DENPASAR — Sanggar Eka Mahardika Putra menampilkan pergelaran musik bertajuk “Sang Surya Sampun Metangi” dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Selasa (14/6/2026). Pertunjukan ini mengusung konsep rangkaian lagu yang disusun saling berkaitan sehingga membentuk alur cerita tentang kehidupan, alam, budaya, serta harapan masa depan.
Dalam pementasan tersebut, sanggar menghadirkan sepuluh lagu yang dirajut menjadi satu kesatuan narasi. Meski tidak menampilkan tokoh secara lengkap sebagaimana pementasan fragmentari, setiap lagu ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan kisah, membuat penonton mengikuti jalannya pertunjukan hingga akhir.
Melalui karya ini, Sanggar Eka Mahardika Putra memadukan musik pop modern dengan kekuatan gamelan Bali. Perpaduan instrumen diatonis, pentatonis, slendro, pelog, hingga nada kromatis menghadirkan warna musik baru tanpa meninggalkan karakter budaya Bali. Selain kemampuan vokal, para seniman remaja dan anak-anak juga menampilkan unsur tari dengan properti seperti kipas dan bunga.
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut menyaksikan pertunjukan tersebut dan mengapresiasi kreativitas generasi muda Bali yang dinilainya mampu menghadirkan karya inovatif dengan tetap menjaga akar budaya daerah.
“Baru tiga lagu saya menonton, tetapi luar biasa. Saya senang sekali melihat talenta-talenta muda Bali yang masih terus diasah melalui kegiatan seperti Bali Jani,” ujar Ny. Putri Koster.
Ia menilai perkembangan musik pop Bali saat ini menunjukkan arah yang positif. Menurutnya, musik modern tetap dapat berkembang dengan memasukkan unsur budaya lokal, termasuk gamelan Bali.
“Musiknya memang pop modern, tetapi akar budayanya tetap terasa. Nuansa gamelan Bali tetap terdengar sehingga menjadi sesuatu yang unik,” ujarnya.
Ny. Putri Koster juga berharap para seniman Bali terus menghasilkan karya kreatif yang menjunjung nilai budaya, etika, dan estetika. Ia menekankan pentingnya perluasan ruang berkesenian bagi generasi muda agar kreativitas mereka dapat terus berkembang.
Pendiri Sanggar Eka Mahardika Putra sekaligus penata vokal, musik, tabuh, pencipta lagu, dan arranger, Drs. I Gede Eka Putra, mengatakan pertunjukan ini mengusung konsep kolaborasi etnik yang memadukan tradisi dan modernitas.
“Kami menampilkan kolaborasi etnik dengan tetap berakar pada kesenian tradisional, tetapi digarap secara modern. Ini bukan pop band biasa, melainkan perpaduan musik diatonis, pentatonis, slendro, pelog, sampai nada kromatis yang kita satukan,” jelasnya.