SINGAPURA — Wali Kota Surakarta Respati Ardi mempresentasikan konsep Java Wellness City dalam ajang World Cities Summit 2026 di Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre, Singapura, Senin (15/6/2026). Melalui forum internasional itu, Respati memperkenalkan identitas baru Kota Solo sebagai kota yang memadukan budaya Jawa, kesehatan holistik, kelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Respati menjadi pembicara dalam sesi bertajuk “Small Giants: The Cities Rewriting the Rules” di panggung WRLDCTY Connections Stage. Ia berbagi panggung dengan Wali Kota Heidelberg, Jerman, Eckart Würzner, serta Wakil Wali Kota Ipswich, Australia, Nicole Jonic. Sesi tersebut membahas kota-kota berukuran relatif kecil yang dinilai mampu menghadirkan inovasi, bergerak cepat, dan menawarkan solusi kreatif terhadap berbagai tantangan perkotaan.
Dalam paparannya, Respati menjelaskan perkembangan Surakarta sekaligus tantangan dalam membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah pengembangan Surakarta sebagai Java Wellness City.
“Jawa Wellness adalah jalan hidup berkualitas yang berakar pada nilai-nilai budaya Jawa. Kota tidak hanya harus tumbuh secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan ketenangan, kesehatan, dan kenyamanan bagi masyarakat maupun pengunjung,” kata Respati.
Menurut Respati, Solo memiliki modal budaya yang kuat untuk mengembangkan konsep wellness berbasis kearifan lokal. Ia menyebut potensi seperti tradisi jamu, pijat tradisional, batik, olah napas, kuliner sehat, pasar tradisional, kampung budaya, hingga keramahan masyarakat yang telah menjadi ciri khas Kota Bengawan.
Respati menegaskan, pengembangan konsep tersebut tidak hanya ditujukan untuk menarik wisatawan, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Ia menyebut perajin batik, peracik jamu, petani kota, pelaku UMKM, hingga warga kampung dapat menjadi bagian dari ekosistem wellness yang dibangun.
Namun, ia menilai pengembangan pariwisata berbasis wellness tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Kita tidak mungkin menawarkan konsep ‘Java Wellness City’ kepada dunia internasional apabila persoalan lingkungan belum kita selesaikan, sungai-sungai masih kotor dan kawasan warisan budaya belum kita benahi,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Surakarta disebut terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui pengembangan bank sampah, pengurangan sampah dari sumbernya, serta penerapan ekonomi sirkular di tingkat kampung. Respati menyatakan kebijakan tersebut selaras dengan filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana yang mengajarkan pentingnya menjaga keindahan, keharmonisan, dan keseimbangan alam semesta.
Dalam jangka panjang, Surakarta diarahkan menjadi destinasi wellness berbasis budaya Jawa dengan daya tarik global. Respati menyebut wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk menikmati warisan sejarah dan budaya, tetapi juga merasakan lingkungan kota yang bersih, nyaman, dan tetap mempertahankan kehidupan budaya yang autentik.
“Saya ingin Surakarta dikenal dunia sebagai kota yang mampu menjaga tradisi Jawa, mengurangi sampah, mengembangkan ekonomi ramah lingkungan, dan tetap menghadirkan kenyamanan modern,” ujarnya.
World Cities Summit 2026 berlangsung pada 14–16 Juni 2026 dengan tema “Liveable and Sustainable Cities: ACT Now!”. Keikutsertaan Respati dalam forum tersebut disebut menjadi momentum untuk memperkenalkan konsep Java Wellness City kepada audiens internasional sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang pariwisata, kebudayaan, lingkungan, ekonomi kreatif, dan industri wellness.