BERITA TERKINI
Asriadi Cahyadi Merawat Musik Analog di Bantul, dari Walkman hingga Kaset Pita

Asriadi Cahyadi Merawat Musik Analog di Bantul, dari Walkman hingga Kaset Pita

Di sebuah gang di kawasan Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, suara kaset yang berputar masih terdengar jernih. Sesekali muncul bunyi “klik” saat tombol play pada walkman ditekan, lalu disusul alunan lagu-lagu lama. Di tempat itu, Asriadi Cahyadi menghabiskan hari-harinya membongkar radio tua, membersihkan kepala tape, mengganti sabuk penggerak walkman, hingga menguji apakah suara yang keluar masih setia seperti puluhan tahun lalu.

Bagi sebagian orang, walkman, tape recorder, dan kaset pita dianggap barang usang yang telah tergantikan ponsel pintar dan layanan streaming. Namun bagi Asriadi, perangkat analog menyimpan cerita yang tidak bisa digantikan. Ia memegang keyakinan bahwa musik analog bukan sekadar alat pemutar, melainkan wadah kenangan.

Kecintaan Asriadi pada musik analog bermula sejak remaja. Ia kerap mendengarkan lagu-lagu Westlife, Bryan Adams, hingga Michael Jackson dari koleksi keluarga. Pengalaman mendengar kaset yang berputar perlahan membentuk ingatan yang terus ia bawa hingga dewasa.

Ketika banyak orang beralih ke format digital, Asriadi justru semakin tertarik pada perangkat analog. Ia mengumpulkan kaset pita, radio, walkman, hingga tape recorder bekas sedikit demi sedikit. Ia juga pernah merasa malu membawa walkman ke mana-mana karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Meski begitu, rasa canggung tersebut tidak menghentikannya.

Dari hobi itulah Asriadi kemudian membangun langkah yang lebih serius. Pada 2018, ia membuka DCell Jogja Store di rumahnya sendiri. Tempat itu awalnya menjadi ruang kecil untuk menjual sekaligus memperbaiki perangkat musik analog. Seiring waktu, kabar tentang keahliannya menyebar dari mulut ke mulut. Orang-orang mulai berdatangan membawa walkman yang lama rusak, memperbaiki radio peninggalan orang tua, atau mencari kembali kaset favorit masa kecil.

Sejak 2021, ketika tren budaya retro kembali digemari, terutama di kalangan Generasi Z dan milenial, tokonya kian ramai. Mahasiswa, pegiat seni, pembuat film, hingga pemilik kafe bergaya vintage datang untuk mencari pengalaman mendengarkan musik yang berbeda dari kebiasaan menekan tombol play di aplikasi streaming.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Asriadi datang dari sepasang wisatawan asal Belanda yang mendatangi tokonya. Kedatangan mereka bukan untuk membeli oleh-oleh, melainkan memperbaiki walkman Sony yang menemani masa kecil. Setelah perangkat itu kembali berfungsi, mereka meninggalkan pesan yang tidak dilupakan Asriadi: “Kamu menyelamatkan masa kecilku.”

Kalimat tersebut, menurut Asriadi, menegaskan bahwa yang ia perbaiki bukan hanya perangkat elektronik, melainkan juga kenangan yang nyaris hilang. Kini, DCell Jogja Store menyimpan lebih dari 1.000 kaset pita, sekitar 200 radio dan tape recorder, serta berbagai walkman, piringan hitam, compact disc, dan amplifier klasik. Namun baginya, angka-angka itu bukan pencapaian utama.

Yang paling membahagiakan bagi Asriadi adalah menyaksikan anak-anak muda mulai mengenal kembali cara menikmati musik secara pelan: memilih kaset, membuka kotaknya, melihat sampul album, memasukkan pita ke dalam walkman, lalu mendengarkan lagu tanpa tergoda menekan tombol “skip”. Di tengah ritme dunia yang serba cepat, pengalaman itu terasa semakin jarang.

Perjalanan Asriadi menunjukkan bahwa mengikuti arus zaman bukan satu-satunya cara untuk bertahan. Dari rumah sederhana di Bantul, ia tidak hanya memperbaiki walkman dan tape recorder, tetapi juga merawat suara masa lalu agar tetap hidup—menghubungkan kenangan lintas generasi melalui musik analog.