Komunitas pencinta musisi legendaris Gombloh, Memories of Gombloh (Mogers), menyampaikan tiga usulan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebagai bentuk penghormatan dan pengabadian nama sang musisi.
Usulan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya di Gedung Mall Pelayanan Publik, Rabu, 15 Juli 2026.
Tiga poin yang diajukan Mogers meliputi penyematan nama Gombloh untuk salah satu gedung di kompleks Balai Pemuda Surabaya, pemberian nama Jalan Gombloh pada salah satu ruas jalan di Surabaya, serta penetapan 12 Juli—tanggal yang disebut sebagai hari lahir Gombloh—sebagai Hari Musik Surabaya atau Hari Gombloh.
Perwakilan Mogers, Esthi Susanti Hudiono, menilai karya-karya Gombloh memiliki peran besar dalam menumbuhkan nasionalisme, kesadaran lingkungan, dan kepedulian sosial di kalangan generasi muda. Ia menyebut sudah semestinya Pemkot Surabaya memberikan apresiasi yang konkret.
Perwakilan Mogers lainnya, Affandy Willy Yusuf, menyayangkan masih minimnya penghargaan lokal untuk Gombloh, meski kontribusinya dinilai telah diakui secara nasional. Affandy mencontohkan salah satu penghargaan yang diterima Gombloh, yakni Bintang Budaya Parama Dharma yang disebut diserahkan oleh Presiden RI pada tahun ini. Menurutnya, Surabaya masih perlu memberikan penghormatan yang sepadan kepada tokoh yang dianggap turut membesarkan kota tersebut.
Menanggapi usulan Mogers, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya, Prof. Purnawan Basundoro, menyatakan dukungan terhadap aspirasi tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya kajian mendalam, khususnya terkait rencana penamaan gedung di kawasan Balai Pemuda.
Menurut Purnawan, Balai Pemuda memiliki sejarah panjang yang terkait dengan lahirnya banyak pejuang dan seniman lintas disiplin. Karena itu, ia menilai riset diperlukan agar penyematan nama tidak mengurangi nilai historis kompleks tersebut.