BERITA TERKINI
Asep Wahyuwijaya: Regenerasi Petani Perlu Jadi Agenda Strategis Ketahanan Pangan

Asep Wahyuwijaya: Regenerasi Petani Perlu Jadi Agenda Strategis Ketahanan Pangan

BOGOR, 5 Juli — Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor), Asep Wahyuwijaya, menegaskan regenerasi petani perlu ditempatkan sebagai agenda strategis untuk memperkuat masa depan ketahanan pangan nasional. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Elang Agro Expo yang digelar PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/7/2026).

Asep menyatakan persoalan regenerasi petani tidak bisa dilihat semata dari rendahnya minat anak muda masuk ke sektor pertanian. Menurutnya, pertanian harus dibangun sebagai ekosistem usaha yang layak, modern, dan memiliki kepastian ekonomi. Karena itu, dukungan kepada petani dinilai perlu mencakup akses pupuk, pembiayaan, teknologi, pendampingan, pengolahan hasil, hingga kepastian pasar.

“Ketika anak muda menjauh dari pertanian, mereka tidak boleh buru-buru disalahkan. Anak muda bersikap rasional. Mereka menilai apakah pertanian mampu memberi penghidupan yang layak, akses modal, akses pasar, dan kepastian usaha,” ujarnya.

Asep, yang akrab disapa Kang AW, menekankan penguatan pertanian berkaitan erat dengan peran BUMN, dunia usaha, koperasi, UMKM, serta lembaga pembiayaan. Ia menilai kehadiran PT Pupuk Indonesia dalam Elang Agro Expo penting karena perusahaan tersebut merupakan mitra Komisi VI DPR RI dan memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian, terutama melalui ketersediaan pupuk, edukasi, dan pendampingan kepada petani.

“Kita tentu berharap kehadiran PT Pupuk Indonesia tidak hanya berhenti pada dukungan pupuk, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem pertanian. Pupuk Indonesia sebagai mitra Komisi VI siap memberikan support, baik dalam aspek edukasi, pendampingan, maupun peningkatan produktivitas petani,” kata Asep.

Legislator Partai NasDem itu juga menekankan regenerasi petani tidak boleh dimaknai sempit sebagai sekadar mengganti petani tua dengan petani muda. Regenerasi, menurutnya, harus dipahami sebagai upaya menghadirkan generasi baru yang mampu membawa pertanian naik kelas, mulai dari agribisnis, pengolahan hasil, pemasaran digital, koperasi, logistik, hingga pemanfaatan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, anak muda diharapkan tidak hanya masuk ke sektor pertanian sebagai pekerja di lahan, tetapi juga sebagai pelaku usaha dalam rantai nilai pertanian.

Asep menilai Kabupaten Bogor memiliki modal besar untuk menjadi contoh regenerasi pertanian. Ia menyebut adanya basis lahan, kelompok tani, komoditas lokal, kedekatan dengan pasar Jabodetabek, serta peluang integrasi dengan sektor wisata, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Dalam konteks itu, ia menilai kegiatan seperti Elang Agro Expo penting sebagai ruang kolaborasi antara petani, anak muda, pelaku usaha, BUMN, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pasar. “Elang Agro Expo ini jangan dilihat hanya sebagai pameran produk. Ini adalah ruang kolaborasi. Di sini petani bisa bertemu pasar, anak muda bisa melihat peluang usaha, pelaku usaha bisa membangun kemitraan, dan BUMN seperti Pupuk Indonesia bisa hadir memperkuat ekosistem pertanian,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Asep menegaskan masa depan pangan tidak cukup dijaga melalui peningkatan produksi semata, tetapi juga melalui keberlanjutan pelaku utamanya. Karena itu, regenerasi petani disebut perlu menjadi gerakan bersama yang didukung kebijakan, pupuk, pembiayaan, teknologi, pasar, koperasi, dunia usaha, kampus, dan komunitas.

“Kalau pertanian dibuat lebih bernilai, modern, dan membanggakan, saya yakin anak muda akan melihat sektor ini sebagai ruang masa depan. Dari daerah seperti Kabupaten Bogor, kita bisa ikut menyiapkan masa depan pangan Indonesia,” pungkasnya.