BERITA TERKINI
Fengshui Ajak Sejumlah Kolektif Bicara soal Menggelar Acara Musik di Situasi yang Kian Tak Menentu

Fengshui Ajak Sejumlah Kolektif Bicara soal Menggelar Acara Musik di Situasi yang Kian Tak Menentu

Kolektif musik Fengshui, yang lahir dari lingkungan kampus Universitas Prof. Dr. Moestopo, mengajak sejumlah kolektif dan ruang kreatif untuk berbincang soal cara bertahan, bertumbuh, dan menjaga ekosistem acara musik independen di tengah situasi yang semakin tak menentu. Dirga, salah satu dari empat penggagas Fengshui, menyebut kolektif ini berangkat dari keresahan di kampus dan keinginan sederhana untuk membangun “rumah buat anak-anak.”

Setelah menggelar Puncak Perayaan 2 Kalender, Fengshui mewawancarai Paguyuban Crowd Surf, Kolibri Rekords, Pokta Collective, Club Vixxxen, dan Ruang Baur. Percakapan berfokus pada pelajaran di fase awal kolektif, makna keberlanjutan, hingga cara menjaga ruang aman dan inklusif dalam penyelenggaraan acara.

Pelajaran dari “umur dua tahun”

Saat ditanya apa yang ingin dilakukan lebih cepat jika kembali ke usia dua tahun sebagai kolektif, jawaban para narasumber beragam. Ruang Baur menilai yang penting adalah mengerjakan dengan lebih serius dan penuh, tanpa harus memaknai “serius” sebagai sesuatu yang kaku. “Lebih ke apa yang pengen dibikin, ya bikin aja,” kata Mahendra Ihsan.

Paguyuban Crowd Surf memberi jawaban singkat: “Bubar.” Sementara Kolibri Rekords menyatakan tidak ada hal yang perlu dipercepat. Menurut Daffa, setiap kolektif punya waktu dan prosesnya sendiri, dan mereka menikmati fase keamatiran di tiap usia kolektif. Pokta Collective justru ingin lebih banyak membuat gigs dan lebih berani berjejaring di luar musik. Adapun Club Vixxxen menilai frekuensi acara perlu dijaga agar audiens tidak jenuh; Jordan menyebut “nggak sering-sering bikin acara,” sementara Zara menambahkan mereka tidak punya penyesalan karena bekerja dengan pengetahuan yang dimiliki saat itu.

Memaknai keberlanjutan kolektif

Dalam percakapan ini, keberlanjutan tidak semata dipahami sebagai kelangsungan acara, melainkan juga dampak dan kemampuan kolektif merawat orang-orang di dalamnya. Ruang Baur menekankan keberlanjutan sebagai kemampuan untuk terus berjalan dan berdampak positif, termasuk dari sisi pendanaan agar perputaran dana tepat guna dan ide kolektif dapat menular meski orangnya berganti.

Paguyuban Crowd Surf menyebut regenerasi sebagai kunci: ketika kolektif bisa beregenerasi, ide-ide baru akan terus lahir, tanpa harus memaksakan diri untuk selalu relevan. Kolibri Rekords memaknai keberlanjutan sebagai keberanian dan kerendahan hati untuk terbuka pada perubahan, termasuk menerima kemungkinan tidak selamanya relevan. Mereka menekankan pentingnya terus belajar dan “unlearning” agar tidak terjebak merasa paling tahu, sekaligus menjadikan kemampuan hari ini sebagai pijakan untuk memberi ruang bagi generasi berikutnya.

Bagi Pokta Collective, keberlanjutan adalah cara bertahan hidup: bukan hanya soal terus membuat acara, tetapi juga menjaga relasi dengan orang-orang yang mendukung dan memastikan kolektif tetap “ada.” Club Vixxxen menyoroti risiko burnout dan pentingnya menjaga aktivitas agar tetap bisa berkarya selama mungkin, termasuk mengembangkan skala acara sebagai salah satu indikator keberlanjutan.

Menjaga ekosistem agar tidak saling mencekik

Ketika ditanya cara menciptakan ekosistem yang sehat bagi kolektif, band, venue, dan vendor, Ruang Baur menekankan keterbukaan dan koordinasi. Mahendra Ihsan menyebut daya beli tiket, kebutuhan band, kerja vendor, keberlangsungan venue, dan objektif penyelenggara saling memengaruhi sehingga upaya menjaga keseimbangan perlu dilakukan bersama.

Paguyuban Crowd Surf menyoroti pentingnya mengatur arus kas, terutama karena acara mereka kerap digelar secara independen. Mereka juga berupaya transparan soal cash flow kepada pihak-pihak yang terlibat, dengan catatan bahwa venue dan vendor umumnya sudah memiliki harga pasti.

Kolibri Rekords mengakui masih terus belajar, dan untuk sementara memilih menempatkan diri “paling terakhir” dengan fokus pada apa yang bisa diberikan kepada penonton. Pokta Collective menekankan komunikasi internal—pembagian peran pada hari acara—serta penjelasan teknis kepada band agar tidak terjadi kesalahpahaman. Mereka juga menilai kesepakatan dengan venue, seperti skema bagi hasil atau bentuk kerja sama lain, sebaiknya tuntas sejak awal dan disesuaikan dengan kemampuan kolektif. Untuk vendor, mereka menyarankan negosiasi yang baik, termasuk kemungkinan meminjam atau memanfaatkan jejaring teman yang memiliki peralatan.

