Sebuah kisah tentang gadis korban diskriminasi yang dipuisikan membuat seorang ibu terhenti di tengah halaman bacaan. Ia menangis bukan karena bahasa yang indah atau teori yang rumit, melainkan karena angka-angka statistik terasa berubah menjadi pengalaman manusia yang nyata. Gambaran itu menjadi pengantar pada pertanyaan yang lebih besar: setelah emosi awal berlalu, dan bahkan setelah penciptanya tiada, mampukah sebuah gagasan budaya tetap hidup serta menemukan tempat di hati generasi berikutnya?
Pertanyaan mengenai daya hidup sebuah gerakan budaya itulah yang menjadi salah satu latar pemikiran dalam tesis Magister Ilmu Komunikasi yang diselesaikan Amelia Fitriani di LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta, pada Januari 2026. Tesis tersebut berjudul Strategi Cultural Branding Komunitas Puisi Esai dalam Membangun Puisi Esai sebagai Produk Budaya di Industri Kreatif Indonesia.
Amelia Fitriani disebut memiliki latar pengalaman di dunia media, literasi, dan komunitas kreatif. Pengalaman sebagai editor, penggerak komunitas, dan peneliti membuatnya menyoroti aspek yang dinilai kerap terlewat dalam penelitian sastra.
Selama ini, banyak kajian tentang puisi esai bertumpu pada pertanyaan seputar kualitas karya: apakah puisi esai dianggap bagus, estetis, atau sesuai dengan teori sastra. Dalam tesisnya, Amelia mengajukan pertanyaan lain yang lebih luas, yakni bagaimana sebuah genre sastra baru dapat dibangun menjadi gerakan budaya.
Pergeseran pertanyaan tersebut mengubah fokus kajian dari teks menuju masyarakat, dari karya menuju komunitas, serta dari estetika menuju sejarah sosial. Tesis ini tidak memandang puisi esai semata sebagai kumpulan puisi, melainkan sebagai fenomena budaya yang tengah bertumbuh.
Dalam kerangka itu, puisi esai diposisikan sebagai ekosistem yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari penulis dan pembaca, festival, penerbitan, hingga alih wahana, media sosial, dan jejaring lintas negara. Sudut pandang semacam ini dinilai masih relatif jarang dalam dunia akademik Indonesia, sehingga tesis tersebut dipandang layak mendapatkan perhatian.