Film “Operasi Pesta Copet” merilis trailer perdana yang mengajak penonton melihat sisi lain festival musik—bukan semata euforia dan kebersamaan, melainkan keramaian yang menjadi ruang bagi kejahatan. Diproduksi oleh Imajinari, Angin Segar, dan BOSS Creator, film ini menempatkan suasana festival sebagai arena tempat para tokohnya menjalankan misi pencopetan.
Trailer memperkenalkan empat copet amatir: Ijal (Iqbaal Ramadhan), Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba). Mereka menyusup ke tengah lautan penonton Pestapora dengan tujuan menggasak sebanyak mungkin telepon genggam tanpa menarik perhatian. Dalam cuplikan yang ditampilkan, para tokoh mempelajari skena musik bukan untuk menjadi bagian dari komunitas penikmat konser, melainkan untuk mempermudah aksi mereka di tengah kerumunan.
Salah satu elemen yang ditonjolkan trailer adalah ketegangan saat ponsel dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Adegan-adegan itu disebut tidak hanya mengandalkan trik penyuntingan. Untuk membuat aksi terlihat meyakinkan, Iqbaal—yang juga menjalani debut sebagai produser film ini—bersama para pemain mengikuti workshop khusus bersama pesulap Bow Vernon.
“Sejak awal kami tidak mau yang nyopet adalah editing -nya,” ujar Iqbaal. “Jadi saya bersama para pemain benar-benar harus bisa nyopet. Kami latihan bersama Bow Vernon sampai akhirnya punya keterampilan itu.”
“Operasi Pesta Copet” dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus tahun ini. Film ini menggunakan Pestapora sebagai latar cerita melalui kolaborasi resmi dengan penyelenggaranya, sebuah pilihan yang membuat premisnya terdengar jenaka sekaligus provokatif karena menempatkan pencopet sebagai tokoh utama.
Meski begitu, trailer memberi isyarat bahwa film ini tidak sedang meromantisasi tindak kriminal. Cerita justru mengarah pada pembahasan tentang pilihan-pilihan yang muncul dari himpitan ekonomi, ketika kesempatan hidup terasa kian sempit dan sebagian orang memilih jalan pintas.
Di sisi lain, kolaborasi rumah produksi dengan Pestapora turut memunculkan pertanyaan: bagaimana sebuah festival musik memilih terlibat dalam cerita tentang pencopetan, yang selama ini menjadi salah satu kekhawatiran terbesar pengunjung konser.