BERITA TERKINI
Kisah Ichsan dan Armeina Tumbuh di MAN IC OKI, dari Ujian Diri hingga Menatap Peluang Sekolah Garuda Transformasi

Kisah Ichsan dan Armeina Tumbuh di MAN IC OKI, dari Ujian Diri hingga Menatap Peluang Sekolah Garuda Transformasi

Jakarta — MAN Insan Cendekia (IC) Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menjadi ruang tumbuh bagi para siswanya untuk membentuk keteguhan diri, semangat pantang menyerah, dan cita-cita. Dua di antaranya adalah Ichsan Muhammad Fathir dan Armeina Mujtahidah, yang sama-sama menuturkan perjalanan mereka menemukan arah hidup, menghadapi kegagalan, serta membangun mimpi sejak menempuh pendidikan di MAN IC OKI.

Ichsan, siswa kelas XII Kesehatan Sosial, mengatakan keputusan mendaftar ke MAN IC OKI berawal dari kesadaran bahwa ia perlu mengubah hidupnya. Ia mengingat masa SMP ketika merasa belum terarah, hingga akhirnya memilih untuk lebih realistis dan menentukan jalan hidup sendiri. Dorongan itu menguat setelah kakaknya memperkenalkan MAN Insan Cendekia. Meski belum banyak mengetahui tentang sekolah tersebut, ia memberanikan diri mendaftar dan menjalani bimbingan belajar panjang serta seleksi yang ketat.

Ichsan mengenang momen kelulusannya saat melihat pengumuman di laman resmi. Ia mengaku menangis karena campuran rasa tidak percaya dan bangga. Di balik itu, ia juga menghadapi tantangan finansial dan emosional, termasuk meyakinkan ibunya bahwa ia siap tinggal jauh dari keluarga. Hari pertama di asrama, menurutnya, menjadi titik balik. Meski sempat merasa sepi, kebersamaan dengan teman-teman pada malam pertama membuatnya yakin berada di tempat yang tepat.

Dalam perjalanannya, Ichsan juga mengalami kekecewaan besar ketika gagal menembus olimpiade biologi nasional setelah dua tahun berjuang. Ia menyebut kegagalan itu sempat membuatnya terpukul, namun kemudian menjadi pelajaran tentang ketulusan dan kesabaran. Sejak itu, ia memilih fokus memperbaiki nilai, belajar lebih keras, dan menyiapkan masa depan. Ichsan kini mantap mengejar cita-cita menjadi dokter, mimpi yang tumbuh dari pengalaman kehilangan ayahnya pada 2020.

Sementara itu, Armeina, siswi kelas XI Teknik, datang ke MAN IC OKI dengan perasaan gugup dan cenderung introver. Ia mengatakan dirinya dulu sangat pemalu, namun perlahan belajar berinisiatif berkomunikasi dan menjadi lebih berani. Armeina juga mengenang momen keberangkatan ke sekolah ketika kedua orang tuanya menemaninya sejak subuh. Perpisahan yang diwarnai air mata, menurutnya, berubah menjadi tekad untuk mandiri.

Pengalaman tinggal di asrama menjadi tantangan tersendiri bagi Armeina. Ia mengaku terkejut karena sebelumnya banyak hal dibantu ibunya, sementara di asrama ia harus mengurus semuanya sendiri. Dari situ, ia merasa belajar tentang tanggung jawab. Armeina juga sempat kecewa ketika gagal melanjutkan lomba lukis hingga babak final. Namun, dukungan teman-teman membuatnya tetap kuat. Ia mengatakan teman-temannya memahami kebutuhannya untuk memiliki waktu sendiri, sekaligus terus memberi semangat, sehingga ia merasa tidak sendirian.

Seiring waktu, Armeina mulai aktif berorganisasi dan meraih prestasi baru, termasuk medali emas lomba riset. Ia menilai perubahan dirinya cukup besar: dari pendiam menjadi lebih disiplin, mampu mengatur waktu, dan memiliki target untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Bagi Ichsan dan Armeina, MAN IC OKI menjadi “rumah kedua” tempat mereka belajar menghadapi kehilangan, merangkai mimpi, dan memaknai perjuangan. Keduanya menilai lingkungan sekolah—mulai dari teman, guru, hingga tantangan yang dihadapi—membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih kuat.

MAN IC OKI juga terpilih sebagai Sekolah Garuda Transformasi. Dengan status tersebut, peluang siswa untuk meraih cita-cita dinilai semakin terbuka, termasuk kesempatan menimba ilmu di luar negeri. Ichsan dan Armeina menyebut program ini tidak hanya memengaruhi cara mereka belajar, tetapi juga cara mereka membangun mimpi.