Musik kian menjadi sarana yang dipilih anak muda untuk meredakan stres. Di tengah tekanan akademik, persoalan sosial, hingga kekhawatiran ekonomi, mendengarkan lagu dinilai membantu regulasi emosi dan memperbaiki suasana hati.
Perkembangan teknologi turut mengubah cara orang menikmati musik. Jika dulu radio menjadi medium utama untuk mendengarkan lagu sembari beraktivitas atau bersantai, kemunculan teknologi rekaman seperti piringan hitam dan kaset pada awal abad ke-20 membuat musik dapat dinikmati kapan saja. Kini, layanan streaming seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube memperluas akses terhadap ribuan lagu yang bisa dipilih sesuai kebutuhan pendengar.
Kemudahan akses tersebut membuat musik semakin lekat dengan keseharian. Banyak pendengar memilih genre atau lagu tertentu untuk menenangkan diri, meningkatkan mood, atau mengalihkan pikiran dari masalah harian. Studi dalam The Psychology of Music (Hargreaves, 2012) juga menyebutkan bahwa mendengarkan musik secara langsung dapat meningkatkan koneksi emosional dan sosial antarindividu, sekaligus membantu meredakan ketegangan serta kecemasan dalam suasana interaksi.
Di kalangan generasi muda, musik tidak hanya dipakai sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media ekspresi diri. Melalui lagu, mereka dapat menyalurkan emosi dan pikiran yang sulit diungkapkan, sekaligus menjadikannya alat untuk mengelola tekanan hidup.
Salah satu pemicu stres yang banyak dialami anak muda adalah tuntutan akademik. Beban tugas, ujian, serta harapan dari orang tua dan lingkungan kerap memicu kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri. Pascoe, Hetrick, dan Parker (2020) menemukan bahwa tuntutan akademik yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan kesejahteraan psikologis.
Dalam sejumlah kajian, musik disebut memiliki dampak psikologis dan turut digunakan dalam penanganan masalah psikologis. Musik dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan diri, penurunan depresi dan kecemasan, serta penguatan rasa kemandirian. Penelitian “Pengaruh Musik Terhadap Tingkat Stres Pada Remaja” juga menyebutkan musik dapat mengurangi ketegangan dan iritabilitas pada individu yang mengalami masalah emosional dan stres, serta membantu menenangkan dan memperbaiki persoalan tidur.
Bagi sebagian anak muda, mendengarkan musik menjadi kebiasaan harian untuk mengurangi rasa cemas atau melampiaskan emosi sementara waktu. Irama yang tenang, lambat, dan penggunaan instrumen yang tidak terlalu kompleks disebut dapat membantu menenangkan suasana hati. Dalam penelitian yang dikutip, musik juga dinilai mampu mengurangi respons fisiologis terhadap kecemasan dan stres dengan mengatur ritme tubuh seperti pernapasan, detak jantung, berbicara, dan aliran darah.
Selain akademik, tekanan ekonomi dan lingkungan sosial juga kerap membebani. Kekhawatiran terkait biaya UKT, pemenuhan kebutuhan hidup, hingga ketidakpastian finansial keluarga menjadi faktor yang sering disebut. Di lingkungan kompetitif, terutama di kota besar, sebagian anak muda juga merasa tertekan oleh gaya hidup materialistis dan standar pencapaian yang ikut dibentuk media sosial.
Dalam konteks konsumsi musik digital, data demografi gender Spotify yang disebutkan dalam naskah menyatakan pendengar harian terdiri dari 56% perempuan dan 44% laki-laki. Gambaran ini digunakan untuk menunjukkan tingginya minat mendengarkan musik, khususnya di kalangan generasi muda.
Pemilihan musik dengan lirik yang membangkitkan semangat juga disebut dapat membantu mengurangi stres karena memberi pengalihan dari pikiran negatif. Jurnal Antalogi Pendidikan Musik menjelaskan hal tersebut dikaitkan dengan pengaruh musik terhadap regulasi hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres, serta dopamin yang berhubungan dengan rasa senang dan motivasi.
Dengan berbagai tekanan yang dihadapi, musik pada akhirnya dipandang sebagai salah satu cara yang mudah diakses untuk membantu anak muda menurunkan stres, memperbaiki suasana hati, dan mengelola emosi dalam keseharian.