Jakarta — Guntur Soekarno menerima Rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) atas kiprahnya di dunia musik bersama grup Aneka Nada dan Kwartet Bintang. Penghargaan itu diberikan untuk kategori putra presiden pertama yang membentuk grup band serta merekam karya dalam format piringan hitam.
Anugerah tersebut dijadwalkan diserahkan langsung oleh Jaya Suprana pada Kamis, 16 Juli 2026, di Museum Rekor Dunia-Indonesia, Gedung Jaya Suprana Institute.
Guntur Soekarno, yang akrab disapa Mas Tok, menyambut penghargaan itu dengan rasa terkejut. Ia mengatakan tidak pernah memikirkan, apalagi mengejar rekor. Menurutnya, aktivitas bermusik ia jalani sebagai bagian dari berkarya, mencari penghasilan, dan menikmati prosesnya.
Dalam keterangannya, Guntur juga menceritakan latar belakang ia menekuni musik pada masa kuliah. Saat diterima di Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1962, ia berupaya mencari penghasilan tambahan untuk kebutuhan kuliah dan tinggal di Bandung. Ia menyebut tidak ingin merepotkan ayahnya, Presiden pertama RI Ir. Soekarno.
Perjalanan bermusiknya antara lain dimulai ketika ia bergabung dengan Alulas Band yang dipimpin Syamsuddin di Bandung pada 1962. Setelah melewati serangkaian tes memainkan alat musik dan vokal, ia menjadi bagian dari grup tersebut.
Dari pengalaman itu, Guntur kemudian mempelopori terbentuknya kelompok musik Aneka Nada. Sejumlah personel yang disebut antara lain Syamsuddin, Iwan Abdurachman, Iman Djumaedi, Memet Slamet, Yessy Wenas, serta Alphonse. Aneka Nada dikenal sebagai wadah kreativitas musik bagi anak muda dan seniman pada masanya, serta kerap tampil di berbagai acara, termasuk di hotel-hotel di Bandung dan tempat pertunjukan lainnya.
Dalam aktivitas panggungnya, Guntur memainkan beberapa instrumen, seperti gitar, drum, dan vibraphone secara bergantian. Ia juga menyebut sempat menciptakan lagu, salah satunya berjudul “Masa Lalu”, serta membuat karya instrumentalia yang dibawakan bersama Aneka Nada.
Selain tampil, Guntur mendorong agar lagu-lagu yang dibawakan dapat direkam dalam format piringan hitam. Sebelum proses rekaman itu, ia membentuk grup beranggotakan empat orang bernama Kwartet Bintang, yang beranggotakan Guntur, Memet Slamet, Yessy Wenas, dan Dodo Rukanda Ishak. Melalui Aneka Nada dan Kwartet Bintang, rekaman piringan hitam tersebut akhirnya terwujud.
MURI menilai capaian itu sebagai karya yang unik dan yang pertama, sekaligus menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia era 1960-an. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi dan kontribusi Guntur Soekarno melalui Aneka Nada dan Kwartet Bintang.