BERITA TERKINI
Tips Menulis Esai untuk Seleksi Beasiswa LPDP: Fokus, Alur Jelas, dan Revisi

Tips Menulis Esai untuk Seleksi Beasiswa LPDP: Fokus, Alur Jelas, dan Revisi

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengumumkan jadwal seleksi beasiswa tahun 2016. Salah satu syarat utama dalam proses pendaftaran adalah penulisan esai. Di kalangan penerima beasiswa (awardee), permintaan contoh esai dari calon pelamar kerap terjadi. Namun, ada kekhawatiran contoh tersebut disalin begitu saja, sesuatu yang disebut sangat menjadi perhatian LPDP dan dapat merugikan pelamar maupun pihak yang memberikan contoh.

Seorang awardee LPDP, Heru Handika, membagikan sejumlah catatan yang menurutnya penting diperhatikan saat menulis esai. Catatan ini tidak hanya ditujukan bagi pelamar LPDP, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin melatih kemampuan menulis.

1. Menjaga fokus tulisan

Dalam seleksi LPDP, terdapat dua tema esai: “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”. Menurut Heru, tema pertama merupakan pengembangan dari tema sebelumnya, dengan penjabaran yang lebih rinci.

Ia menyarankan pelamar tidak memaksakan diri memasukkan terlalu banyak cerita sekaligus. Dalam pengalamannya, ia memilih hanya satu topik yang relevan dengan bidangnya. Karena berlatar biologi, ia menulis tentang kontribusinya dalam kajian keanekaragaman hayati Indonesia. Sementara untuk tema “Sukses Terbesar dalam Hidupku”, ia menautkannya dengan tema kontribusi, sehingga kedua esai tetap selaras meski tidak dinyatakan secara eksplisit.

Heru menilai, esai dengan satu fokus akan lebih mudah dikembangkan dan lebih kuat dibanding tulisan yang memuat banyak cerita yang berpotensi tidak saling terkait. Ia menekankan pentingnya membungkus pengalaman dan rencana menjadi narasi yang bermakna, sekaligus menggambarkan harapan untuk berkontribusi bagi Indonesia.

2. Menyusun esai dengan alur yang runut

Heru mengingatkan agar esai memiliki alur yang jelas dari awal hingga akhir. Meski esai tidak menggunakan subjudul seperti “Pendahuluan”, “Isi”, dan “Penutup”, struktur tersebut tetap perlu terasa dalam alur tulisan.

Ia mencontohkan, bila paragraf pembuka berangkat dari sebuah impian—misalnya ingin memajukan sektor tertentu—paragraf berikutnya dapat menjelaskan masalah yang ditemui. Setelah itu, argumen sebaiknya didukung contoh konkret mengenai upaya yang telah dilakukan atau rencana yang akan ditempuh. Menurutnya, membahas masalah tanpa menawarkan solusi sebaiknya dihindari. Pada bagian akhir, penulis dapat menutup dengan kesimpulan dan harapan ke depan.

3. Membuka dengan meyakinkan, menutup dengan berkesan

Bagian pendahuluan disebut Heru sebagai salah satu bagian tersulit dalam menulis esai. Karena itu, ia menyarankan pelamar memberi perhatian lebih pada pembuka agar tulisan memiliki kekuatan dan keunikan. Dalam pengalamannya, ia pernah memulai esai dengan menggambarkan realitas Indonesia sebelum masuk ke peran bidang yang ia tekuni. Pada esai lain, ia memulai dari harapan yang kontras dengan kenyataan yang ia temui, lalu mengembangkan cerita itu untuk menjelaskan definisi “kesuksesan” menurutnya.

Selain pembuka, penutup juga dinilai penting. Heru menyarankan penulis menutup esai dengan simpulan yang tegas dan kalimat yang menunjukkan keyakinan kuat. Ia menekankan bahwa contoh yang ia miliki tidak sempurna, namun dapat memberi gambaran tentang cara membangun tulisan.

4. Memberi jarak sebelum mengirim

Heru juga membagikan kebiasaan yang ia sebut sebagai “tips” penting: tidak langsung mengirim esai setelah selesai ditulis. Ia menyarankan naskah disimpan terlebih dahulu dan ditinggalkan selama beberapa waktu—mulai dari sehari hingga beberapa hari—sebelum dibaca ulang dan direvisi.

Menurutnya, saat pertama menulis, faktor emosional dapat membuat penulis merasa tulisannya sudah sangat baik. Jika langsung direvisi pada saat itu juga, hasilnya justru bisa semakin tidak rapi. Dengan memberi jarak, penulis dapat menilai kembali esai dengan pikiran lebih jernih, seolah membaca tulisan orang lain. Setelah yakin, barulah esai dikirim bersamaan dengan kelengkapan berkas lain.

Heru juga menyebut ia tidak memperoleh beasiswa LPDP pada percobaan pertama. Dalam proses lamaran berikutnya hingga akhirnya dipanggil wawancara, esai menjadi salah satu bagian yang ia perbaiki. Ia menutup catatannya dengan penekanan bahwa tulisannya merupakan pendapat pribadi—dapat dijadikan pedoman, namun pelamar tetap perlu menjadi diri sendiri dan menemukan pola menulis yang paling sesuai.

Catatan: Heru Handika merupakan penerima beasiswa LPDP tahun 2014. Ia disebut aktif sebagai mahasiswa Master of Science (Zoology) di University of Melbourne, Australia, dan melakukan penelitian di Museum Victoria, Melbourne.