Club Vixxxen mengangkat persoalan permintaan guestlist. Jordan menyebut masukan dari banyak pihak perlu didengar, tetapi tidak semua bisa menguntungkan semua pihak. Guestlist yang berlebihan, menurutnya, dapat berdampak pada biaya yang tidak tertutup, terutama ketika mendatangkan DJ dari luar negeri. Zara menambahkan pentingnya mengedukasi audiens bahwa dukungan tidak hanya di media sosial, tetapi juga secara fisik dan finansial. Ia menegaskan bahwa acara musik independen membutuhkan komunitas agar bisa terus bergerak, dan pendapatan acara mereka digunakan kembali sebagai biaya produksi acara berikutnya.

Program komunitas: antara kebutuhan dan tren

Soal menentukan program yang benar-benar dibutuhkan komunitas, Ruang Baur memilih fokus pada apa yang disukai, dengan catatan tren bergerak cepat dan kerap menjadi template yang berulang. Paguyuban Crowd Surf menyebut cara mereka mencari talenta baru antara lain melalui rekomendasi teman dekat, datang ke gigs, serta melakukan “digging” lewat Bandcamp atau Soundcloud. Mereka juga berupaya memberi panggung bagi band-band bagus yang sudah lama tidak tampil.

Kolibri Rekords menekankan pentingnya menjadi bagian dari komunitas dan tidak memandangnya sebagai “potential market.” Pokta Collective mengatakan mereka tidak merasa mengikuti tren tertentu; mereka membuat acara sesuai hal yang mereka sukai dan kemampuan yang dimiliki. Dalam kolaborasi, mereka terbuka untuk memperluas makna kolektif, termasuk kegiatan di luar musik seperti turnamen gim bersama pihak lain.

Club Vixxxen memaparkan dua pendekatan: mendengar apa yang diinginkan pasar atau membuat sesuatu yang baru untuk ceruk yang belum terwadahi. Zara menyebut dirinya kerap memantau percakapan daring dengan mencari kata kunci tertentu, tetapi ia juga mencatat animo di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kehadiran di acara.

Merayakan musik di tengah krisis

Di tengah krisis dan pertanyaan tentang relevansi berkumpul, para kolektif memaknai acara musik sebagai ruang temu dan cara bertahan. Ruang Baur melihat berkumpul dapat menjadi distraksi dari krisis, sekaligus ruang yang relevan karena banyak karya dan aktivasi berangkat dari krisis itu sendiri.

Paguyuban Crowd Surf memandang gigs sebagai “melting pot” untuk bersilaturahmi dan memastikan kawan-kawan berada dalam kondisi baik. Mereka menilai acara bisa digelar jarang, selama ruang temu itu tetap ada. Kolibri Rekords menyatakan membuat gigs tidak selalu sepenting itu dan sebaiknya dilakukan ketika semua teman bisa merayakannya bersama. Pokta Collective menyebut musik membantu mereka tetap waras—gigs menjadi alasan untuk bertemu, berbincang, menemukan band baru, menjamu teman yang tur, atau sekadar menghabiskan waktu bersama tanpa harus bermegah-megahan.

Club Vixxxen menyoroti aspek psikologis dan sosial. Zara mengatakan, di tengah dominasi berita intoleransi dan diskriminasi, hadir di ruang seperti klub—berpakaian sesuai keinginan, bertemu teman, mendengarkan musik, dan menari—menjadi cara meyakinkan diri bahwa ruang yang menerima mereka apa adanya bisa dibangun bersama, meski hanya beberapa jam.

Upaya menjaga ruang aman dan inklusif

Soal menjaga ruang aman dari sisi pelaksana, Ruang Baur menilai kesadaran untuk menciptakan ruang inklusif mulai sering terlihat, meski masih ada oknum yang tidak berniat mengapresiasi acara dengan baik. Mereka berharap pembahasan mengenai ruang aman semakin digencarkan dan dipahami semua elemen yang terlibat.

Paguyuban Crowd Surf menjelaskan mereka biasanya mengingatkan dan mengedukasi soal ruang aman sebelum hari acara. Pada hari pelaksanaan, mereka menempel poster mitigasi dan menyiapkan posko yang bisa didatangi jika ada yang merasa dirugikan. Himbauan juga disampaikan sebelum acara dimulai.

Kolibri Rekords menolak melihat ruang aman sebagai label yang cukup ditempel di poster. Bagi mereka, ruang aman harus diupayakan melalui nilai dan tindakan sehari-hari, serta lebih pantas dinilai oleh orang-orang yang hadir. Mereka menyebut langkah yang dilakukan antara lain memilih kolaborator, venue, dan vendor yang sejalan; memastikan semua pihak memahami apa yang tidak boleh terjadi; mengetahui cara merespons pelecehan atau diskriminasi; serta berani bertindak ketika diperlukan. Mereka juga menekankan inklusivitas tidak hanya lahir dari kebijakan panitia, melainkan budaya saling menghormati yang dirawat bersama.

Pokta Collective mengatakan mereka rutin mengingatkan penonton bahwa acara adalah ruang aman untuk siapa pun, sekaligus berterima kasih kepada band yang ikut menyuarakan kesadaran itu dari panggung. Mereka juga mengingatkan batasan dalam menikmati pertunjukan: bersenang-senang boleh, tetapi tidak merusak peralatan maupun venue.

Percakapan yang diprakarsai Fengshui ini memperlihatkan bagaimana kolektif-kolektif musik memaknai keberlanjutan, kerja sama, dan keamanan sebagai kerja yang terus diperbarui—dengan penekanan pada komunikasi, regenerasi, serta keberanian untuk tetap belajar di tengah ketidakpastian.