Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Silver Medal dalam ajang Global Insight 2024 International Essay Competition. Mereka adalah Firman Maulana Barokah dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Muhammad Dani Anko Putra dari Fakultas Kedokteran Gigi, serta Salfa Dwi Firmansyah dari Fakultas Kedokteran Hewan.
Kompetisi esai internasional tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR dan diikuti mahasiswa program S1 maupun D3/D4 dari berbagai universitas. Kegiatan yang mengusung tema Youth Innovation and Collaboration in Tackling Global Challenges to Achieve Sustainable Development Goals (SDGs) itu berlangsung di kampus UNAIR pada Sabtu (16/11/2024) dan Minggu (17/11/2024).
Dalam kompetisi itu, tim UNAIR mengangkat subtema Environmental Education and Awareness melalui esai berjudul E-Safe: Smart Learning Access for Disabilities Based AR and VR with Monitoring Learning Outcomes Through IOT in the Society 5.0. Gagasan yang mereka usulkan berupa media pembelajaran interaktif bagi siswa disabilitas.
Konsep media pembelajaran tersebut terdiri atas tiga perangkat, yakni meja augmented reality (AR), headset virtual reality (VR), dan kacamata VR. Meja AR dirancang untuk menampilkan konten visual dengan elemen digital sehingga memungkinkan siswa tunanetra, tunarungu, dan tunawicara merasakan objek 3D. Sementara itu, headset VR ditujukan bagi siswa tunanetra dan tunawicara agar dapat memahami materi secara visual tanpa bergantung pada instruksi verbal. Adapun kacamata VR diperuntukkan bagi siswa tunarungu dan tunawicara dengan hambatan sensorik, dengan fitur penyesuaian elemen visual sesuai kebutuhan pengguna.
Firman, yang mewakili tim, menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari kesenjangan fasilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, akses terhadap pendidikan dan fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih belum setara. “Di Indonesia itu kebanyakan penyandang disabilitas dengan yang bukan disabilitas pendidikannya tidak setara. Akses terhadap pendidikan dan fasilitasnya pun belum memadai. Dari latar belakang tersebut, kami memberi solusi untuk menciptakan yang inklusif untuk mereka,” ujarnya.
Firman juga menyebut kompetisi itu memberinya pengalaman berharga, termasuk kesempatan memperluas jejaring dengan mahasiswa dari berbagai universitas. Ia menambahkan, presentasi dan sesi tanya jawab yang menggunakan bahasa Inggris turut melatih kepercayaan dirinya dalam berbicara di depan umum. “Karena ini lomba internasional yang presentasi dan QnA nya pake bahasa inggris, aku jadi melatih kepercayaan diri dalam public speaking,” tutur Firman.
Ke depan, Firman berharap gagasan yang diusung timnya dapat direalisasikan dengan dukungan para pemangku kepentingan. Ia menilai ide tersebut membutuhkan biaya besar sehingga memerlukan pihak yang mampu memberikan dukungan. “Ide ini membutuhkan banyak biaya, jadi tentunya butuh pihak yang sekiranya mampu untuk memberikannya. Jika ide ini dapat banyak dukungan dari stakeholder, maka dapat terealisasi,” pungkasnya.