BERITA TERKINI
Malam Musik “Wreath of Fire” Angkat Tradisi Mengenang Jasa Para Pahlawan

Malam Musik “Wreath of Fire” Angkat Tradisi Mengenang Jasa Para Pahlawan

Malam musik “Wreath of Fire” digelar sebagai bentuk penghormatan kepada para martir heroik sekaligus menyebarkan tradisi “minum air, mengingat sumbernya”. Program ini juga diarahkan untuk membangkitkan patriotisme serta kebanggaan nasional, terutama di kalangan generasi muda.

Penyelenggaraan acara ini berangkat dari semangat mengenang pengorbanan generasi sebelumnya demi kemerdekaan dan kebebasan bangsa. Bulan Juli disebut sebagai momen yang mengingatkan pada besarnya kontribusi mereka yang mendedikasikan masa muda, darah, dan nyawa untuk Tanah Air, termasuk para prajurit yang terluka dan sakit serta keluarga yang menanggung kehilangan.

Program ini diedit dan disutradarai oleh Seniman Rakyat Tran Binh. Sementara itu, Seniman Berjasa Quynh Trang, Direktur Teater Seni Kontemporer Vietnam, bertindak sebagai direktur artistik.

Konser “Wreath of Fire” dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bertajuk “Pergi Berperang”, yang menghadirkan kembali suasana heroik masa perang ketika generasi muda Vietnam meninggalkan bangku studi untuk membela tanah air. Sejumlah lagu yang disebut abadi dihadirkan untuk membawa pendengar kembali pada masa yang dipenuhi cita-cita, keyakinan, dan patriotisme.

Bagian kedua mengusung tema “Rasa Syukur”, menampilkan melodi-melodi yang mengangkat kisah pengorbanan para martir. Bab ini dibuka dengan puisi baru karya penyair Nguyen Thi Phuong, yang menceritakan rekan-rekan sekelasnya yang lulus, mengemas tas, lalu berangkat ke medan perang membawa mimpi masa muda, namun tidak pernah kembali. Puisi tersebut menjadi pengingat tentang nilai perdamaian dan rasa terima kasih kepada mereka yang gugur demi negara.

Quynh Trang mengatakan “Wreath of Fire” diciptakan dengan penghormatan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada para martir heroik, prajurit yang terluka, prajurit yang sakit, serta semua pihak yang mengabdikan dan mengorbankan diri bagi kemerdekaan dan kebebasan Tanah Air. Melalui musik, puisi, dan seni pertunjukan, program ini bertujuan membangkitkan kembali ingatan tentang masa perang agar penonton, khususnya generasi muda, lebih memahami nilai perdamaian saat ini.

Menurutnya, program ini tidak hanya menjadi kegiatan seni untuk memperingati Hari Veteran Perang dan Para Martir, tetapi juga perjalanan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Upaya itu sekaligus diharapkan berkontribusi menyebarkan tradisi “minum air, mengingat sumbernya”, menumbuhkan patriotisme, kebanggaan nasional, serta aspirasi untuk ikut berkontribusi bagi negara. Ia juga menilai program tersebut menjadi cara para seniman menunjukkan tanggung jawab dalam melestarikan ingatan sejarah agar nilai-nilai itu terus diwariskan.

Dalam penampilan dua lagu “Daun Merah” dan “Tanah Air”, Seniman Rakyat Quang Thọ menyampaikan bahwa setiap kali menyanyikan melodi tersebut, ia teringat pada generasi yang berjuang dan berkorban dengan keyakinan teguh pada hari penyatuan nasional. Baginya, penampilan itu menjadi kesempatan mengenang masa lalu sekaligus menegaskan keyakinan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan generasi terdahulu akan terus dijunjung dan diteruskan.

Sementara itu, penyanyi Duyen Quynh membawakan tiga lagu, yakni “Epic of the Great Forest”, “Mother Still Waiting”, dan “Unknown Heroes”. Ia menyebut lagu-lagu tersebut memiliki makna khusus karena ditulis dan dinyanyikan dengan emosi atas pengorbanan generasi sebelumnya. Melalui musik, Duyen Quynh berharap setiap lirik dapat menjadi penghormatan kepada masa lalu dan menyampaikan kisah cinta tanah air serta pengorbanan yang abadi kepada pendengar masa kini.

Dengan pesan yang menghubungkan “Api Perdamaian” dan “Melanjutkan Kisah Perdamaian”, program ini disebut tidak hanya memberi penghormatan kepada putra-putri pemberani yang gugur demi Tanah Air, tetapi juga membangkitkan kebanggaan nasional serta menumbuhkan aspirasi untuk membangun negara yang semakin makmur.