BERITA TERKINI
Makna “Jalan Lain” dalam Pesan Natal 2022: Ajakan Menata Hidup Baru Setelah Perayaan

Makna “Jalan Lain” dalam Pesan Natal 2022: Ajakan Menata Hidup Baru Setelah Perayaan

Perayaan Natal menjadi momentum bagi umat Kristiani di berbagai negara untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus. Lebih dari 2 miliar orang Kristen disebut akan memenuhi gereja-gereja di seluruh dunia, merayakan Natal dengan nyanyian dan doa syukur atas anugerah Allah dalam pribadi Yesus yang hidup dan karya-Nya yang menginspirasi banyak orang.

Di Indonesia, suasana Natal tampak di berbagai kota. Dalam masyarakat yang majemuk, perayaan ini juga digambarkan ikut disemarakkan oleh warga dengan keyakinan berbeda, sebagai bentuk penghargaan terhadap sesama warga bangsa. Natal pun dipandang sebagai kesempatan mempererat persaudaraan dan mendorong kehidupan yang damai serta harmonis.

Pesan Natal 2022 yang disampaikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengambil tema dari Matius 2:12: “... pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.” Kutipan tersebut merujuk pada kisah orang-orang bijak (Majus) yang datang dari negeri jauh ke Betlehem untuk menjumpai bayi Yesus. Dengan pengetahuan perbintangan, mereka mengikuti bintang hingga tiba di Yerusalem.

Dalam narasi itu, bintang penuntun sempat menghilang ketika mereka bertemu Raja Herodes, yang disebut memiliki niat buruk untuk menghabisi Yesus, Sang Raja yang baru lahir. Herodes membujuk para Majus agar kembali memberi kabar mengenai bayi tersebut. Namun setelah meninggalkan Yerusalem, bintang penunjuk jalan kembali tampak dan menghantar mereka sampai ke tempat bayi Yesus berada. Karena diperingatkan dalam mimpi agar tidak kembali kepada Herodes, para Majus pulang ke negeri mereka melalui jalan lain.

Frasa “jalan lain” dipahami sebagai titik tolak baru bagi setiap orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan itu digambarkan membawa perubahan, pembaruan, serta sukacita. Dalam konteks perayaan kelahiran Yesus Kristus, umat diajak mencari cara-cara baru yang kreatif untuk mewartakan kasih kepada sesama dan seluruh ciptaan, termasuk di tengah situasi yang sulit dan penuh kesedihan.

Teks tersebut juga menekankan pentingnya berjalan bersama dalam menghadapi masa-masa sulit, agar masyarakat dapat “pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat.” Natal disebut sebagai waktu jeda untuk mengisi kembali ruang batin dengan cinta, lalu menularkan kasih di lingkungan sekitar sebagai pengganti kemarahan dan kebencian. Ajakan yang disampaikan antara lain memperbanyak ungkapan kasih di media sosial, membangun kehidupan alih-alih menghancurkan, serta memperkuat kerukunan dan perdamaian di tengah menguatnya intoleransi dan kekerasan atas nama radikalisme beragama.

Selain itu, semangat Natal juga dikaitkan dengan dorongan menumbuhkan kejujuran di ruang publik untuk memutus budaya jalan pintas dan praktik korupsi yang disebut menjangkiti berbagai lapisan. Pesan tersebut turut mengangkat seruan “pertobatan ekologis” di tengah krisis lingkungan yang kian masif. Dalam ranah kehidupan berbangsa, Natal juga dipahami sebagai dorongan untuk mengekspresikan politik yang mengutamakan kepentingan bersama, berjiwa lapang, serta menjadikan akal sehat sebagai pegangan, terutama menjelang dinamika demokrasi tahun 2024.

Makna Natal, sebagaimana diuraikan, menjadi lebih kuat ketika “jalan lain” dimengerti sebagai upaya menata hidup baru setelah berjumpa dengan Tuhan yang hadir dalam pribadi Yesus Kristus. Jalan baru itu tidak selalu menjanjikan hidup yang lebih mudah, namun diyakini menegaskan bahwa Tuhan menyertai manusia dalam keterbatasan dan kerapuhan. Kelahiran Yesus dipahami sebagai tanda kehadiran Tuhan di tengah kehidupan, yang memberi pengharapan akan masa depan, damai sejahtera, dan keselamatan bagi orang-orang yang berkenan kepada-Nya.