BERITA TERKINI
Mengenal Wellness Retreat, Tren Liburan yang Berfokus pada Pemulihan Mental

Mengenal Wellness Retreat, Tren Liburan yang Berfokus pada Pemulihan Mental

JAKARTA — Tidak sedikit orang merasa butuh “liburan lagi” setelah liburan usai. Alih-alih kembali segar, sebagian justru mendapati tubuh dan pikiran lebih lelah saat harus kembali beraktivitas. Kondisi ini ikut mendorong perubahan tren berwisata, dari liburan padat agenda menjadi perjalanan yang lebih menekankan pemulihan diri.

Belakangan, wellness retreat semakin dilirik sebagai alternatif. Berbeda dari liburan biasa yang sering diisi jadwal wisata ketat atau mengejar tempat populer, wellness retreat menempatkan pemulihan fisik, mental, dan emosional sebagai tujuan utama. Dalam konsep ini, peserta diajak menjalani pola hidup lebih pelan atau slow living, agar tubuh dan pikiran mendapat ruang untuk beristirahat.

Kebutuhan akan jeda ini kerap dikaitkan dengan rutinitas kerja yang memicu kelelahan atau burnout. Liburan konvensional, pada beberapa kasus, hanya memindahkan stres dari kantor ke destinasi wisata. Wellness retreat menawarkan pendekatan berbeda dengan rangkaian program yang dirancang untuk membantu peserta menenangkan diri dan membangun kembali energi.

Sejumlah temuan ilmiah juga kerap dijadikan rujukan. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine mengamati efek liburan wellness retreat dan melaporkan adanya penurunan tingkat stres, kecemasan, serta depresi pada peserta hanya dalam waktu satu minggu. Efek positif dan ketenangan emosional tersebut disebut dapat bertahan hingga beberapa bulan setelah peserta kembali ke rutinitas.

Aktivitas dalam wellness retreat bervariasi, namun umumnya berfokus pada pemulihan menyeluruh. Salah satu program yang sering ditemui adalah digital detox, yakni peserta diminta mengurangi atau menanggalkan penggunaan gawai. Pada awalnya, sebagian orang merasa tidak nyaman karena ingin segera memeriksa media sosial, tetapi program ini ditujukan untuk meringankan beban mental.

Selain itu, wellness retreat biasanya tidak menekankan olahraga berat. Kegiatannya bisa berupa yoga pagi dengan pemandangan alam, meditasi pernapasan, atau jalan santai di area hijau, termasuk praktik forest bathing. Pola makan juga menjadi bagian program, dengan menu yang disiapkan oleh koki dan ahli gizi menggunakan bahan organik lokal, yang ditujukan untuk mendukung proses detoks tubuh.

Beberapa retreat turut menawarkan terapi pemulihan, mulai dari spa, pijat refleksi, hingga sound healing menggunakan singing bowl yang ditujukan untuk membantu menyeimbangkan kondisi tubuh. Seluruh rangkaian biasanya disusun agar peserta dapat beristirahat sekaligus membangun kebiasaan yang lebih sehat.

Dari sisi biaya, wellness retreat kerap dipandang lebih mahal karena umumnya sudah mencakup penginapan, konsumsi, serta program kelas. Namun, konsep ini sering diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan fisik dan mental.

Bagi mereka yang belakangan merasa mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan semangat, wellness retreat kerap dipertimbangkan sebagai opsi untuk mengambil jeda. Sejumlah lokasi yang disebut menawarkan suasana tenang antara lain Ubud dan kawasan pinggiran Yogyakarta, dengan tujuan memberi ruang bagi peserta untuk benar-benar beristirahat.