BERITA TERKINI
Resensi ‘Lentera Pasundan’: Antologi Puisi Esai Jawa Barat yang Mengangkat Cinta, Konflik, dan Realitas Sosial

Resensi ‘Lentera Pasundan’: Antologi Puisi Esai Jawa Barat yang Mengangkat Cinta, Konflik, dan Realitas Sosial

Buku Lentera Pasundan (Provinsi Jawa Barat) merupakan antologi puisi esai yang terbit melalui Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, pada cetakan pertama Agustus 2018. Buku setebal 158 halaman ditambah xxi halaman ini memuat karya enam penyair—Ahmad Gaus, Denis Hilmawati, Jojo Rahardjo, Peri Sandi Huizhce, Tri Sanyoto, dan Ummi Rissa—dengan pengantar dari Eka Budianta. Hak penerbitan dicantumkan atas nama Denny J.A., dengan tim editor yang diketuai Nia Samsihono.

Dalam resensinya, Akaha Taufan Aminudin (Koordinator Persatuan Penulis Indonesia Satupena Jawa Timur) menyoroti keunikan buku ini sejak tampilan sampul. Desain grafis yang dikerjakan Danny Fadryana dan Maulana disebut menampilkan paduan warna krem, coklat, hitam, serta judul berwarna kuning, disertai ilustrasi patung dan bayangan alat tradisional Pasundan yang memancarkan warna hijau. Menurutnya, perpaduan visual tersebut selaras dengan tema dan memantik rasa ingin tahu pembaca terhadap isi buku.

Akaha menilai, dari awal hingga akhir pembaca disuguhi deretan puisi esai yang “menguras emosi” dan menggambarkan kesenjangan sosial yang terjadi di sekitar masyarakat. Ia juga menyebut setiap puisi menghadirkan hikmah, sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran, sekaligus membantu pembaca memahami peristiwa konflik dan sejarah yang diangkat melalui pendekatan puisi esai.

Resensi itu turut menjelaskan ciri puisi esai sebagai bentuk penulisan “puisi panjang bercatatan kaki” yang mengawinkan fakta dan fiksi. Catatan kaki dipandang sebagai media untuk mempermudah pembaca agar tidak salah tafsir dalam memaknai karya para penyair. Struktur buku disebut diawali pengantar, dilanjutkan prawacana, lalu puisi esai dari masing-masing penulis.

Enam puisi esai dalam antologi ini ditulis oleh: Ahmad Gaus dengan “Kutunggu di Cisadane”; Denis Hilmawati dengan “Lentera Cinta di Gedung Juang Tambun”; Jojo Rahardjo dengan “Laylis Istri Kontrak: Kisah Memilukan di Cisarua”; Peri Sandi Huizhce dengan “Mata Luka Sengkon Karta”; Tri Sanyoto dengan “Indramayu, Sebuah Ironi”; serta Ummi Rissa dengan “Noni, Gadis Cilik Bermata Bulat”. Pengantar Eka Budianta berjudul “Pencerahan Tak Boleh Berhenti”.

Dalam pengantarnya, Eka Budianta mengangkat pertanyaan tentang mengapa jeritan “Lepaskan, Pak, lepaskan, Pak, saya ingin sekolah!” bisa terdengar di Jawa Barat—provinsi yang disebut memiliki perguruan tinggi terbanyak. Ia menyebut jeritan itu ia temukan dari puisi esai karya Ummi Rissa, seorang penggiat Forum Sastra Bekasi yang kesehariannya mengajar siswa SMP dan SMA di Bekasi dan Cibinong.

Eka juga menyinggung gagasan bahwa bila setiap provinsi diisi enam tulisan, maka akan diperlukan hampir 200 penulis untuk menggarap seluruh kawasan Indonesia. Ia menyebut, bila jumlah provinsi menjadi 35, maka setidaknya dibutuhkan 210 penulis puisi esai. Dalam konteks itu, ia menyatakan dukungan terhadap inisiatif yang mendorong lahirnya genre-genre baru, bukan hanya puisi esai.

Akaha merangkum isi masing-masing karya. “Kutunggu di Cisadane” karya Ahmad Gaus berkisah tentang cinta Agnes dan Ridho yang berbeda etnis dan agama, dengan latar diskriminasi yang membuat keluarga Agnes berpikir etnis keturunan Tionghoa harus hidup eksklusif; cerita berujung pada bunuh diri Agnes di Sungai Cisadane. “Lentera Cinta di Gedung Juang Tambun” karya Denis Hilmawati bercerita tentang Pin Yin yang mendapat beasiswa kuliah di Belanda dan bertemu Dave; hubungan keduanya berkembang saat menelusuri leluhur keluarga.

Puisi esai “Laylis Istri Kontrak: Kisah Memilukan di Cisarua” karya Jojo Rahardjo mengangkat praktik kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, yang digambarkan sebagai transaksi dalam jangka waktu tertentu setelah prosesi pernikahan dan pemberian mahar, lalu berakhir dengan perceraian sesuai perjanjian. Sementara “Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizhce mengangkat kisah Sengkon dan Karta, dua petani yang menjadi korban salah tangkap, diadili secara tidak adil, dipenjara bertahun-tahun, hingga kemudian bertemu pelaku sebenarnya; peristiwa itu disebut turut menjadi latar bagi lahirnya Undang-Undang Peninjauan Kembali.

Dalam “Indramayu, Sebuah Ironi”, Tri Sanyoto menyoroti ironi Indramayu yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, namun nasib petaninya disebut tidak mujur dan wilayah itu tercatat sebagai penerima raskin terbanyak di Jawa Barat. Resensi tersebut juga menyebut kemiskinan membuat sebagian warga, termasuk anak-anak, terpaksa mengemis dan melacur, serta ada yang menjadi TKW dan buruh kasar. Adapun “Noni, Gadis Cilik Bermata Bulat” karya Ummi Rissa mengisahkan perjalanan hidup Noni yang mengalami pernikahan dini, perceraian, hingga tragedi kekerasan seksual terhadap anaknya, Gendis, yang berujung pada kematian ayah tiri.

Akaha menilai puisi esai masa kini memiliki kelebihan berupa ketersediaan sumber data dan rujukan yang melimpah, termasuk melalui mesin pencari informasi. Namun, ia juga mencatat sejumlah kelemahan, antara lain pemilihan kata yang dinilai kurang mudah dipahami, adanya kosakata yang tidak dijelaskan sehingga pembaca perlu mencari arti melalui KBBI atau internet, serta tingkat kesulitan simbol dan metafora. Ia menyebut tantangan lain adalah menyatukan bentuk dan isi secara organis, sehingga proses kreatif penyair perlu terus diasah.

Meski demikian, resensi tersebut menilai kritik sosial dalam antologi ini disampaikan secara “sejuk dan cerdas” melalui paparan puitis. Menurut Akaha, pendekatan puisi esai membuat isu lebih mudah dikomunikasikan, termasuk bagi pembaca pemula, sekaligus menarik bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung konteks konflik yang diangkat.

Resensi ini ditulis oleh Drs. Akaha Taufan Aminudin, yang lahir di Kota Batu pada 26 April 1963 dan tercatat sebagai Koordinator Persatuan Penulis Indonesia Satupena Jawa Timur. Dalam profilnya, Akaha disebut telah menerbitkan sejumlah karya, termasuk buku puisi, fiksi, dan kumpulan resensi, salah satunya 115 Resensi Puisi Esai, Dari Aceh hingga Papua (Cerah Budaya Indonesia, Februari 2019).