BERITA TERKINI
Tran Tien Kembali ke Panggung, Nilai Musik AI Rapi namun Kurang Emosi

Tran Tien Kembali ke Panggung, Nilai Musik AI Rapi namun Kurang Emosi

Komposer Tran Tien kembali tampil setelah beberapa waktu vakum lewat konser “Living Room of 3 Generations No. 2” yang digelar pada 22 Agustus pukul 20.00 di Teater Ho Guom. Program ini merupakan bagian dari rangkaian konser langsung yang digagas komposer Duong Cam, yang juga bertindak sebagai direktur umum sekaligus direktur musik.

Konser tersebut dirancang sebagai “ruang tamu” bersama, tempat seniman lintas usia dapat bertemu, berbincang, dan saling memasuki dunia musik satu sama lain. Salah satu momen yang disebut istimewa pada malam kedua adalah reuni pertama tiga generasi keluarga Tran Tien di atas panggung, yakni Tran Tien, penyanyi Ha Tran, dan seniman muda Marzuz.

Menjelang pertunjukan, Tran Tien memaparkan alasan menerima undangan, pandangan kreatifnya, serta cara ia melihat generasi seniman muda. Ia menggambarkan dunia menulis sebagai kehidupan yang sederhana, bahkan penuh kemiskinan, namun tetap indah. Ia juga menyamakan program ini dengan sebuah jamuan, tempat para peserta bisa duduk, minum teh, dan berbincang layaknya kawan.

“Saya membandingkan pertunjukan ini dengan jamuan makan untuk ‘pahlawan’ dan ‘gangster,’ tetapi bukan untuk adu pedang atau pertandingan kompetitif,” ujar Tran Tien. Ia menekankan keyakinannya bahwa tidak ada persaingan di antara para penulis. Menurutnya, setiap penulis memiliki kenangan, pengalaman, dan jalur kreatif masing-masing yang tidak bisa dibandingkan untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Tran Tien juga mengungkap kebiasaannya yang tidak terlalu aktif mendengarkan komposisi orang lain, terutama karya seniman muda. Ia beralasan, terlalu banyak terpapar gaya orang lain dapat memengaruhi identitas kreatif seorang komposer. “Seorang musisi tidak pernah terlalu banyak mendengarkan orang lain. Jika mereka menemukan sesuatu yang terlalu bagus, mudah untuk terpengaruh,” katanya.

Ia menyinggung sejumlah nama besar musik Vietnam untuk menegaskan pentingnya menjaga jalur artistik masing-masing. Tran Tien menyebut Trinh Cong Son tidak terpengaruh oleh Pham Duy atau Van Cao. Ia juga mengatakan bahwa meski memiliki hubungan dekat dengan Trinh Cong Son, ia tetap berupaya melindungi dunia artistiknya sendiri.

Karena itu, sebelum pertemuan dalam program ini, Tran Tien mengaku hampir tidak pernah mendengar Marzuz bernyanyi dan tidak terlalu berusaha mempelajari para artis muda yang tampil. Menurutnya, “kurangnya pengetahuan” justru dapat menjadi titik awal dialog antar generasi yang lebih tulus. Dengan nada humor, ia mengatakan mengetahui bahwa mereka terkenal sudah cukup, dan menyamakan pertemuan itu sebagai kesempatan para “pahlawan” duduk bersama untuk berbisik dan mengobrol.

Dari sisi penyelenggara, Duong Cam menyebut reuni keluarga Tran Tien sebagai sesuatu yang telah ia tunggu selama bertahun-tahun. Ia mengingat kolaborasi terakhir mereka sekitar lima tahun lalu dalam sebuah program di Gedung Opera Besar Hanoi, saat Tran Tien baru menyelesaikan lagu “Never Give Up” setelah berjuang melawan penyakit.

“Saat itu, Paman Tran Tien menelepon saya dan berkata, ‘Saya baru saja selesai menulis sebuah lagu, tolong kirimkan ke Cam untuk dikerjakan.’ Bagi seorang musisi muda, itu adalah hadiah yang sangat besar,” kata Duong Cam.

Duong Cam menuturkan, setelah kolaborasi tersebut ia terus menyimpan keinginan untuk membuat program yang mendekatkan berbagai generasi seniman. Dalam episode kedua “Ruang Tamu Tiga Generasi”, ia menyebut mimpinya itu terwujud. Ia mengatakan ingin menggunakan musik sebagai “obat penyembuhan” untuk memperbaiki keretakan dan menjembatani kesenjangan generasi dalam keluarga.

Menurut Duong Cam, inti program bukan semata mempertemukan seniman terkenal, melainkan menciptakan ruang bagi orang-orang yang tampak berbeda untuk duduk bersama, mendengarkan, dan menemukan kesamaan yang mungkin belum mereka sadari. Melalui musik, generasi lebih tua dapat menceritakan perjalanan masa lalu, sementara generasi muda mengekspresikan pikiran dan perasaan pada masanya. Ketika kisah-kisah itu disandingkan, ia menilai jarak usia dapat dipersempit lewat empati.

Dalam percakapan menjelang konser, Tran Tien juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap penciptaan musik. Ia mengatakan tidak menentang AI, serta mengakui teknologi itu mampu menangani banyak pekerjaan teknis dengan presisi tinggi. Namun, ia menilai AI tidak dapat menggantikan emosi, pengalaman hidup, dan sentuhan pribadi seorang seniman.

“AI terdengar sangat halus dan akurat, tetapi kurang emosi. Saya tetap harus melakukan aransemennya. AI hanyalah asisten. Yang terpenting adalah mengetahui cara memberi perintah kepada AI,” ujar Tran Tien.