BERITA TERKINI
Dat Max Gandeng Tung Duong Bawakan “What If Life Doesn't Shine Brightly?” dengan Nuansa Rock

Dat Max Gandeng Tung Duong Bawakan “What If Life Doesn't Shine Brightly?” dengan Nuansa Rock

Penulis lagu Dat Max mengungkapkan bahwa karya terbarunya, “What If Life Doesn't Shine Brightly?”, berangkat dari sebuah frasa yang sempat menjadi tren di media sosial. Mulanya ia menganggap frasa itu sekadar lelucon, namun setelah dipikirkan lebih jauh, Dat Max merasa terus terpikat pada maknanya hingga akhirnya memunculkan ide untuk menulis lagu.

Dat Max mengatakan lagu tersebut lahir dari perenungan pribadi tentang arti “kecemerlangan” yang menurutnya bisa berbeda bagi setiap orang. Ia menilai sebagian orang memaknai kecemerlangan sebagai kesuksesan, kekayaan, ketenaran, atau pencapaian yang dikagumi banyak orang. Namun baginya, kecemerlangan tidak berhenti pada ukuran-ukuran itu.

Ia juga menyinggung perjalanan yang telah ia jalani dalam mengejar passion, termasuk mengalami kemunduran, menghadapi kesulitan, hingga sempat terpikir untuk menyerah. Meski begitu, ia menegaskan dirinya tetap bertahan menjalani apa yang diyakininya. Menurut Dat Max, selama seseorang tidak menyerah, terus bergerak maju, dan mampu melampaui batas diri, hal itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.

“Tidak semua orang harus menjadi bintang di langit. Setiap orang bisa bersinar dengan caranya sendiri,” ujarnya. Dalam pandangannya, “brilian” tidak selalu berarti terkenal atau meraih kesuksesan besar, melainkan menjalani hidup sepenuhnya serta berani mengejar mimpi, keyakinan, dan aspirasi.

Dat Max menambahkan, momen yang paling berkesan baginya adalah ketika lagu yang ia selesaikan dapat menyentuh pendengar atau ketika ia menerima umpan balik bahwa musiknya membantu orang lain merasa lebih kuat.

Terkait kolaborasi dengan penyanyi Tung Duong, Dat Max menyebut nama tersebut sebagai sosok pertama yang terlintas setelah ia menuntaskan lagu. Ia menilai Tung Duong memiliki karakter vokal yang unik, kuat, dan emosional, serta dikenal berani menantang diri lewat nilai-nilai artistik baru. Dat Max percaya Tung Duong tidak hanya mampu menyanyikan lagu itu dengan baik, tetapi juga menyampaikan kedalaman emosinya.

Penata musik Nguyen Huu Vuong menjelaskan bahwa pada awalnya ia menerima demo dari rekan yang lebih senior dengan arahan gaya balada. Namun setelah mendengarkan materi, ia menilai lirik dan semangat lagu tidak selaras jika dibalut balada. Ia kemudian mengusulkan perubahan ke genre rock.

Menurut Nguyen Huu Vuong, lirik lagu membawa semangat “memberikan yang terbaik” dan menyalurkan energi serta inspirasi, sehingga lebih cocok diolah menjadi rock. Setelah berdiskusi, mereka sepakat bahwa rock paling sesuai dengan karakter vokal Tung Duong yang bertenaga. Ia juga menyebut bahwa ketika memikirkan lagu-lagu yang menginspirasi dan sosok Tung Duong, rock menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Nguyen Huu Vuong menilai pesan lagu ini tidak hanya berkisah tentang Tung Duong, melainkan juga ditujukan bagi anak muda yang mengejar mimpi serta mereka yang pernah menghadapi kesulitan dalam hidup.

Video musik lagu ini disutradarai oleh Jayden Tran dan Nguyen Truong Kien (Zodiac II). Cerita dibangun dari tiga karakter yang seluruhnya diperankan oleh Thua Tuan Anh. Para pembuatnya menempatkan tiga tokoh dengan latar berbeda untuk menggambarkan perjalanan psikologis dan pilihan hidup masing-masing.

Tokoh pertama adalah seorang fotografer yang bersemangat menegaskan identitas artistiknya. Namun ia perlahan kehilangan arah karena terseret standar arus utama dan tekanan untuk menyenangkan banyak orang. Karakter ini menggambarkan sosok kreatif yang kehilangan jati diri demi pengakuan.

Tokoh kedua adalah pekerja kantoran yang terjebak rutinitas berulang. Stabilitas yang ia miliki perlahan berubah menjadi “sangkar” tak terlihat yang membuat hidup terasa menyesakkan. Pada titik tertentu, ia memutuskan memulai perjalanannya sendiri bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menemukan kembali inspirasi, keberanian, dan alasan untuk menjalani hidup yang bermakna.

Tokoh ketiga adalah seorang siswa dari latar belakang kurang mampu yang bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hari-harinya menjadi bukti kerja keras dan ketekunan, sementara di balik itu ia tetap menyimpan mimpi dan keyakinan untuk tidak menyerah. Karakter ini menggambarkan anak muda yang berjuang dalam diam dan percaya bahwa titik awal tidak menentukan tujuan akhir.

Tiga cerita itu bertemu pada pertanyaan yang sama: apakah hidup tanpa keistimewaan, tanpa kemewahan, dan tanpa label sukses menurut standar masyarakat tetap layak dibanggakan? Melalui perpotongan tersebut, video musik menyampaikan gagasan bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan tekanan yang berbeda, namun sama-sama mendambakan hidup sesuai nilai yang diyakini.

Pesan yang ditekankan adalah pentingnya tidak menyerah untuk percaya pada diri sendiri dan berani melangkah maju, baik saat berjuang memenuhi kebutuhan hidup, terjebak di zona nyaman, maupun tersesat di tengah gemerlap kesuksesan. Kecemerlangan, sebagaimana ditawarkan karya ini, dipahami bukan sebagai sorotan semata, melainkan keberanian memilih, berani gagal, dan terus mengejar apa yang diyakini.

Dalam lagu tersebut, Tung Duong membawakan kalimat “Bagaimana jika hidup tidak pernah cemerlang?” dengan sikap yang digambarkan tenang dan dewasa, serta gaya bernyanyi yang terkendali namun tetap kuat. Vokalnya disebut tidak menonjolkan keterampilan teknis semata, melainkan mengarahkan pendengar menelusuri lapisan emosi yang dalam dan penuh empati.