BERITA TERKINI
Wellness Tourism dan Wisata Gastronomi Dinilai Jadi Peluang, Pemasaran hingga Hilirisasi Masih Tantangan

Wellness Tourism dan Wisata Gastronomi Dinilai Jadi Peluang, Pemasaran hingga Hilirisasi Masih Tantangan

Pengembangan pariwisata daerah dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada aspek pemasaran dan promosi yang belum tepat sasaran. Wisnu menilai banyak daerah sesungguhnya memiliki daya tarik kuat, namun belum mampu menjangkau segmen wisatawan yang sesuai sehingga potensi yang ada belum berkembang optimal.

Karena itu, program yang disusun mahasiswa tidak hanya menitikberatkan promosi melalui media sosial, tetapi juga mencakup kampanye pemasaran serta pengembangan aktivitas wisata yang disesuaikan dengan karakteristik daerah. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing destinasi di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Pertama lebih kepada aspek pemasaran, terutama promosi. Promosi ini memang daerah itu agak kurang banyak bisa menembus segmen-segmen yang tepat,” kata Wisnu.

Wisnu juga menyebut pengembangan program tetap diselaraskan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata, termasuk pengembangan wellness tourism dan wisata gastronomi yang belakangan mulai menjadi tren di berbagai daerah.

Selain pemasaran, Wisnu menilai daerah perlu melakukan hilirisasi di sektor pariwisata. Meski banyak wilayah memiliki sumber daya alam dan budaya yang melimpah, tantangan utama adalah mentransformasikan potensi tersebut menjadi produk wisata yang konkret dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

Ia mencontohkan, sumber daya yang dimiliki daerah seharusnya dapat diolah menjadi produk wisata, kemudian dikembangkan menjadi beragam aktivitas yang menarik bagi wisatawan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

“Jadi banyak sumber daya yang dimiliki oleh daerah. Sehingga mungkin dalam tanda petik, kalau pemerintah sekarang sedang mengembangkan hilirisasi, pariwisata juga perlu hilirisasi,” ujarnya.

Menurut Wisnu, hilirisasi pariwisata perlu diarahkan pada transformasi sumber daya menjadi produk dan aktivitas wisata yang berkelanjutan. Tujuannya agar pengembangan destinasi tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga menciptakan kesejahteraan jangka panjang tanpa mengorbankan kelestarian budaya maupun lingkungan.

Sementara itu, perwakilan salah satu tim peneliti di Kabupaten Subang, Jonas Stefanus, mengatakan pihaknya menemukan kondisi di lapangan yang berbeda dari gambaran yang selama ini diketahui. Sejumlah destinasi yang sudah cukup dikenal wisatawan disebut masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaannya.

Jonas juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia pengelola destinasi di beberapa lokasi wisata. Kondisi ini berdampak pada kualitas layanan dan keberlanjutan pengembangan kawasan, meski daya tarik wisata dinilai masih tinggi.

“Jadi memang masih banyak persoalan yang berkaitan dengan infrastruktur dan sumber daya manusia. Dan setiap daya tarik wisata memiliki permasalahan yang berbeda-beda,” kata Jonas.

Ia menilai perbaikan akses dan pengelolaan berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, mengingat kemudahan akses dan kenyamanan kerap menjadi pertimbangan wisatawan dalam menentukan destinasi. Daya tarik tetap menjadi faktor utama, namun tanpa dukungan pengelolaan yang baik dan infrastruktur memadai, potensi tersebut dinilai akan sulit berkembang serta belum maksimal memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.