BADUNG — Jurnalis senior sekaligus pendiri Narasi TV, Najwa Shihab, menilai kemampuan membangun argumentasi yang kuat menjadi pembeda di era ketika semua orang dapat menyampaikan opini. Menurut dia, keterampilan tersebut dapat diasah melalui menulis esai karena prosesnya menuntut penulis berpikir, menyusun logika, menguji asumsi, mencari data, dan mempertanggungjawabkan pendapat.
Hal itu disampaikan Najwa saat Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum di Grand Mercure Seminyak, Bali, Jumat, 26 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan menulis esai bukan sekadar memindahkan tulisan dari berbagai sumber ke kertas, melainkan sebuah proses yang membentuk cara berpikir.
Essay Contest Beswan Djarum disebut menjadi wadah pembentukan pola pikir kritis dan pemecahan masalah di kalangan generasi muda. Para peserta didorong mengangkat beragam keresahan dari kehidupan sehari-hari dan menawarkan solusi sebagai bentuk kontribusi.
Najwa yang juga menjadi juri kompetisi itu mengapresiasi para finalis yang dinilai rajin mencari informasi dan referensi. Ia menyebut proses penjurian turut memperlihatkan cara berpikir anak muda saat ini, mulai dari mengajak melihat persoalan besar dari hal-hal yang kerap dianggap biasa, mengangkat kelompok yang sering tidak terlihat, hingga memikirkan tantangan baru di masa depan.
“Dan itu kekuatan esai yang baik. Bukan hanya memberi jawaban, tapi juga membuat siapa pun yang membaca atau siapa pun yang mendengar idenya melihat sesuatu dengan cara yang berbeda,” kata Najwa.
Ia menekankan tantangan ke depan adalah bagaimana peserta semakin kritis membaca referensi, menguji data, membedakan fakta dengan asumsi, serta memastikan solusi yang ditawarkan benar-benar lahir dari analisis yang kokoh. Najwa juga menilai ketelitian perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, baik dalam dunia akademik maupun ketika kelak menjadi pengambil kebijakan.
Selain itu, Najwa berharap para peserta tetap berani menerima kritik setelah kompetisi berakhir. Menurut dia, selama presentasi para juri melihat banyak peserta mampu berdialog dengan pertanyaan yang mungkin belum pernah dipikirkan sebelumnya dan hal itu merupakan bagian dari proses belajar.
Najwa mengingatkan gagasan yang baik bukan gagasan yang tidak pernah dikritik, melainkan gagasan yang semakin kuat ketika diuji. Ia berpesan agar peserta memelihara keberanian melahirkan ide baru sekaligus kerendahan hati untuk terus menguji kebenaran ide tersebut.
Sementara itu, juri lainnya, Ronny Rachman Noor, mengatakan penulisan esai berbasis pengalaman di masyarakat dapat mengisi kekosongan di kampus yang lebih banyak menekankan tulisan ilmiah. Ia menilai esai yang berangkat dari realitas sosial bertujuan menajamkan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan di sekitarnya.
“Dia (mahasiswa) enggak peduli sama masyarakat gitu. Seolah-olah dia hidup itu di zona nyaman itu. Padahal lihat ke kiri ke kanannya sudah masalah itu. Nah nanti kalau dia sudah besar, jadi seorang pejabat harapannya peduli gitu,” ujar Guru Besar IPB University tersebut.