BERITA TERKINI
MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Gelar MATAMUDA 2026/2027, Bahas Etika Pergaulan hingga Kesehatan Reproduksi Remaja

MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Gelar MATAMUDA 2026/2027, Bahas Etika Pergaulan hingga Kesehatan Reproduksi Remaja

MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng kembali menggelar Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan orientasi yang berlangsung selama dua hari, 8–9 Juli 2026, ini dipusatkan di Aula Utama Madrasah dan diikuti 264 peserta didik baru.

Rangkaian hari pertama dibuka melalui penyematan tanda peserta. Setelah itu, peserta mengikuti pengenalan struktur manajemen madrasah, jajaran wali kelas, pengenalan Kurikulum Merdeka, eksplorasi stan ekstrakurikuler, serta sosialisasi tata tertib asrama dan sekolah formal.

Dalam sesi wawasan hubungan kemasyarakatan, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kerja Sama dan Teknologi Informasi, Miftachur Rohman, S.H.I., menyampaikan penjelasan mengenai tata krama pergaulan harian. Ia menekankan penerapan metode bersalaman yang benar sesuai nilai-nilai syariat Islam.

“Tidak bersalaman dengan lawan jenis,” kata Miftachur Rohman, Rabu (08/07/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa guru merupakan orang tua pengganti selama siswa berada di lingkungan madrasah. Karena itu, kedisiplinan dan sopan santun perlu dijaga, termasuk membiasakan meminta izin secara resmi ketika hendak meninggalkan ruang kelas.

Selain itu, Miftachur mengajak murid baru mempraktikkan gerakan 5S—senyum, salam, sapa, sopan, dan santun—yang dipadukan dengan konsep lingkungan hidup 5K, yakni kebersihan, kesehatan, keindahan, ketertiban, dan kerapian.

Kepala MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Iskandar, S.H.I., S.Pd.I., menjelaskan MATAMUDA menjadi sarana penting agar siswa mengenali lingkungan belajar secara menyeluruh sejak awal. Orientasi tersebut juga dirancang untuk menyamakan persepsi terkait target pembelajaran yang akan dicapai dalam beberapa tahun ke depan.

Iskandar turut menyoroti pentingnya materi kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi remaja. Menurutnya, siswa baru berada dalam masa transisi dari usia anak-anak menuju remaja, sehingga perubahan biologis memerlukan pendampingan yang tepat dari pihak sekolah.

“Fase mereka ini merupakan fase perubahan. Mereka mengalami perubahan dalam diri maupun kesehatan reproduksi. Mohon maaf, biasanya anak yang mengalami menstruasi pertama kali masih bingung. Nanti kita edukasi tentang itu,” ujar Iskandar.

Pihak madrasah berharap kenyamanan yang dibangun sejak hari pertama orientasi dapat menjadi modal bagi siswa untuk menyerap pelajaran secara optimal.

Rangkaian materi yang variatif itu mendapat respons positif dari peserta. Keyla Azkia Nur Afida, siswi baru asal Surabaya, mengaku senang karena dapat cepat akrab dengan teman-teman baru, sekaligus menilai lingkungan asrama bersih dan ramah.

Sementara itu, Muhammad Fatih Ridwan Nasrullah, siswa baru asal Sidoarjo, mengatakan telah mengenal sekitar 50 teman baru selama dua hari orientasi. Ia juga memasang target untuk bergabung dengan ekstrakurikuler Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) madrasah guna mengasah bakat kepemimpinannya.