BERITA TERKINI
Melbourne Symphony Orchestra Tampilkan Kolaborasi Gejog Lesung dan Musik Klasik Barat di Jakarta

Melbourne Symphony Orchestra Tampilkan Kolaborasi Gejog Lesung dan Musik Klasik Barat di Jakarta

Melbourne Symphony Orchestra (MSO) kembali menghadirkan kolaborasi lintas budaya dalam konser yang digelar di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026) malam. Dalam penampilan kali ini, orkestra asal Australia tersebut mengusung konsep yang memadukan musik klasik Barat dengan unsur seni tradisional Indonesia.

Menjelang konser, MSO lebih dulu menggelar diskusi bertajuk Masterclass: Leadership in the Arts - Belajar Kepemimpinan di Industri Kreatif Bersama Melbourne Symphony Orchestra. Kegiatan itu dihadiri Head of Operations sekaligus Tour Manager MSO Callum Moncrieff dan Chief Operating Officer MSO Suzzane Dembo.

Dalam kesempatan tersebut, Callum Moncrieff menjelaskan bahwa gagasan kolaborasi berawal dari kerja sama MSO dengan komposer Indonesia, Vishnu Satyagraha, saat mengikuti Youth Music Camp di Yogyakarta. Menurut Callum, Vishnu mengusulkan ide untuk mengangkat budaya Indonesia melalui instrumen tradisional Gejog Lesung dan mengadaptasinya ke format musik orkestra Barat.

Callum memaparkan, proses kreatif dimulai dari pengenalan Gejog Lesung sebagai alat tradisional yang digunakan masyarakat untuk menumbuk padi. Dari aktivitas itu, muncul ritme khas yang kemudian diolah menjadi komposisi yang dapat dimainkan dengan instrumen klasik Barat.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan para pemain Gejog Lesung yang tampil bersama musisi MSO di atas panggung. Callum menyebut pengalaman itu berkesan bagi para musisi Australia karena memperkenalkan instrumen dan budaya yang baru bagi mereka. Ia juga menggambarkan para pemain Gejog Lesung sebagai kelompok muda yang energik dan turut bernyanyi serta menari saat tampil.

Keberhasilan kolaborasi di Yogyakarta, kata Callum, mendorong MSO untuk terus menghadirkan proyek lintas budaya setiap kali berkunjung ke Indonesia. Pada konser tahun ini, MSO membawa konsep baru dengan melibatkan seniman wayang kulit melalui karya yang ditulis bersama komposer Australia, Vishnu Satyagraha, serta musisi Indonesia lainnya.

Selain menjelaskan konsep pertunjukan, Callum juga mengungkap proses persiapan yang dijalani MSO sebelum tampil di Jakarta. Ia mengatakan persiapan secara keseluruhan berlangsung lebih dari enam bulan. Sebagian repertoar disebut sudah pernah dimainkan sebelumnya, sehingga musisi tidak sepenuhnya memulai dari awal.

Meski demikian, MSO tetap menjalani latihan intensif untuk memastikan kualitas penampilan tetap maksimal. Callum menyebut para musisi memeriksa ulang detail permainan, termasuk kekompakan gerak penggesek, pengaturan volume, hingga keselarasan permainan sebagai sebuah kelompok, mengingat mereka sudah lama tidak tampil bersama.

Menjelang konser Kamis malam, para musisi masih menjalani sesi latihan terakhir. Callum mengatakan mereka berlatih selama enam jam untuk menyempurnakan elemen-elemen kecil, lalu melanjutkan latihan sekitar dua jam sebelum konser dimulai.

Kolaborasi MSO dengan seniman dan musisi Indonesia sendiri berawal dari Youth Music Camp Yogyakarta, sebuah program pertukaran budaya dan pendidikan musik yang mempertemukan musisi MSO dengan musisi muda Indonesia. Melalui program itu, para peserta mengikuti pelatihan dan konser bersama, sekaligus mengembangkan karya kolaboratif yang memadukan musik orkestra Barat dengan kekayaan budaya Indonesia.