Pergerakan pasar keuangan pada pekan depan diperkirakan masih dipengaruhi rangkaian rilis data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri. Investor akan mencermati risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (The Fed), data inflasi China, serta sejumlah indikator ekonomi Indonesia sebagai petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Setelah pekan sebelumnya diwarnai rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, perhatian pasar kini bergeser ke indikator yang dinilai dapat memberi gambaran mengenai arah pertumbuhan ekonomi global dan prospek suku bunga. Dari luar negeri, pelaku pasar akan memantau aktivitas sektor jasa AS, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), inflasi China, perkembangan pasar properti AS, serta kondisi ketenagakerjaan Kanada. Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data cadangan devisa, uang primer (M0), Survei Konsumen, hingga Survei Penjualan Eceran.
ISM Services PMI AS
Pekan dibuka dengan rilis ISM Services PMI Amerika Serikat periode Juni 2026 pada Senin malam waktu Indonesia. Pada Mei 2026, aktivitas sektor jasa AS naik ke 54,5 dari 53,6 pada April dan melampaui ekspektasi 53,8. Kenaikan didorong percepatan aktivitas bisnis, peningkatan pesanan baru, serta lonjakan persediaan. Namun, indeks ketenagakerjaan masih berada di zona kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut karena banyak perusahaan menunda perekrutan atau tidak menggantikan posisi kosong. Tekanan harga juga meningkat dan menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2022, terutama akibat kenaikan harga energi seperti minyak, solar, dan bensin.
Untuk Juni, konsensus memperkirakan ISM Services PMI sedikit melandai ke 54,2. Investor akan menilai apakah sektor jasa masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi AS sekaligus mencermati potensi dampak tekanan harga terhadap kebijakan The Fed.
Cadangan Devisa Indonesia
Pada Selasa, BI dijadwalkan mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia periode Juni 2026. Sebelumnya, cadangan devisa pada akhir Mei tercatat US$144,9 miliar, turun dari April sebesar US$146,2 miliar. Penurunan dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik. Di sisi lain, penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak maupun jasa disebut turut menopang posisi cadangan devisa.
Meski menurun, BI menilai posisinya masih memadai karena setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pasar akan mencermati apakah cadangan devisa kembali menguat sebagai sinyal terjaganya ketahanan eksternal.
Uang Primer dan Survei Konsumen
Masih pada Selasa, BI juga akan merilis data uang primer (M0) serta hasil Survei Konsumen periode Juni 2026. Pada survei sebelumnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 120,9, turun dari 123,0 pada April namun tetap berada di zona optimistis. Optimisme ditopang persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan mendatang. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat 112,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen 129,7.
Investor akan memperhatikan apakah keyakinan masyarakat tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Stabilnya optimisme konsumen kerap dibaca sebagai indikasi konsumsi rumah tangga masih berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Ivey PMI Kanada
Pada Selasa malam, Ivey Business School akan mempublikasikan Ivey PMI Kanada periode Juni. Pada Mei, indeks naik menjadi 58,2 dari 57,7 dan merupakan level tertinggi sejak September 2025. Aktivitas bisnis tumbuh lebih cepat dengan dukungan pasar tenaga kerja yang masih solid. Di sisi lain, tekanan harga meningkat, sementara persediaan barang turun cukup tajam yang mengindikasikan stok mulai menipis.
Untuk Juni, konsensus memperkirakan Ivey PMI naik tipis menjadi 58,7. Data ini akan menjadi indikator awal kekuatan aktivitas ekonomi Kanada sekaligus memberi gambaran tekanan inflasi di tingkat pelaku usaha.
Risalah Rapat FOMC
Memasuki Rabu dini hari, pasar global akan menanti publikasi risalah rapat FOMC. Dokumen ini menjadi rujukan investor untuk membaca pandangan para pejabat The Fed mengenai inflasi, kondisi ekonomi, serta prospek suku bunga. Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan inflasi mulai mereda, namun bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan inflasi menuju target 2%. Ia juga menegaskan The Fed tidak lagi memberikan panduan eksplisit mengenai arah suku bunga dan keputusan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Pelaku pasar akan menelaah risalah tersebut untuk mencari sinyal apakah mayoritas pejabat The Fed masih mendukung suku bunga tinggi lebih lama atau mulai membuka ruang pelonggaran dalam beberapa pertemuan mendatang.
Inflasi China
Pada Kamis pagi, Biro Statistik Nasional China akan mengumumkan inflasi konsumen periode Juni 2026. Pada Mei, inflasi tahunan bertahan di 1,2%, sedikit di bawah ekspektasi 1,3%. Kenaikan harga didorong sektor nonpangan, terutama transportasi akibat mahalnya energi dan gangguan rantai pasok yang dipicu konflik di Timur Tengah. Sementara itu, harga pangan kembali turun karena lemahnya harga daging babi dan buah segar. Inflasi inti tercatat 1,1%, sedangkan secara bulanan indeks harga konsumen turun 0,1%.
Untuk Juni, pasar memperkirakan inflasi naik tipis menjadi 1,3%. Data ini akan menjadi acuan untuk menilai kekuatan permintaan domestik China yang dalam beberapa kuartal terakhir menjadi perhatian investor global.
Survei Penjualan Eceran Indonesia
Agenda domestik berlanjut dengan rilis Survei Penjualan Eceran BI pada Kamis. BI sebelumnya memperkirakan Indeks Penjualan Riil Mei 2026 berada di level 225,0. Secara bulanan, kontraksi penjualan diperkirakan menyempit menjadi 0,9% dibanding penurunan 11,6% pada April. Perbaikan disebut ditopang meningkatnya aktivitas konsumsi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, ekspektasi inflasi jangka pendek diperkirakan relatif stabil, sementara tekanan harga enam bulan mendatang mulai meningkat seiring potensi kenaikan harga bahan baku. Investor akan mencermati survei ini untuk melihat apakah konsumsi domestik masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal paruh kedua tahun ini.
Penjualan Rumah Bekas AS
Pada Kamis malam, National Association of Realtors akan merilis data penjualan rumah bekas Amerika Serikat periode Juni. Pada Mei, penjualan rumah bekas naik 3,2% menjadi 4,17 juta unit (tahunan), lebih tinggi dari proyeksi 4,07 juta unit. Kenaikan terutama terjadi di wilayah Selatan dan Midwest, sementara persediaan rumah meningkat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan. Peningkatan terjadi meski suku bunga kredit pemilikan rumah masih relatif tinggi.
Untuk Juni, konsensus memperkirakan penjualan sedikit melambat ke kisaran 4,20 juta unit. Investor akan menilai ketahanan sektor properti AS di tengah biaya pinjaman yang tinggi.
Tingkat Pengangguran Kanada
Menutup pekan, Statistics Canada akan mengumumkan tingkat pengangguran Juni 2026 pada Jumat malam. Pada Mei, tingkat pengangguran turun menjadi 6,6% dari 6,9%, lebih baik dari ekspektasi yang memperkirakan tetap 6,9%. Penurunan ditopang lonjakan penyerapan tenaga kerja 87.800 orang, menjadi pertumbuhan lapangan kerja terbesar sejak Desember 2024. Jumlah penganggur turun sekitar 84 ribu orang, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja bertahan di 65%.
Untuk Juni, konsensus memperkirakan tingkat pengangguran tetap di 6,6%. Jika pasar tenaga kerja masih solid, peluang bank sentral Kanada mempertahankan kebijakan moneter ketat berpotensi semakin besar.