BERITA TERKINI
MUSWIL ICMI Jatim 2026 Angkat LPJ, Gagasan ICMI 2045, dan NPSIS sebagai Kontribusi Tata Kelola Negara

MUSWIL ICMI Jatim 2026 Angkat LPJ, Gagasan ICMI 2045, dan NPSIS sebagai Kontribusi Tata Kelola Negara

SURABAYA — Musyawarah Wilayah (MUSWIL) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur yang digelar Sabtu, 4 Juli 2026, di Kampus Universitas Airlangga Surabaya, tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan. Forum ini juga diarahkan sebagai ruang pertanggungjawaban, pewarisan gagasan, serta kontribusi intelektual bagi masa depan umat, bangsa, dan negara.

Ketua ICMI Jawa Timur periode 2021–2026, Ulul Albab, memaparkan tiga agenda utama dalam MUSWIL tersebut. Tiga agenda itu meliputi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan 2021–2026, pemaparan buku “ICMI 2045: Dari Organisasi Cendekiawan Menuju Arsitek Peradaban Indonesia”, serta pengenalan gagasan NPSIS (National Public Spending Intelligence System) yang ditawarkan sebagai kontribusi pemikiran untuk memperkuat tata kelola negara di era kecerdasan buatan.

Panitia menjelaskan, penyusunan tiga agenda besar itu dimaksudkan agar MUSWIL tidak berhenti pada aspek administratif, melainkan menjadi forum yang lebih substantif dan strategis. Dengan format tersebut, pembahasan tidak semata soal siapa yang akan memimpin ICMI Jawa Timur ke depan, tetapi juga gagasan apa yang hendak diwariskan dan kontribusi apa yang dapat diberikan ICMI bagi Indonesia.

Dalam agenda pertama, Ulul Albab menyampaikan LPJ kepengurusan 2021–2026 sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah kepada anggota dan publik. LPJ itu memotret perjalanan lima tahun ICMI Jawa Timur, antara lain dalam upaya memperkuat fondasi organisasi, merawat tradisi intelektual, membangun kolaborasi strategis, memperluas pengaruh publik, serta menjalankan program yang menyentuh isu pendidikan, dakwah, kebijakan publik, anti-korupsi, ekonomi umat, hingga Indonesia Emas 2045.

Agenda kedua berfokus pada pemaparan buku “ICMI 2045” yang disiapkan sebagai warisan pemikiran bagi kepengurusan dan generasi ICMI berikutnya. Buku tersebut berangkat dari kegelisahan bahwa perubahan dunia berlangsung sangat cepat, sementara organisasi cendekiawan dinilai tidak cukup jika hanya berkutat pada pengelolaan kegiatan.

Melalui buku itu, ICMI diajak membaca ulang peran sejarahnya dan bertransformasi dari organisasi cendekiawan menjadi organisasi kepemimpinan gagasan (thought leadership organization), bahkan arsitek peradaban Indonesia. Sejumlah gagasan yang dirumuskan mencakup peran ICMI sebagai think tank kebangsaan, inkubator pemimpin masa depan, jembatan ilmu dan kebijakan, penggerak ekosistem inovasi umat, hingga penjaga arah peradaban Indonesia menuju 2045.

Agenda ketiga adalah pengenalan NPSIS, gagasan sistem kecerdasan belanja publik nasional yang dirancang untuk membantu negara membaca risiko kebocoran anggaran, anomali belanja, dan potensi penyimpangan sejak dini. Gagasan ini disebut lahir dari keprihatinan bahwa negara memiliki data yang sangat besar, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi kecerdasan pengawasan yang terpadu.

Melalui NPSIS, Ulul Albab mendorong tata kelola negara yang lebih cerdas, prediktif, transparan, dan amanah, sehingga pengelolaan uang publik tidak hanya bergantung pada niat baik, tetapi juga ditopang sistem yang cerdas, etis, dan mampu membaca risiko sebelum terlambat.

Bagi ICMI Jawa Timur, rangkaian agenda tersebut menegaskan bahwa MUSWIL tidak semata forum memilih ketua baru, melainkan momentum untuk mempertanggungjawabkan amanah, mewariskan arah pemikiran, dan menegaskan kontribusi cendekiawan Muslim bagi masa depan Indonesia. Forum ini juga diharapkan menjadi contoh bahwa organisasi intelektual dapat memadukan kerja organisasi, produksi gagasan, dan keberanian menawarkan solusi atas persoalan bangsa.

“Amanah harus dipertanggungjawabkan. Gagasan harus diwariskan. Dan kontribusi untuk negeri harus terus dihidupkan. Karena itu MUSWIL ICMI Jawa Timur kami desain bukan hanya sebagai forum organisasi, tetapi sebagai forum peradaban,” demikian pesan yang disampaikan sebagai semangat utama forum tersebut.

MUSWIL ICMI Jawa Timur 2026 dihadiri unsur pengurus wilayah, pengurus daerah, tokoh cendekiawan Muslim, akademisi, mitra strategis, serta berbagai elemen yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan ICMI Jawa Timur. Dengan format tersebut, ICMI Jawa Timur berharap MUSWIL melahirkan kepemimpinan baru, kesinambungan gagasan, dan energi baru bagi peran cendekiawan Muslim di Jawa Timur dan Indonesia.