Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengusulkan tiga isu utama agar menjadi fokus pembahasan dalam 11th World Water Forum yang akan berlangsung di Riyadh, Arab Saudi, pada 21–25 Maret 2027. Tiga agenda tersebut mencakup penguatan ketahanan air untuk mendukung ketahanan pangan, penyediaan layanan air yang andal bagi masyarakat, serta peningkatan kerja sama internasional dalam pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan di bidang sumber daya air.
Usulan itu disampaikan Dody saat menghadiri Political Process Ministerial Segment Session pada 2nd Stakeholders Consultation Meeting (SCM) 11th World Water Forum di Jeddah, Minggu (28/6/2026). Ia menilai air memiliki peran penting dalam menopang berbagai sektor pembangunan, mulai dari pertanian, energi, penanganan perubahan iklim, hingga pengentasan kemiskinan. Dalam situasi global yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, menurutnya, air menjadi fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan.
Dody mengatakan pemahaman tersebut menjadi dasar komitmen Indonesia, baik saat menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 maupun dalam mendukung penyelenggaraan forum ke-11 di Arab Saudi. Ia juga memaparkan bahwa sektor pertanian mengonsumsi sekitar 72 persen dari total penggunaan air tawar dunia, sementara kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
Kondisi itu, menurut Dody, membuat pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan jaringan irigasi, penyediaan tampungan air, perlindungan daerah tangkapan air, penerapan pertanian cerdas, serta penguatan mitigasi risiko bencana.
Agenda pertama yang diusulkan Indonesia adalah memperkuat keterkaitan antara ketahanan air dan ketahanan pangan (water and food security nexus). Dody menekankan pentingnya memastikan pemanfaatan air secara optimal agar dapat berkontribusi pada peningkatan produksi pangan dan penguatan ketahanan pangan dunia.
Agenda kedua berkaitan dengan penguatan layanan air bagi masyarakat di kawasan perkotaan, pedesaan, maupun pulau-pulau kecil melalui pendekatan Integrated Water Resources Management (IWRM). Ia menilai ketersediaan layanan air yang berkualitas menjadi salah satu penopang pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber daya air maupun dampak perubahan iklim.
Dody menambahkan pengelolaan air tidak hanya menyangkut penyediaan air bersih, tetapi juga mencakup pengelolaan air limbah, pengurangan risiko bencana, penataan ruang, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Ia menyebut pengalaman Indonesia menunjukkan ketika layanan air tersedia dengan baik, pembangunan dan pertumbuhan akan mengikuti.
Agenda ketiga yang diajukan Indonesia adalah memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan kapasitas, inovasi, serta pertukaran pengetahuan di bidang sumber daya air. Sebagai tindak lanjut penyelenggaraan 10th World Water Forum di Bali, Indonesia membentuk Center of Excellence on Water and Climate sebagai wadah kolaborasi, peningkatan kapasitas, dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia di kawasan Asia Pasifik.
Pemerintah Indonesia juga membuka peluang kemitraan yang lebih luas dengan berbagai negara dan mitra pembangunan guna memperkuat peran pusat keunggulan tersebut dalam mendukung pengelolaan sumber daya air. Dody menyatakan Indonesia siap berkolaborasi untuk memperluas manfaat Center of Excellence melalui penguatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama di bidang sumber daya air.
Menutup pernyataannya, Dody menegaskan estafet penyelenggaraan World Water Forum dari Bali menuju Riyadh perlu menjadi kesempatan untuk memastikan berbagai komitmen yang telah disepakati tidak berhenti pada kesepakatan, melainkan diwujudkan melalui langkah nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Ia menekankan setiap proyek harus menghasilkan manfaat, setiap layanan perlu berkelanjutan, dan masyarakat harus merasakan dampak sebesar-besarnya dari pengelolaan sumber daya air.