Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menunjukkan keseriusannya mengembangkan wisata kebugaran atau wellness tourism sebagai pilar baru pertumbuhan ekonomi. Salah satu gagasan yang didorong adalah konsep Jawawellness yang diperkenalkan Wali Kota Solo Respati Ardi sebagai identitas pengembangan wisata kebugaran berbasis budaya di Kota Bengawan.
Respati menyebut Jawawellness memadukan kesehatan fisik dengan ketenangan batin yang berakar pada warisan budaya leluhur masyarakat Jawa. Untuk mendukung gagasan tersebut, Pemkot Solo berencana menggelar Festival Suaraga pada awal Juli 2026. Festival ini ditujukan untuk memperkenalkan Solo sebagai The Wellness City of Java dengan semangat suara dan raga.
Di sisi lain, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga menyiapkan langkah konkret melalui paket wisata budaya berbasis pengalaman. Paket ini mengintegrasikan kunjungan destinasi budaya, edukasi seni, interaksi komunitas, serta eksplorasi warisan budaya Kota Solo. Program tersebut diperkenalkan lewat Solo Art and Culture Trip (SALT), paket wisata 3 hari 2 malam berbasis experiential tourism.
Upaya dari sektor perjalanan juga terlihat melalui Asita yang membuka paket wisata healing dengan agenda menonton Kirab 1 Sura di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran pada Selasa (16/6/2026).
Geliat wellness tourism tidak hanya datang dari pemerintah dan biro perjalanan. Di tingkat masyarakat, wisata kebugaran mulai dilihat sebagai potensi wisata sekaligus kebutuhan personal untuk menjaga kesehatan raga dan pikiran.
Salah satu contoh terlihat dari aktivitas komunitas wellness Healoria. Pada 17 Mei 2026, komunitas ini menggelar kelas yoga luar ruang di depan rumah mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), di Gang Kutai Utara, Sumber, Kota Solo.
Founder Healoria, Devi Putri Yudyawati, mengatakan komunitas tersebut lahir dari perjalanan spiritual dan personalnya dalam mencari keseimbangan hidup. Ia menilai banyak masyarakat di tengah hiruk-pikuk kota menyimpan kelelahan mental, namun tidak memiliki wadah penyaluran yang positif.
“Dari situlah muncul keinginan untuk menciptakan Healoria. Kami ingin menghadirkan ruang aman dan nyaman di mana siapa pun bisa melepaskan penat, bertumbuh, serta menemukan kembali ketenangan dan keseimbangan hidup melalui berbagai aktivitas wellness,” kata Devi.
Devi menyebut antusiasme warga cukup tinggi, tercermin dari peserta kelas Healoria yang mayoritas berasal dari kelompok usia produktif 20–45 tahun. Untuk menjaga kualitas ketenangan dan interaksi antarpeserta, kuota per kelas dibatasi sekitar 25–30 orang.
Healoria juga memilih konsep luar ruang sebagai pembeda dari kelas kebugaran konvensional. Menurut Devi, pengalaman beraktivitas di ruang terbuka memberi sensasi yang tidak didapatkan di ruangan tertutup, mulai dari udara segar hingga suasana alam. Komunitas ini pun kerap memanfaatkan ruang publik atau lokasi ikonik di Solo yang tidak lazim dijadikan arena yoga.
Aktivitas tersebut turut menarik perhatian peserta dari luar kota, seperti Semarang, Boyolali, dan wilayah lain di Jawa Tengah. Devi mencatat, pada Mei 2026 lalu, Jokowi sempat membaur dan mengikuti sesi yoga bersama Healoria di ruang publik. Ia menilai kehadiran Jokowi berdampak pada meningkatnya perhatian publik, termasuk jumlah penonton langsung yang disebutnya lebih banyak dibanding peserta.
Secara umum, Devi menilai infrastruktur dan ekosistem wellness di Solo sudah cukup baik. Namun, ia berharap Pemkot Solo semakin serius menata tata ruang yang ramah bagi komunitas, termasuk memperbanyak ruang hijau terbuka yang mudah diakses untuk berbagai kegiatan kesejahteraan masyarakat.
Selain aktivitas fisik, potensi wellness tourism juga terlihat dari budaya konsumsi jamu. Di kawasan aglomerasi Soloraya, tradisi minum jejamuan dan rempah disebut mulai digemari anak muda sebagai bagian dari gaya hidup sehat, termasuk setelah berolahraga.
Perubahan tren ini salah satunya dipotret oleh JajanRimpang, UMKM minuman sehat berbasis keluarga di kawasan Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, yang berbatasan dengan Kota Solo. Salah satu pendiri JajanRimpang, Fatimah Az Zahro, mengatakan usaha yang dimulai pada Februari 2025 itu berangkat dari pengamatan terhadap meningkatnya kesadaran warga urban pada kesehatan mental dan fisik.
“Awal-awalnya kami melihat di media sosial sudah banyak yang sadar tentang kesehatan. Jadi kami mencari ide membuat minuman yang bisa dinikmati semua kalangan. Hadirlah ide jamu, di mana jamunya ini tidak pahit tapi tidak menghilangkan bahan naturalnya,” ujar Fatimah.
Fatimah menjelaskan, JajanRimpang menghindari penggunaan gula pasir. Sebagai pengganti, mereka memakai pemanis alami seperti gula singkong, gula aren, dan madu. Produk dijual dengan kisaran harga Rp10.000–Rp14.000 per porsi. Menu yang disebut menjadi andalan antara lain kunyit asam serta minuman seduh bernama lawan angin yang berisi jahe, serai, cengkih, secang, dan kapulaga.
Ia mengakui memasarkan jamu di tengah tren kedai kopi kekinian memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, edukasi dilakukan lewat berbagai kegiatan, seperti membuka stan mobile di Car Free Day (CFD) kawasan Manahan hingga mengisi acara pernikahan.
Menurut Fatimah, upaya tersebut berdampak pada pasar yang kini banyak berasal dari warga kota yang peduli kesehatan serta wisatawan luar daerah. Ia menyebut tidak sedikit orang yang mampir untuk mencari oleh-oleh setelah mengetahui produk dari media sosial, termasuk anak muda yang datang setelah berolahraga.
Fatimah menilai tumbuhnya UMKM minuman sehat selaras dengan arah Pemkot Solo yang menggaungkan identitas Jawawellness. Ia berharap UMKM sehat mendapat ruang untuk berkembang dan berkolaborasi dengan sektor pariwisata, sekaligus menjadikan jamu sebagai daya tarik khas bagi wisatawan.
Ia juga optimistis tradisi minum jamu dapat tetap bertahan dan memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal, selama mampu beradaptasi dari sisi rasa dan penyajian. “Semoga rempah-rempah atau minuman sehat seperti ini juga bisa dikonsumsi dan menjadi kebiasaan keseharian masyarakat kita,” katanya.