BERITA TERKINI
Mengapa Selera Musik Kerap Terhenti di Masa Lalu? Menelusuri Jejak Emosi dan Ingatan

Mengapa Selera Musik Kerap Terhenti di Masa Lalu? Menelusuri Jejak Emosi dan Ingatan

Perjalanan pulang kerja dari Jakarta menuju Bogor kerap menjadi ruang ritual bagi pikiran yang lelah setelah seharian beraktivitas. Di tengah kemacetan atau laju Kereta Commuter yang konstan, earphone terpasang, sementara deretan lagu dari berbagai playlist di ponsel menjadi penopang emosi.

Playlist itu bukan sekadar kumpulan lagu acak. Ia tersusun rapi seperti kapsul waktu, terbagi ke dalam tiga zona: far from current, less current, dan current. Ragam musiknya berputar di sekitar jazz dan “the hard one”, serta satu bagian lagu Indonesia yang didominasi era 1990-an.

Bagi sebagian orang, rentang genre tersebut mungkin terasa ekstrem. Dalam satu perjalanan yang sama, pendengaran bisa berpindah dari kelembutan melodi jazz yang intim ke hentakan distorsi berat dari “the hard one”, berisi lagu-lagu metal seperti Iron Maiden atau Metallica.

Pengalaman harian itu memicu perenungan: mengapa selera musik terasa seperti stuck, seolah memiliki sekat-sekat waktu yang begitu spesifik? Mengapa ketika memasuki usia dewasa, seseorang bisa menjadi sangat pilih-pilih dan tampak “terhenti” pada cetakan masa lalu, sambil menyaring ketat musik dari era masa kini?

Untuk mencari jawabannya, penulis melakukan riset kecil-kecilan melalui mesin pencarian Google saat menunggu laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Spanyol versus Belgia. Hasilnya mengarah pada satu kesimpulan: fenomena selera musik yang seolah “berhenti” di era tertentu—umumnya pada masa remaja hingga awal kedewasaan—merupakan hal yang organik dan lazim terjadi pada banyak orang.

Dengan kata lain, pengalaman ini bukan sesuatu yang dialami sendirian. Selera musik yang bertahan pada periode tertentu juga tidak otomatis berarti seseorang “rusak”, kolot, atau tertinggal zaman. Ada kaitan sains, psikologi, serta cetak biru emosional di dalam otak yang dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi.

Salah satu konsep yang kerap digunakan untuk memahami pola tersebut adalah Musical Reminiscence Bump. Untuk mengerti mengapa bagian less current—yang berisi lagu-lagu dari akhir 1980-an hingga awal 2000-an—terasa begitu kuat, perhatian perlu diarahkan pada rentang usia sekitar 10 tahun hingga awal sampai pertengahan 20-an.

Dalam psikologi kognitif, periode itu sering dipandang sebagai jendela emas pembentukan identitas. Musik yang didengar pada masa tersebut cenderung terekam dengan intensitas tinggi dan meninggalkan jejak yang sulit ditandingi oleh musik pada fase kehidupan berikutnya.

Daniel Levitin, neurosaintis sekaligus penulis buku This Is Your Brain on Music, The Science of a Human Obsession, menjelaskan masa remaja sebagai periode “badai emosi” yang kuat. Di fase itu, seseorang kerap mengalami pengalaman emosional penting: jatuh cinta untuk pertama kali, patah hati untuk pertama kali, serta mulai mencari tahu siapa dirinya di dunia. Dalam konteks inilah, musik tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan penanda memori dan emosi yang melekat lama.