Surealisme kerap hadir melalui kisah dan gambar yang tampak bertentangan dengan akal sehat. Namun, keunikan aliran ini justru terletak pada kemampuannya mempertahankan efek realistis di tengah kejanggalan. Di titik inilah surealisme dibedakan dari fantasi: narasi surealis tetap menuntut pijakan realitas agar tidak jatuh menjadi kemustahilan.
Dalam ranah sastra, penulisan cerita surealis digambarkan sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus memusingkan. Penulis dapat berkreasi dengan menerobos batas logika, tetapi tetap perlu memastikan unsur realitasnya hadir. Salah satu contoh percobaan menulis surealisme ditunjukkan melalui karya berjudul Pada Suatu Pagi Ketika Dunia Menghilang (2020), yang memadukan realitas dunia orang dewasa dengan cara pandang anak kecil. Salah satu kutipan dari karya tersebut berbunyi: “Tapi ibu tetap bilang, jangan percaya pada dunia. Namun bagaimana saya bisa percaya, jika dunia saja tidak pernah berbicara. Pada saya, setidaknya. Dunia lebih sering diam. Saya pernah melihatnya menangis, marah, dan tertawa, namun lebih sering ia termenung sendirian.”
Selain itu, surealisme juga muncul dalam karya Cala Ibi yang disebut mendapat sambutan hangat dari pecinta sastra dan diangkat dalam berbagai telaah, mulai dari analisis penokohan, sayembara kritik, hingga kajian psikologi. Karya ini turut dikenal karena penggunaan sudut pandang orang kedua—sebuah teknik yang sering dihindari penulis karena tingkat kesulitannya. Namun, bagi Nukila Amal, sudut pandang tersebut justru membuat penggambaran cerita terasa lebih epik dan menarik. Dalam kutipan novel itu disebutkan: “Kau menatap sekeliling, pucuk pepohonan menjauh, rumahmu kian mengecil, jalanan mengurus, jarakmu dengan tanah kian melebar. Di atas tampak kawanan awan, bulan yang belum genap purnama, bintang-bintang segi lima. Kau menengadahkan muka ke langit, mungkin malam ini kau akan ke sana, menyematkan bulan di belakang kepala atau dua tiga bintang ke rambutmu.”
Surealisme tidak hanya mengalir dalam sastra, tetapi juga kuat dalam seni rupa. Salah satu karya paling dikenal dalam genre ini adalah The Persistence of Memory (La persistencia de la memoria), lukisan Salvador Dalí yang dibuat pada 1931. Lukisan tersebut kerap muncul di buku pelajaran Seni Budaya dan menjadi pintu masuk banyak orang untuk mengenal surealisme, meski maknanya tidak selalu dipahami secara langsung.
Ketidakjelasan dan kekaburan makna justru membuat karya Dalí itu memunculkan interpretasi yang luas di masyarakat. Dengan karakter visual yang tidak lazim, lukisan tersebut terus memancing rasa ingin tahu, sekaligus menegaskan ciri utama surealisme: menghadirkan dunia yang ganjil, tetapi tetap terasa dekat dengan realitas.