, serta kebangkitan kembali lagu-lagu hit yang dirilis pada 2015–2017. Setengah dari 10 lagu dance yang paling banyak diputar tahun ini berasal dari periode tersebut.
Sebaliknya, dominasi R&B/hip-hop di AS menunjukkan tren penurunan meski masih menjadi genre paling banyak didengarkan. Sekitar seperempat dari seluruh streaming di AS masih berasal dari R&B/hip-hop, namun pangsa pasarnya turun 1,6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di tangga album Billboard 200, genre ini juga mencatat penurunan pangsa pasar paling tajam sejak 2023.
Luminate juga mencatat perubahan yang lebih panjang dalam pasar album: tiga tahun lalu R&B/hip-hop menguasai lebih dari 40% pasar album, tetapi kini sekitar 30%. Pangsa yang hilang tersebut tersebar ke berbagai genre lain, termasuk dance/elektronik, country, pop, rock, dan Latin.
Di sisi lain, musik dunia turut mencatat pertumbuhan. Streaming musik dunia meningkat 11,9%, yang menunjukkan pendengar di Eropa dan Amerika semakin terbuka pada musik di luar pasar berbahasa Inggris. Sementara itu, rock tetap menjadi genre paling banyak diputar kedua di AS, tetapi konsumsi rock didominasi katalog lama. Menurut Luminate, 75% pendengar rock saat ini berasal dari lagu-lagu yang dirilis lebih dari lima tahun lalu, sejalan dengan tren yang menguat ke arah mendengarkan musik nostalgia dibanding mengejar rilisan baru.
Salah satu temuan paling menonjol dalam laporan ini adalah kebangkitan penjualan CD di AS. Pada paruh pertama 2026, penjualan CD meningkat 16% menjadi 16,3 juta kopi, melampaui pertumbuhan piringan hitam (vinyl) yang hanya naik 2,4%. Luminate menyebut K-pop sebagai pendorong terbesar tren ini. Album dari BTS, ATEEZ, ENHYPEN, dan artis Korea lainnya disebut menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan penjualan CD. Jika penjualan K-pop dikecualikan, pasar CD AS diperkirakan hanya tumbuh sekitar 6,7%.
Laporan tersebut juga menyoroti perubahan cara generasi muda memandang CD. CD dinilai kian dilihat sebagai barang koleksi yang terjangkau, bukan semata medium untuk memutar musik. Hampir setengah dari Generasi Z dan Milenial dilaporkan pernah membeli CD namun tidak memiliki pemutar CD. Pembelian dilakukan untuk dikoleksi, dipajang, dan sebagai bentuk dukungan kepada artis.
Dari perbandingan komunitas penggemar, Luminate menilai penggemar K-pop dan indie rock termasuk yang paling bersedia mengeluarkan uang. Sekitar 38% penggemar K-pop disebut rutin membeli album, merchandise, dan produk resmi artis. Sebaliknya, pendengar pop atau country cenderung lebih sering mengandalkan layanan streaming dibanding membeli produk fisik.
Perubahan juga terjadi di sisi ritel. Laporan mencatat jaringan ritel besar seperti Walmart dan Target memperoleh pangsa pasar melalui perilisan album eksklusif. Pada saat yang sama, toko kaset independen dan saluran e-commerce mengalami penurunan penjualan.
Dari sisi bahasa, pasar AS disebut semakin banyak mendengarkan musik non-Inggris. Persentase streaming musik berbahasa Inggris menurun dari 88,1% menjadi 87,1%. Musik berbahasa Spanyol menyumbang 9,4% dari total pendengaran, didorong antara lain oleh kesuksesan Bad Bunny. Musik berbahasa Korea stabil di angka 1,1% dan tetap menjadi bahasa terpopuler ketiga di pasar AS.
Untuk pertama kalinya, Luminate juga mendedikasikan bagian khusus untuk musik yang menggunakan kecerdasan buatan. Lagu AI yang paling banyak diputar di AS disebut “Livin’ on Borrowed Time” oleh Breaking Rust, dengan sekitar 19 juta pemutaran. Di pasar internasional, remix AI dari “Papaoutai (Afro Soul)” yang berbasis lagu populer Stromae juga dilaporkan menarik banyak pendengar. Dalam survei yang dikutip, 54% musisi Amerika menyatakan sikap positif terhadap alat AI untuk komposisi dan produksi musik, lebih tinggi dibanding rata-rata pendengar.
Secara keseluruhan, laporan pertengahan tahun ini menggambarkan perubahan lanskap musik yang tidak hanya tercermin pada tangga lagu, tetapi juga pada perilaku konsumen. Di tengah pertumbuhan streaming, sebagian penggemar—terutama penggemar K-pop—kian menunjukkan loyalitas melalui pembelian album fisik. Bersamaan dengan itu, meningkatnya popularitas dance/elektronik, Latin, dan musik dunia menandai selera yang makin beragam, tidak lagi terpusat pada hip-hop seperti beberapa tahun sebelumnya.