Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Nama “Ibing Sunda 2026” mendadak ramai dicari, dibagikan, dan diperbincangkan. Bukan karena sensasi, melainkan karena ada kegelisahan kolektif yang menemukan panggungnya.
Di tengah gempuran tren seni modern, Paguyuban Seni Sunda Galih Pakuan mengumumkan pagelaran di Gedung Pusat Kebudayaan Jawa Barat, Jalan Naripan, Bandung, Jumat, 6 November 2026.
Pengumuman itu terasa seperti alarm halus. Ia mengingatkan bahwa ada warisan yang bisa hilang tanpa suara, jika tidak dirawat melalui tubuh, irama, dan ketekunan.
Pagelaran ini memanggil kembali roh tarian klasik Jawa Barat. Ia menawarkan sesuatu yang kian langka: tari topeng, karawitan klasik, dan jejak maestro yang hidup lewat murid-muridnya.
-000-
Tren ini, pertama, lahir dari faktor kelangkaan. Ceu Ris menyebut, “Sudah jarang orang menarikan tarian-tarian topeng.” Kelangkaan selalu memantik rasa ingin tahu.
Ketika sesuatu menjadi jarang, publik mendadak sadar nilainya. Mereka takut terlambat menyaksikan. Mereka takut hanya mengenal lewat klip pendek, tanpa mengerti napasnya.
Alasan kedua adalah lintas generasi yang menyentuh emosi. Pagelaran menghadirkan penari sepuh berusia 60 hingga 82 tahun. Ada keteguhan yang membuat orang menoleh.
Di era yang memuja kebaruan, tubuh sepuh yang tetap menari adalah pernyataan. Ia berkata bahwa seni bukan sekadar tren, melainkan disiplin panjang dan kesetiaan.
Alasan ketiga adalah narasi estafet. Disparbud Jawa Barat menyebut tongkat karya maestro diteruskan murid. Publik menyukai kisah keberlanjutan, bukan sekadar nostalgia.
Di balik kata “regenerasi,” ada pertanyaan yang lebih besar. Apakah Indonesia mampu menjaga pengetahuan yang diwariskan lewat praktik, bukan hanya arsip?
-000-
Pagelaran yang Menjaga Nyala
Ketua Paguyuban Galih Pakuan sekaligus maestro tari Sunda, Risyani, akrab disapa Ceu Ris, menempatkan pagelaran ini sebagai momentum perawatan warisan budaya.
Ceu Ris menari sejak 1955. Ia menyaksikan perubahan zaman, juga kehilangan. Ia menyebut konsistensinya menjaga nyala seni, terutama setelah berpulangnya Irawati Durban dan Aim Salim.
Meski tidak turun langsung menari kali ini, karya-karya orisinal peninggalan para maestro akan dibawakan. Di situ ada etika: menghormati sumber, sambil merawat hidupnya.
Rangkaian acara disebut sarat nilai historis. Ada Angklung Edelweis, lalu daftar tarian yang panjang. Nama-nama itu seperti peta ingatan yang menuntun pulang.
Tari Narantika-Rarangganis, Lenyepan, Anjasmara, Srikandi, Merak Bodas, Purwajiwa, Kupu Tarung, hingga mahakarya Ceu Ris, Tari Lagean Tabuhan.
Daftar itu bukan sekadar katalog. Ia adalah bukti bahwa tradisi memiliki kosmosnya sendiri. Ia punya ragam, karakter, dan bahasa tubuh yang tidak tunggal.
-000-
Tari Lagean Tabuhan dan Upaya Menjawab Zaman
Ceu Ris menjelaskan satu hal penting: “jangan statis.” Ia merancang Tari Lagean Tabuhan dengan dinamika tinggi. Maknanya keceriaan muda-mudi dalam bercengkerama.
Namun keceriaan itu tidak dilepas dari akar. Ia memakai tabuhan kendang. Ia mengadaptasi elemen pencak silat. Ia memakai properti menyerupai kulanter ringan.
Di sini tradisi tidak diposisikan sebagai museum. Tradisi diperlakukan sebagai perangkat hidup. Ia boleh bergerak, selama masih mengenali irama asalnya.
Ceu Ris menyebut generasi muda kerap menganggap tari Sunda terlalu lambat atau statis. Pernyataan ini penting, karena menunjukkan jarak persepsi yang nyata.
Jarak itu bukan kesalahan satu pihak. Ia lahir dari perubahan cara menikmati seni. Banyak orang kini akrab dengan potongan cepat, bukan proses panjang.
-000-
Peran Negara: Sertifikasi, Ruang, dan Tanggung Jawab Bersama
Kepala Disparbud Jawa Barat, Iendra Sofyan, menilai pagelaran ini menyentuh titik pembinaan. Ia menekankan keberlanjutan karya maestro melalui murid.
Pemerintah, kata Iendra, ingin mengangkat dan menjaga kesenian agar bersertifikat warisan budaya takbenda. Pernyataan ini menempatkan seni dalam kerangka pelindungan.
Ia juga menyebut dukungan bukan hanya anggaran. Ada fasilitas, seperti Gedung Pusat Kebudayaan, yang bisa dimanfaatkan. Namun ada syarat moral: “mari kita jaga sama-sama.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung prinsip tata kelola. Ruang publik hanya bermakna bila dipakai dan dirawat bersama, bukan sekadar disediakan.
-000-
Isu Besar di Baliknya: Identitas, Regenerasi, dan Ketahanan Budaya
Tren “Ibing Sunda 2026” sesungguhnya menyentuh isu besar Indonesia: ketahanan budaya. Kita sering bicara ketahanan pangan dan energi, tetapi lupa ketahanan makna.
