Kerja sama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) selama satu dekade dinilai telah melahirkan generasi baru, mulai dari musisi, pengelola seni, hingga jejaring internasional yang memperkuat posisi DIY sebagai salah satu pusat pengembangan seni budaya di Indonesia.
Kolaborasi ini juga disebut membawa dampak yang melampaui panggung pertunjukan, antara lain penguatan ekosistem ekonomi kreatif, peningkatan daya tarik pariwisata, serta terbukanya peluang kerja sama yang lebih luas antara DIY dan Negara Bagian Victoria, Australia.
Komitmen untuk melanjutkan kemitraan memasuki dekade kedua disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kunjungan Chief Operating Officer (COO) MSO Suzanne Dembo dan Head of Operations MSO Callum Moncrieff di Gedhong Wilis Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (15/7/2026).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY Ghofar Ismail mengatakan, tahun depan menjadi momentum istimewa karena menandai 10 tahun hubungan kerja sama antara Pemerintah Daerah DIY dan Pemerintah Negara Bagian Victoria. Menurutnya, berbagai program yang telah dijalankan bersama selama ini membuka ruang kolaborasi produktif di bidang seni, budaya, pendidikan, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Harapan Bapak Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, adalah hubungan yang sudah terjalin baik ini terus dipertahankan dan diperkuat melalui kegiatan-kegiatan nyata. Kerja sama ini bukan hanya soal pertukaran program, tetapi juga upaya bersama mengembangkan kreativitas dan memperluas akses masyarakat terhadap seni dan budaya,” ujar Ghofar.
Ghofar juga menyampaikan cerita Sri Sultan mengenai perkembangan musik orkestra di DIY yang dinilai memiliki karakter berbeda dibandingkan di banyak negara Barat. Jika konser orkestra umumnya berlangsung di gedung pertunjukan dengan penonton duduk di kursi, di DIY masyarakat dapat menikmati musik orkestra secara lebih dekat dan inklusif, termasuk melalui konsep lesehan di ruang terbuka.
Pendekatan tersebut, kata Ghofar, mampu menarik antusiasme publik. Ia menyebut konser orkestra di DIY dapat dihadiri lebih dari 2.000 penonton dalam satu pertunjukan, melampaui rata-rata kehadiran konser orkestra di sejumlah negara Barat yang umumnya hanya mencapai ratusan penonton.
“Hal ini menunjukkan bahwa musik orkestra di DIY telah menjadi bagian dari ruang budaya yang terbuka dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas,” ujar Ghofar.
Ia menambahkan, semangat keterbukaan itu menjadi salah satu kekuatan utama kerja sama DIY dan MSO. Kolaborasi yang dibangun tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem seni yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Dampaknya disebut telah dirasakan oleh sektor ekonomi kreatif dan pariwisata melalui berbagai agenda seni dan budaya bertaraf internasional.
Sri Sultan berharap kerja sama yang telah terjalin selama satu dekade dapat terus berkembang ke sektor strategis lain. Selain seni dan budaya, kolaborasi DIY dan Victoria juga diharapkan semakin memperkuat pariwisata, perdagangan, dan investasi, termasuk melalui konektivitas penerbangan yang lebih baik antara Australia dan DIY.
Sementara itu, COO MSO Suzanne Dembo menyampaikan kebanggaannya atas perjalanan kerja sama yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Ia menilai kemitraan MSO dan DIY menunjukkan dampak nyata, terutama dalam pengembangan generasi muda di bidang musik.
“Kami sangat bahagia bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Setiap tahun kualitas peserta Youth Music Camp terus meningkat. Standar dan kemampuan mereka semakin baik, dan itu menunjukkan program ini benar-benar memberikan dampak positif,” ujar Suzanne.
Selain Youth Music Camp, Suzanne menyebut kolaborasi juga diwujudkan melalui Art Management Workshop yang telah melahirkan generasi baru pengelola seni pertunjukan dengan kapasitas yang semakin profesional. Menurutnya, salah satu capaian penting dari kerja sama tersebut adalah menguatnya jejaring seni internasional Yogyakarta, termasuk hubungan Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dengan berbagai institusi seni dunia.
MSO, kata Suzanne, merasa memiliki kedekatan khusus karena turut berkontribusi pada tahap awal pembentukan YRO yang kini berkembang menjadi salah satu kekuatan musik orkestra di Indonesia. Bagi MSO, kemitraan ini tidak dipandang sebagai proyek yang memiliki titik akhir, melainkan siklus yang terus tumbuh dan berkelanjutan.
Dalam kelanjutan program, sejumlah peserta Youth Music Camp disebut akan memperoleh kesempatan mengikuti program magang di markas MSO di Melbourne selama sekitar satu bulan pada Oktober 2026. Sekembalinya ke DIY, mereka diharapkan berbagi pengalaman dan mengembangkan proyek seni bersama komunitas maupun institusi budaya di daerah.
“Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Keberlangsungan kerja sama ini menunjukkan kuatnya persahabatan yang telah dibangun antara MSO dan Pemda DIY. Kami yakin kemitraan ini akan terus tumbuh dan memberikan manfaat yang semakin besar pada masa mendatang,” kata Suzanne.
Tahun depan, Sri Sultan juga dijadwalkan menghadiri peringatan satu dekade hubungan kerja sama Pemda DIY dan Victoria di Australia. Momentum tersebut diharapkan menjadi tonggak baru untuk memperluas kolaborasi yang selama ini telah terjalin melalui jalur kebudayaan.
Memasuki dekade kedua, DIY dan MSO sepakat memperkokoh kemitraan berkelanjutan agar manfaatnya semakin besar bagi kebudayaan, perekonomian, dan masyarakat kedua wilayah. Kolaborasi ini juga diarahkan sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi kreatif, memperluas jejaring internasional, serta memperkuat posisi DIY sebagai simpul diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.