BERITA TERKINI
Mahasiswa Korea Selatan dan Bali Pentaskan “Pangeran Kodok” dengan Paduan Musik Dua Negara

Mahasiswa Korea Selatan dan Bali Pentaskan “Pangeran Kodok” dengan Paduan Musik Dua Negara

Kolaborasi mahasiswa Korea Selatan dan Bali menghadirkan pementasan berjudul Pangeran Kodok dengan memadukan unsur musik dan ekspresi panggung dari dua negara. Dalam pertunjukan, mahasiswa dari Korea Selatan tampil mengenakan hanbok, pakaian tradisional setempat.

Nuansa dramatik dibangun sejak bagian awal melalui bunyi suling bambu panjang (daegeum) dan alat musik gesek (haegeum). Keduanya berpadu dalam tetabuhan berjudul Bayu Nada.

Koreografer sekaligus budayawan Prof. I Wayan Dibia menjelaskan, gagasan pementasan ini muncul seiring adanya pertukaran akademik antara dua institusi pendidikan. Karya tersebut terinspirasi dari cerita rakyat Bali, yang mengisahkan seekor kodok melakukan penyucian diri untuk menemukan wujud aslinya sebagai manusia yang utuh.

Dalam alur cerita, atas petunjuk Dewata Agung, topeng kodok yang dikenakan tokoh utama terlepas. Ia kemudian kembali ke wujud semula sebagai Pangeran Jenggala.

Prof. Dibia menyebut proses penciptaan karya bersama ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya kendala bahasa, karena tidak semua mahasiswa Korea Selatan dapat berbahasa Inggris. Meski demikian, hal itu dinilai tidak menjadi hambatan berarti, di tengah perbedaan karakter dan pakem masing-masing budaya.

“Tidak semua berbahasa Inggris, tapi itu bukan alasan dan hambatan. Paling penting adalah dapat menyajikan sebuah cerita rakyat yang populer di kalangan masyarakat Korea Selatan. Di Bali pun punya cerita ini, dan mereka juga memiliki ekspresi kerakyatan yang memudahkan kolaborasi,” ujarnya.

Kolaborasi ini melibatkan 25 seniman dari Korea Selatan dan 15 mahasiswa dari Bali.