Budaya adalah cara suatu masyarakat mengingat dirinya. Ketika ingatan itu melemah, masyarakat mudah terseret arus luar tanpa filter, bukan karena salah, tetapi karena kosong pegangan.
Pagelaran ini juga bicara tentang regenerasi pengetahuan. Tari bukan hanya gerak. Ia memuat etika tubuh, disiplin latihan, dan cara membaca musik.
Pengetahuan semacam ini sulit dipindahkan hanya lewat teks. Ia menuntut perjumpaan. Ia menuntut waktu. Ia menuntut guru dan murid yang sama-sama tekun.
Di sinilah isu besar lain hadir: martabat para pelaku seni. Ketika seniman sepuh masih menari, kita melihat kerja seumur hidup yang sering tak tercatat dalam statistik.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa Tradisi Perlu Panggung, Bukan Sekadar Arsip
Ada riset luas dalam studi warisan budaya takbenda yang menekankan satu hal. Warisan yang hidup bertahan karena dipraktikkan, bukan semata didokumentasikan.
Dalam kerangka UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage, pelindungan menekankan transmisi antargenerasi. Artinya, keberlanjutan terjadi saat ada ruang tampil dan ruang belajar.
Pagelaran Galih Pakuan memperlihatkan logika itu. Ia bukan hanya pertunjukan untuk penonton. Ia juga ruang latihan kolektif yang puncaknya terlihat di panggung.
Riset di bidang sosiologi budaya juga kerap membahas “modal budaya.” Ketika anak muda terpapar praktik seni, mereka menyerap rasa, disiplin, dan identitas.
Dalam jangka panjang, modal budaya ini memengaruhi cara warga memandang keberagaman. Ia menguatkan kohesi sosial, karena orang punya alasan untuk bangga tanpa merendahkan yang lain.
-000-
Cermin dari Luar Negeri: Ketika Tradisi Nyaris Pudar, Lalu Diselamatkan
Di banyak negara, seni tradisi pernah berada di tepi kepunahan karena modernisasi, urbanisasi, dan perubahan selera. Polanya sering mirip: penonton menua, murid berkurang.
Jepang, misalnya, dikenal memiliki skema pelindungan bagi seni pertunjukan tradisional. Mereka menekankan transmisi melalui guru, komunitas, dan panggung yang terjaga.
Korea Selatan juga sering dijadikan rujukan dalam kebijakan warisan budaya takbenda. Fokusnya serupa: memastikan praktik tetap hidup di komunitas, bukan hanya menjadi simbol.
Rujukan ini bukan untuk meniru mentah-mentah. Indonesia punya konteks berbeda. Namun pelajarannya jelas: tradisi bertahan ketika ekosistemnya dibangun, bukan ketika hanya dipuji.
-000-
Analisis: Mengapa Publik Tergerak oleh Kisah Para Sepuh
Ada sesuatu yang menggetarkan ketika penari berusia 60 hingga 82 tahun tetap tampil. Itu bukan sekadar kemampuan fisik. Itu adalah keteguhan yang jarang terlihat.
Di ruang publik yang bising, keteguhan terasa seperti kemewahan. Ia mengajarkan bahwa kualitas tidak lahir dari viralitas, melainkan dari pengulangan yang sabar.
Para penari sepuh mengingatkan kita pada satu kenyataan. Banyak hal berharga tidak bisa dipercepat. Ia hanya bisa dipelihara, hari demi hari.
Dalam konteks Indonesia yang sering terbelah oleh perdebatan cepat, seni menawarkan ritme lain. Ia mengundang orang untuk duduk, menonton, dan mendengarkan sampai selesai.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, tanggapi tren ini dengan hadir secara nyata. Menonton pertunjukan adalah dukungan paling langsung, karena seni pertunjukan hidup dari perjumpaan.
Kedua, perlakukan pagelaran sebagai pintu belajar. Sekolah, kampus, dan komunitas bisa menjadikannya bahan diskusi. Bukan sekadar unggahan, tetapi pemahaman konteks.
Ketiga, perkuat ruang pementasan sebagai ruang publik. Pemerintah sudah membuka peluang pemanfaatan GPK. Masyarakat dan komunitas perlu ikut menjaga tata tertib dan keberlanjutan.
Keempat, dorong regenerasi dengan cara yang tidak memaksa. Anak muda perlu diberi akses latihan, mentor, dan panggung kecil. Tradisi tumbuh dari kesempatan, bukan ceramah.
Kelima, hormati para maestro dengan cara yang tepat. Membawakan karya orisinal dengan apik, seperti disebutkan dalam pagelaran ini, adalah bentuk penghormatan yang paling jujur.
-000-
Penutup: Menjaga Nyala, Menjaga Diri
“Pagelaran Ibing Sunda Galih Pakuan 2026” bukan sekadar agenda seni. Ia adalah pengingat bahwa bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung, tetapi juga menjaga ingatan.
Di Gedung Pusat Kebudayaan, tarian klasik akan berbicara dengan bahasa tubuh. Ia akan menguji kita, apakah masih sanggup memberi waktu untuk sesuatu yang tidak instan.
Jika kita bisa duduk dan menyimak, mungkin kita akan pulang dengan rasa yang lebih utuh. Rasa bahwa menjadi modern tidak harus memutus akar.
Seperti kata bijak yang sering diulang dalam berbagai tradisi, “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”