BERITA TERKINI
Dnanda Tetap Usung Nuansa Retro, Siapkan Single Baru Bertema Ghosting

Dnanda Tetap Usung Nuansa Retro, Siapkan Single Baru Bertema Ghosting

Penyanyi Dnanda kembali menegaskan identitas musiknya dengan mempertahankan nuansa retro dalam karya terbaru. Setelah merilis Bola Mata Sayu di bawah naungan Sony Music Indonesia, ia bersiap memperkenalkan single baru yang masih membawa benang merah musik klasik, namun diklaim hadir dengan sentuhan yang lebih segar.

Bagi Dnanda, retro bukan sekadar gaya yang mengikuti tren. Ia memandang warna musik tersebut sebagai medium yang paling tepat untuk menyampaikan cerita dan emosi kepada pendengar.

“Musik retro itu punya sesuatu yang tidak lekang oleh waktu. Lagu-lagu dari era itu fokus ke melodi, lirik, dan emosi, bukan sekadar mengikuti tren. Aku tumbuh dengan banyak referensi musik lama, dan setiap kali mendengarnya selalu ada rasa hangat dan jujur yang sulit dijelaskan,” ujar Dnanda.

Ia menegaskan, pilihannya pada unsur klasik bukan berarti ingin terdengar kuno. Menurutnya, retro adalah “bahasa” yang paling pas untuk menyampaikan isi pikirannya kepada pendengar masa kini.

“Aku tidak pernah ingin sekadar terdengar jadul. Yang aku cari adalah bagaimana membawa rasa klasik itu ke pendengar hari ini. Jadi, retro buatku bukan tujuan, tetapi bahasa yang paling pas untuk menceritakan apa yang ada di kepalaku,” lanjutnya.

Meski mempertahankan identitas tersebut, Dnanda menyebut single barunya akan menghadirkan eksplorasi berbeda dibanding karya-karya sebelumnya. Ia menggabungkan nuansa klasik dengan aransemen yang lebih modern agar tetap relevan bagi pendengar saat ini.

“Benang merah retronya masih ada karena itu memang identitas musikku. Tapi di lagu ini aku mencoba mengeksplorasi aransemen yang lebih modern, jadi rasanya tetap familiar buat yang sudah mengikuti musikku, tetapi juga lebih segar untuk pendengar baru,” tuturnya.

Dari sisi lirik, Dnanda membocorkan tema yang diangkat: kisah seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan, atau yang kini dikenal sebagai ghosting.

“Lagu ini bercerita tentang seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perpisahan yang jelas, tetapi semuanya berubah begitu saja. Menurutku, hampir semua orang pernah berada di posisi yang dipaksa menerima tanda tanya tanpa pernah mendapat jawaban,” katanya.

Dnanda juga mengakui ada tantangan tersendiri mempertahankan karakter retro di tengah perkembangan industri musik. Ia menekankan pentingnya menjaga agar identitas tersebut tidak berhenti sebagai gimmick.

“Tantangan terbesarnya adalah jangan sampai retro hanya jadi gimmick. Aku selalu berusaha bertanya ke diri sendiri, ‘Kalau lagu ini didengar lima atau sepuluh tahun lagi, apakah masih terasa relevan?’” ungkapnya.

Karena itu, ia terus bereksperimen dalam proses produksi, mulai dari pemilihan sound hingga cara menyampaikan cerita. Ia berharap pendengar terhubung bukan semata karena label retro, melainkan karena emosi yang dibawa lagunya.

“Aku ingin orang mendengar laguku bukan karena, ‘Oh ini retro’, tetapi karena mereka benar-benar terhubung dengan emosinya. Menurutku, perasaan manusia tidak pernah ketinggalan zaman,” jelasnya.

Melalui single terbaru ini, Dnanda berharap lagunya dapat menjadi teman bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan tanpa penjelasan.

“Aku berharap lagu ini bisa menjadi teman buat siapa pun yang pernah ditinggalkan tanpa penjelasan. Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan seseorang, tetapi kehilangan kesempatan untuk memahami kenapa semuanya berakhir,” ujarnya.

Ia pun berharap pendengar bukan hanya menikmati melodi, tetapi juga merasa ditemani oleh cerita yang disampaikan. “Semoga ketika orang mendengarkan lagu ini, mereka bukan cuma menikmati melodinya, tetapi juga merasa, ‘Ternyata yang aku rasakan selama ini juga pernah dirasakan orang lain,’” tutup Dnanda.