Perjalanan pulang kerja dari Jakarta menuju Bogor kerap menjadi momen pemulihan setelah hari yang padat. Di tengah kemacetan atau laju Kereta Commuter yang konstan, earphone terpasang dan deretan lagu dari berbagai playlist di ponsel menjadi semacam penyangga emosi.
Playlist itu bukan sekadar kumpulan lagu acak. Isinya tersusun seperti kapsul waktu dengan tiga pembagian: far from current, less current, dan current. Genre yang mengisi berputar di sekitar jazz dan “the hard one”, serta ada bagian lagu Indonesia yang didominasi era 1990-an.
Rentang selera tersebut bisa terasa ekstrem. Dalam satu perjalanan, telinga dapat berpindah dari kelembutan melodi jazz yang intim ke hentakan distorsi berat dari “the hard one”, yang memuat lagu-lagu metal seperti Iron Maiden atau Metallica.
Kebiasaan harian itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar: mengapa selera musik terasa cenderung “stuck” atau sulit bergerak, seolah memiliki sekat waktu yang sangat spesifik? Mengapa ketika memasuki usia dewasa seseorang justru menjadi lebih pilih-pilih, seakan “terhenti” pada cetakan masa lalu, sambil menyaring ketat musik dari era kini?
Melalui penelusuran sederhana di mesin pencarian, ditemukan bahwa fenomena selera musik yang seolah “berhenti” pada era tertentu—biasanya masa remaja hingga awal kedewasaan—merupakan hal yang umum terjadi. Kondisi ini tidak otomatis berarti seseorang kolot atau tertinggal zaman. Ada kaitan antara sains, psikologi, dan pola emosional dalam otak yang dapat menjelaskannya.
Untuk memahami mengapa bagian less current—yang berisi lagu-lagu dari akhir 1980-an hingga awal 2000-an—terasa begitu kuat, penjelasan kerap merujuk pada periode usia sekitar 10 hingga awal sampai pertengahan 20-an. Dalam psikologi kognitif, fase ini disebut sebagai masa emas pembentukan identitas. Musik yang didengar pada periode tersebut cenderung terekam dengan intensitas yang sulit ditandingi oleh musik pada fase kehidupan berikutnya.
Fenomena ini dikenal sebagai Musical Reminiscence Bump. Neurosaintis sekaligus penulis buku This Is Your Brain on Music, The Science of a Human Obsession, Daniel Levitin, menjelaskan bahwa masa remaja adalah periode ketika manusia mengalami “badai emosi” yang kuat. Pada fase ini, seseorang mengalami pengalaman-pengalaman awal yang membekas—seperti jatuh cinta pertama, patah hati pertama, dan proses mencari tahu identitas diri di dunia.