Dunia pendidikan Indonesia memasuki babak baru dalam pembinaan talenta siswa. Mulai 2025, ajang yang selama belasan tahun dikenal sebagai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) resmi bertransformasi menjadi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Perubahan ini menandai penguatan posisi sastra agar setara dan lebih diperhitungkan dalam peta talenta nasional.
FLS2N pertama kali diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2008 sebagai wadah pengembangan potensi seni peserta didik, di tengah kecenderungan sekolah yang berfokus pada capaian akademik. Selama lebih dari 15 tahun, FLS2N menjadi ruang pembinaan bagi ribuan siswa di berbagai cabang seni, mulai dari menyanyi solo, tari kreasi, pantomim, hingga seni rupa seperti kriya dan melukis.
Seiring perkembangan zaman, muncul kebutuhan untuk memberi ruang yang lebih spesifik bagi siswa yang menekuni karya berbasis kata. Evaluasi dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dan Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) menjadi dasar perubahan nama dan penguatan aspek sastra dalam ajang tersebut.
Ada beberapa alasan yang dikemukakan terkait transformasi menjadi FLS3N. Pertama, penguatan integritas literasi dalam kerangka Kurikulum Merdeka, di mana literasi dipahami bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mengolah rasa dan pikiran melalui karya. Dalam konteks ini, sastra—seperti puisi, prosa, dan dongeng—dipandang sebagai puncak dari kemampuan literasi tersebut.
Kedua, perubahan nomenklatur dimaksudkan untuk menegaskan pemisahan yang lebih jelas. Sebelumnya, cabang sastra seperti Menulis Cerita Pendek, Cipta Puisi, atau Baca Puisi kerap dianggap sebagai cabang pelengkap di bawah payung seni secara umum. Dengan FLS3N, sastra ditempatkan sebagai pilar yang berdiri mandiri.
Ketiga, FLS3N disebut mengadopsi standar yang lazim di kancah internasional, yakni pemisahan antara Fine Arts (seni rupa/pertunjukan) dan Literature (sastra). Pendekatan ini ditujukan untuk membuat pembinaan talenta lebih fokus.
Dalam format FLS3N 2026 yang sedang berlangsung, porsi sastra digambarkan lebih dominan dan terstruktur. Cabang seperti Cipta Puisi, Menulis Cerita Pendek, dan Mendongeng tidak hanya dinilai dari aspek teknis, tetapi juga dari kedalaman filosofis dan orisinalitas gagasan. Sastra juga diposisikan sebagai sarana diplomasi budaya sekaligus pembentuk karakter siswa di tengah arus konten digital yang serba instan.
Pendaftaran FLS3N 2026 dibuka hingga 31 Maret 2026 melalui portal resmi. Rangkaian seleksi dijadwalkan mencapai puncaknya pada September–Oktober 2026 di tingkat nasional.
Transformasi FLS2N menjadi FLS3N menegaskan perluasan panggung talenta siswa: tidak hanya bagi mereka yang mengekspresikan diri lewat gerak, bunyi, dan rupa, tetapi juga bagi siswa yang merangkai makna melalui kata.