Pertanyaan tentang cara hidup bahagia dan meminimalkan penderitaan telah lama menjadi bahan perenungan manusia. Dalam narasi yang kerap dikaitkan dengan Siddhartha Gautama Buddha sekitar 2.500 tahun lalu, kebahagiaan dipandang tidak semata ditentukan oleh kondisi eksternal—baik kemiskinan maupun kemewahan—melainkan oleh cara berpikir, bertindak, dan menjalani hidup.
Seiring waktu, pembahasan tentang kebahagiaan tidak hanya hadir dalam spekulasi filsafat dan ajaran agama, tetapi juga ditelaah melalui riset ilmiah. Berbagai metode seperti survei opini publik, riset eksperimental, hingga kajian psikologi digunakan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan kebahagiaan. Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam ulasan ini merangkum lima hal yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis.
1. Menata hubungan pribadi
Salah satu pembeda antara individu yang berada pada kelompok paling bahagia dan paling tidak bahagia disebut terkait dengan kualitas hubungan sosial. Riset G. Sandstrom dan E. Dunn (2014) menyimpulkan bahwa orang yang dikelilingi keluarga dan sahabat dengan relasi hangat serta akrab cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi dibanding mereka yang hidup terisolasi. Penekanan riset ini bukan pada banyaknya relasi, melainkan kualitas hubungan yang terbangun.
2. Membangun sikap hidup positif
Sikap hidup positif dalam ulasan ini dipaparkan dapat dimulai dari optimisme dan rasa syukur. Penelitian yang dipimpin Robert Emmons dari Universitas California—disebut meneliti 1.000 orang dalam kurun 10 tahun dan dikenal sebagai Journal of Gratitute—menyimpulkan bahwa individu yang terbiasa bersyukur dinilai lebih bahagia dan memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding mereka yang sering mengeluh.
3. Terlibat sepenuh hati dalam aktivitas
Keterlibatan yang mendalam dalam aktivitas, termasuk kemampuan mencapai kondisi yang dikenal sebagai “flow”, juga dikaitkan dengan kebahagiaan. Riset Universitas Chicago pada 1970 bertajuk Experience Sample Method (ESM), yang melibatkan 2.300 responden, menguji puncak emosi positif dari berbagai aktivitas. Kesimpulannya, responden yang mampu mencapai titik “flow” disebut lebih bahagia dibanding mereka yang menjalani hidup sekadar rutinitas.
Dalam konteks lain, psikolog Angela Duckworth pada 2013 mempublikasikan riset tentang faktor yang dinilai paling menentukan kesuksesan. Dari observasinya pada beragam situasi hidup responden, ia menyimpulkan bahwa faktor dominan bukan kecerdasan (IQ/EQ), kekayaan, atau penampilan fisik, melainkan passion dan kegigihan untuk mencapai tujuan jangka panjang, yang kemudian ia sebut sebagai “The True Grit”.
4. Pentingnya kemenangan kecil
Ulasan ini juga menekankan peran “kemenangan kecil” (small winning) dalam menjaga dorongan hidup dan memicu langkah positif berikutnya. Riset Teresa Amabile dan Steven Kremer (2011) yang dilakukan selama 15 tahun menguji pengaruh kemenangan kecil terhadap pencapaian target hidup responden. Penelitian yang dipublikasikan Harvard Businnes Review tersebut menyarankan pentingnya membuat target kecil yang terukur dan mudah dicapai untuk membangun persepsi menang. Bahkan, tujuan besar dinilai perlu diuraikan menjadi target-target kecil agar lebih mudah memunculkan rasa pencapaian.
5. Mengembangkan kehidupan spiritual
Dimensi spiritual juga disebut berhubungan dengan kebahagiaan, terutama melalui pencarian makna dan tujuan yang lebih besar. Dalam ulasan ini, kecerdasan spiritual diartikan sebagai kemampuan melihat kehidupan yang bermakna, melampaui kepentingan materi dan pribadi, serta mencakup unsur perjuangan dan pengorbanan. Riset Roy Bauemeister (2013) yang mengkaji hubungan antara pilihan hidup bermakna dan level kebahagiaan menyimpulkan adanya korelasi positif di antara keduanya.
Rangkaian temuan tersebut merangkum lima hal yang kerap disebut dalam riset sebagai faktor yang berkaitan dengan kebahagiaan: kualitas relasi, sikap positif dan rasa syukur, keterlibatan mendalam dalam aktivitas, pencapaian target kecil, serta kehidupan yang bermakna secara spiritual. Ulasan ini juga menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut dipandang dapat dilakukan tanpa dibatasi latar belakang agama, suku, ras, maupun gender.