BERITA TERKINI
Fakta di Balik Skena Death Metal Indonesia: Sejarah, Stigma, dan Perannya bagi Komunitas

Fakta di Balik Skena Death Metal Indonesia: Sejarah, Stigma, dan Perannya bagi Komunitas

Skena death metal di Indonesia terus berkembang dan, bagi sebagian orang, telah menjelma menjadi fenomena budaya yang besar. Meski kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat awam yang menilainya sebatas “kebisingan”, sejumlah pihak menilai kualitas musisi musik keras di Indonesia telah mendapat pengakuan dan dianggap sejajar dengan nama-nama besar di kancah internasional.

Perkembangan komunitas underground di Indonesia disebut sudah terbentuk sejak awal dekade 1990-an, ketika panggung-panggung kolektif berskala kecil mulai tumbuh di berbagai daerah. Dari periode itu, muncul sejumlah nama yang kemudian dikenal sebagai pionir, antara lain Jasad (Bandung), Siksakubur (Jakarta), Death Vomit (Yogyakarta), serta Trauma dan Burgerkill yang perlahan berevolusi dengan elemen death metal yang kental. Para pelopor ini dinilai berperan membangun fondasi ekosistem yang mandiri dan solid, hingga band-band lokal kemudian berkesempatan tampil di festival internasional seperti Wacken Open Air di Jerman dan Bloodstock di Inggris.

Antusiasme penikmat musik keras di Indonesia juga pernah disorot dalam Global Metal, film dokumenter karya antropolog asal Kanada, Sam Dunn. Dalam narasi yang sama, geliat tersebut turut dikaitkan dengan lahirnya Hammersonic, festival yang disebut sebagai salah satu festival musik ekstrem terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran festival ini kerap dipandang sebagai bukti bahwa ekosistem skena mampu mengumpulkan puluhan ribu penonton secara tertib, sekaligus menantang anggapan negatif yang selama ini melekat pada musik underground.

Namun, stigma terhadap death metal masih kerap muncul. Genre ini sering diasosiasikan secara sempit dengan hal-hal destruktif atau perilaku amoral. Sejumlah kajian disebut membantah anggapan tersebut, dengan melihat musik ekstrem sebagai bentuk ekspresi diri dan wadah emosional bagi pendengarnya untuk menyalurkan ketegangan tanpa melampiaskannya dalam tindakan merusak.

Salah satu rujukan yang dikemukakan adalah penelitian Leah Sharman dan Genevieve Dingle (2015). Dalam riset itu, partisipan yang berada dalam kondisi marah diperdengarkan musik ekstrem termasuk death metal untuk mengamati respons psikologis dan fisiologis. Hasilnya, mendengarkan musik ekstrem disebut tidak memicu peningkatan agresi. Sebaliknya, partisipan dinilai terbantu memproses amarah dengan lebih sehat dan merasa lebih tenang serta terinspirasi setelahnya. Temuan ini dipahami sebagai indikasi bahwa ritme cepat dan vokal guttural dapat berfungsi seperti katup pelepas tekanan psikologis, sehingga emosi negatif tersalurkan dengan aman.

Di sisi lain, skena ekstrem juga kerap dikaitkan dengan solidaritas komunitas. Salah satu contoh yang sering disorot adalah dinamika di moshpit ketika konser berlangsung: benturan fisik bisa terjadi, tetapi terdapat kebiasaan saling membantu ketika ada penonton yang terjatuh. Budaya saling menjaga ini dipandang membuat ruang konser terasa aman bagi banyak orang, sekaligus memperkuat rasa memiliki dalam komunitas.

Gambaran serupa juga dikaitkan dengan riset sosial Andy Bennett (2004), sosiolog musik asal Inggris. Ia menilai subkultur metal memiliki peran dalam pembentukan identitas positif kaum muda melalui jaringan pertemanan yang melampaui batas negara dan bahasa. Dalam konteks ini, komunitas dipahami sebagai ruang yang memberi rasa diterima bagi mereka yang merasa tidak cocok dengan standar norma arus utama.

Di luar aspek sosial, death metal juga dinilai memiliki kompleksitas musikal yang kerap luput dari perhatian. Struktur aransemen yang cepat dan presisi membutuhkan latihan panjang serta ketekunan tinggi. Karena itu, karya dalam genre ini dinilai tidak tepat jika sekadar disederhanakan sebagai keributan tanpa makna musikal.

Selain itu, lirik band-band cadas di Indonesia disebut kerap memuat kritik sosial dan perenungan filosofis. Sejumlah album juga disebut memperoleh ulasan dan pengakuan dari majalah musik keras internasional seperti Metal Hammer dan Terrorizer, yang dipandang turut mengangkat kredibilitas industri kreatif Indonesia di mata penggemar musik ekstrem global.

Pada akhirnya, skena death metal di Indonesia kerap dilihat sebagai bagian dari kebudayaan modern yang bertahan lintas era dengan semangat mandiri atau do it yourself. Di tengah stigma yang masih ada, para penggerak dan penikmatnya menilai musik ekstrem bukan sekadar ekspresi kemarahan, melainkan ruang katarsis dan komunitas yang menyalurkan energi ke arah yang dianggap lebih positif.