BERITA TERKINI
Mahasiswa BKI UIN Saizu Raih Juara III Lomba Esai Nasional PANDIKNAS 2026 tentang Algoritma Media Sosial

Mahasiswa BKI UIN Saizu Raih Juara III Lomba Esai Nasional PANDIKNAS 2026 tentang Algoritma Media Sosial

Dua mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Kibtia Nafiranih dan Alifah Zahra Hamidah, meraih Juara III dalam ajang Lomba Esai Nasional PANDIKNAS 2026.

Kompetisi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Jenderal Soedirman dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026. Ajang tersebut mengusung tema “Digitalisasi dan Masa Depan Manusia: Bertumbuh Tanpa Kehilangan Nurani,” yang mendorong peserta mengkaji dampak perkembangan teknologi digital terhadap kehidupan manusia dari berbagai perspektif.

Rangkaian perlombaan berlangsung sejak 1 Mei hingga 7 Juni 2026. Tahapannya meliputi pendaftaran peserta pada 1–18 Mei, pengumpulan karya pada 1–19 Mei, pengumuman finalis pada 25 Mei, serta presentasi final dan penetapan pemenang pada 7 Juni 2026. Persaingan disebut berlangsung ketat dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang mengajukan gagasan dan analisis terkait tantangan dunia digital.

Dalam lomba tersebut, Kibtia dan Alifah mengangkat esai berjudul “Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Pembentukan Opini Publik pada Kasus Kekerasan Seksual Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Era Digital.” Melalui karya itu, keduanya mengkaji peran algoritma media sosial dalam menentukan informasi yang diterima pengguna, yang pada akhirnya turut memengaruhi cara masyarakat membentuk pandangan terhadap isu yang tengah menjadi perhatian publik.

Kibtia menjelaskan, penyebaran informasi yang masif di media sosial dapat membentuk persepsi, dukungan, kritik, hingga penilaian masyarakat terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam suatu peristiwa. Kasus kekerasan seksual di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dipilih sebagai studi kasus untuk melihat bagaimana opini publik berkembang cepat di ruang digital serta bagaimana algoritma dapat memengaruhi arah percakapan masyarakat.

Selain membahas peran algoritma dalam pembentukan opini publik, esai tersebut juga menekankan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi di berbagai platform media sosial. Keduanya mengajak masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu memiliki dasar fakta yang kuat. Mereka juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan empati saat menyikapi persoalan sosial yang berkembang di ruang digital.