BERITA TERKINI
Industri Musik Dorong Label Khusus untuk Lagu Buatan AI demi Transparansi

Industri Musik Dorong Label Khusus untuk Lagu Buatan AI demi Transparansi

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian memengaruhi cara musik diproduksi. Seiring meningkatnya jumlah lagu yang dibuat dengan AI generatif, industri musik internasional mendorong penerapan label khusus agar pendengar dapat mengetahui sejauh mana teknologi digunakan dalam proses kreatif.

Delapan organisasi musik dunia, termasuk International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), Recording Industry Association of America (RIAA), dan penyelenggara Grammy Awards, memperkenalkan sistem pelabelan sukarela untuk karya musik berbasis AI. Skema ini ditujukan untuk dapat diadopsi secara luas oleh layanan streaming musik di berbagai negara.

Sistem tersebut membagi musik ke dalam dua kategori. Pertama, AI-generated, yaitu lagu yang sebagian besar atau seluruh elemen kreatifnya dihasilkan oleh AI. Label ini mencakup musik yang dibuat sepenuhnya melalui perintah (prompt) AI, maupun lagu yang vokal utama atau instrumen pentingnya dibuat dengan teknologi AI.

Kedua, AI-assisted, yakni karya yang tetap didominasi kreativitas manusia, tetapi memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan sebagian elemen ekspresif. Dalam kategori ini, vokal utama dan instrumen utama tetap harus dimainkan atau dinyanyikan oleh manusia, sehingga AI berperan sebagai alat pendukung, bukan pencipta utama.

IFPI dan RIAA menyatakan pelabelan tersebut dirancang agar mudah dipahami masyarakat sekaligus dapat diterapkan secara global. “Penggemar ingin mengetahui apakah dan bagaimana AI generatif digunakan dalam sebuah karya musik. Label ini menghadirkan pendekatan yang sederhana dan mudah diterapkan untuk meningkatkan transparansi,” demikian pernyataan bersama kedua organisasi itu.

Usulan pelabelan ini turut menarik perhatian platform streaming. Deezer menjadi salah satu layanan yang lebih dulu menerapkan identifikasi lagu berbasis AI. Perusahaan itu menyebut hampir setengah dari seluruh lagu baru yang diunggah ke platformnya kini merupakan musik hasil AI.

Pada Juni lalu, Deezer juga meluncurkan teknologi AI Music Detector yang diklaim memiliki tingkat akurasi 99,8 persen untuk mendeteksi lagu berbasis AI. Sementara itu, seorang eksekutif Apple Music sebelumnya mengatakan kepada Billboard bahwa lebih dari sepertiga lagu baru yang masuk ke platform tersebut sepenuhnya dibuat menggunakan AI.

Digital Media Association (DIMA), organisasi yang mewakili sejumlah layanan streaming seperti Apple Music, Amazon Music, dan Spotify, menyambut baik inisiatif tersebut. CEO DIMA Graham Davies mengatakan pihaknya telah lama mendorong pencipta dan pemilik hak cipta musik untuk menyediakan metadata yang akurat agar layanan streaming dapat menyajikan informasi yang jelas kepada pendengar.

Menurut Davies, metadata AI yang lebih lengkap akan memperkuat transparansi dan membantu pengguna memahami asal-usul karya musik yang mereka dengarkan. Di sisi lain, Spotify sebelumnya telah memperkenalkan label Verified by Spotify untuk memastikan keaslian identitas artis, serta memperkuat kebijakan terkait pengungkapan penggunaan AI dan pencegahan penyalahgunaan identitas musisi.

Munculnya sistem pelabelan ini menandai fase baru dalam respons industri musik global terhadap AI generatif. Perhatian tidak hanya tertuju pada kemampuan teknologi menciptakan lagu, tetapi juga pada upaya membangun standar transparansi agar publik dapat membedakan karya yang sepenuhnya dibuat manusia dengan karya yang melibatkan AI.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pendengar sekaligus memberi kepastian bagi kreator, platform streaming, dan industri musik di era AI.