BERITA TERKINI
Komposer Duc Thinh: Terapi suara bukan sekadar relaksasi, tetapi mengajak orang menghadapi luka batin

Komposer Duc Thinh: Terapi suara bukan sekadar relaksasi, tetapi mengajak orang menghadapi luka batin

Komposer Vietnam Duc Thinh menceritakan pergeseran perannya dari mengelola pertunjukan musik langsung menuju ruang terapi suara yang lebih hening. Menurutnya, perubahan itu bukan berarti meninggalkan dunia lama untuk mengejar hal baru, melainkan upaya menggali kembali esensi paling dasar dari musik.

Duc Thinh menilai masyarakat modern membayar harga mahal dari laju urbanisasi yang cepat. Ia mengutip perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa stres psikologis dan gangguan kecemasan menyebabkan kerugian ekonomi global sekitar 1 triliun dolar AS per tahun akibat turunnya produktivitas tenaga kerja. Di Vietnam, ia menyebut hingga 15% penduduk mengalami persoalan kesehatan mental yang tidak terucapkan. Setelah bertahun-tahun berada di balik sorotan panggung, ia mengaku melihat kelelahan yang kerap tersembunyi di balik tepuk tangan penonton.

Titik balik pemikirannya, kata dia, muncul saat bekerja bersama Profesor Tran Van Khe. Dari sang profesor, ia memegang satu kalimat yang kemudian menjadi prinsip: “Lagu pengantar tidur seorang ibu adalah frekuensi penyembuhan.” Bagi Duc Thinh, inti lagu pengantar tidur dan musik tradisional bukan semata untuk kenikmatan pendengaran, melainkan membawa sistem energi yang turut mengatur pikiran dan tubuh.

Ia menjelaskan istilah “terapi suara” merupakan terjemahan harfiah dari istilah internasional. Konsep “mandi suara”, menurutnya, menekankan bahwa seseorang bukan hanya mendengar dengan telinga, tetapi juga menyerap frekuensi melalui seluruh tubuh.

Duc Thinh menolak anggapan bahwa praktik tersebut sekadar tren baru. Ia menyebut, sekitar 7.000 tahun lalu di Turki, sudah ada rumah sakit kuno yang menangani terapi suara. Pasien, katanya, berbaring sambil mendengarkan bunyi lembut air terjun, terompet, dan lonceng untuk memulihkan energi mental, mengurangi stres, dan membantu tidur. Ia juga menyinggung pemanfaatan suara alam seperti hujan yang jatuh sebagai cara menenangkan pikiran, karena gelombang suara hujan dinilainya merata dan dapat menciptakan lingkungan “mandi suara” yang murni.

Menurut Duc Thinh, tubuh manusia terdiri sekitar 70% air dan air merupakan penghantar gelombang mekanik yang baik. Karena itu, ketika ia menggunakan lonceng air atau lonceng kristal kuarsa, gelombang suara dinilainya tidak hanya masuk melalui telinga, tetapi juga meresap ke aliran cairan di setiap sel lewat resonansi. Ia menyebut proses tersebut dapat menggeser gelombang otak dari kondisi Beta yang tegang menuju Alpha dan Theta, yang ia gambarkan sebagai area relaksasi dan kewaspadaan mendalam.

Dalam pandangannya, musik relaksasi dan terapi musik memiliki tujuan yang berbeda. Musik relaksasi, kata dia, cenderung menyenangkan dan memanjakan, sementara terapi musik justru seperti “pil pahit” karena mendorong seseorang menembus rasa sakit. Ia mengaku kerap memakai bunyi sitar India atau frekuensi rendah seperti 171 Hz yang pada awalnya bisa terdengar mengganggu, menyeramkan, dan tidak nyaman. Namun, ketika seseorang membiarkan diri tenang, ia menilai frekuensi tersebut dapat memberi “pijatan dan pembersihan” mendalam di korteks serebral, memaksa orang menghadapi sisi gelap dan trauma—bahkan sampai menangis—sebelum akhirnya merasakan ketenangan.

Duc Thinh juga mengingat mendiang adik sekaligus sahabatnya, pemain saksofon Xuan Hieu. Ia mengutip perkataan Hieu yang baru benar-benar ia pahami ketika mulai menyentuh lonceng terapi suara: saat saksofon dimainkan, pemain dan instrumen seolah menjadi satu, dan getarannya memengaruhi gigi serta menggetarkan struktur kerangka. Bagi Duc Thinh, inti terapi suara tingkat dalam adalah getaran fisik pada struktur kerangka tersebut.

Saat ini, ia mengatakan tengah berkolaborasi dengan sejumlah spesialis ortopedi dan psikologi untuk mengukur respons fisik gelombang suara terhadap tubuh manusia. Dari temuan yang ia sebut sementara, frekuensi getaran mekanis yang tepat dinilai dapat membantu pemulihan pascaoperasi dan memberikan peredaan nyeri mekanis.

Duc Thinh menegaskan ia tidak ingin sekadar meniru desain terapi suara dari Barat. Ia berpendapat kebiasaan mendengar dan “frekuensi budaya” masyarakat Barat berbeda dengan masyarakat Vietnam. Bagi orang Vietnam, bunyi đàn bầu, đàn tranh, atau seruling bambu, menurutnya, sudah tertanam dalam alam bawah sadar.

Karena itu, ia menyebut tengah meneliti proyek untuk mengintegrasikan alat musik tradisional Vietnam ke dalam sistem frekuensi penyembuhan Barat yang terstandarisasi. Ia meyakini, ketika bunyi musik tradisional beresonansi, ia dapat mengaktifkan ingatan budaya dan kebanggaan yang mendasarinya, sehingga meningkatkan efektivitas terapi psikologis. Melalui jalur ini, Duc Thinh ingin mendorong terapi penyembuhan dengan identitas khas Vietnam agar dikenal lebih luas.