Manado — Ratusan seniman dan praktisi budaya di Sulawesi Utara berencana menggelar aksi demonstrasi pada pekan ketiga Oktober 2025. Aksi ini ditujukan ke Kantor Gubernur Sulawesi Utara dan DPRD, dengan tuntutan utama menolak kabar pengalihan lahan Taman Budaya Sulawesi Utara untuk peruntukan lain, yakni stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Koordinator aksi, Aldes Sambalao, mengatakan rencana perubahan fungsi tersebut memicu kegelisahan para pelaku seni. Menurutnya, Taman Budaya selama ini dipahami sebagai fasilitas yang disiapkan pemerintah daerah sebagai ruang bersama bagi seniman dan pelaku budaya.
“Padahal Taman Budaya Sulawesi Utara adalah sarana yang disiapkan pemerintah daerah sebagai rumah bersama para seniman dan pelaku budaya, dan kini pemerintah juga yang diduga akan menggeser fungsinya menjadi SPBU, ini membuat kami terpanggil untuk turun ke jalan,” ujar Aldes Sambalao, Sabtu (11/10/2025).
Dalam rencana aksi tersebut, massa disebut ingin menyampaikan aspirasi langsung kepada Gubernur Yulius Selvanus. Para demonstran juga menargetkan dapat bertemu wakil rakyat melalui forum rapat dengar pendapat di gedung DPRD.
Seniman menilai rencana alih fungsi Taman Budaya menambah panjang persoalan ruang ekspresi di Sulawesi Utara. Alfred Pontolondo menyebut para seniman merasa telah kehilangan ruang setelah gedung kesenian Pingkan Matindas dialihkan bukan untuk kepentingan seni, sementara Taman Budaya dinilai ditelantarkan.
“Para seniman Sulut gelisah, mereka telah kehilangan ruang ekspresi setelah gedung kesenian Pingkan Matindas dialihkan bukan untuk kepentingan seni, pun senasib dengan Taman Budaya yang ditelantarkan. Kini kawasan terlantar tersebut hendak diubah menjadi SPBU. Bagi para seniman, ini adalah musibah kebudayaan,” kata Alfred Pontolondo.
Taman Budaya Sulawesi Utara disebut memiliki sejarah panjang. Embrionya telah ada sejak akhir 1970-an dan sempat tergabung dengan Museum Negeri Sulawesi Utara. Kemudian, Taman Budaya dibangun terpisah di kawasan Rike, Kecamatan Wanea, Manado. Taman Budaya Sulut diresmikan pada 8 Januari 1987 oleh Prof Dr Fuad Hasan yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Sejak peresmian, tempat tersebut menjadi titik temu seniman dari berbagai disiplin, seperti teater, tari, musik, dan seni rupa. Beragam kegiatan disebut rutin berlangsung, mulai dari latihan, olah seni, pagelaran hingga pameran seni rupa.
Salah satu momentum penting terjadi pada 2016 ketika Taman Budaya Sulawesi Utara menjadi tuan rumah Temu Taman Budaya se-Indonesia yang mempertemukan ratusan seniman dari berbagai provinsi. Kegiatan saat itu meliputi pagelaran seni, pameran seni rupa, diskusi, serta wisata seni ke sejumlah lokasi di daratan Sulawesi Utara.
Namun, setelah itu aktivitas Taman Budaya disebut meredup. Pada 2017, bersamaan dengan pembentukan Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, status Taman Budaya yang semula berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dengan pimpinan setingkat eselon III diturunkan menjadi setingkat seksi atau eselon IV. Dengan alasan tidak menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pimpinan Dinas Kebudayaan Sulut saat itu, Ferry Sangian, memerintahkan staf Taman Budaya pindah ke kompleks Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Jalan WR Supratman, sehingga kawasan Taman Budaya di Rike dikosongkan.
Seiring waktu, kondisi kawasan itu disebut memburuk. Para seniman menggambarkan bangunan yang rusak dan area yang ditutupi tanaman rambat. Seniman senior Jhon Piet Sondakh menilai situasi tersebut sebagai keadaan darurat yang perlu diketahui masyarakat.
“Para seniman pun kehilangan rumah mereka, dan yang dihadapi sekarang adalah situasi darurat yang harus diketahui masyarakat Sulawesi Utara. Seni dan Budaya adalah jatidiri yang juga bagian penting dalam peradaban sebuah bangsa,” ujar Jhon Piet Sondakh.
Dalam rentang 2017 hingga 2025, sempat beredar kabar kompleks Taman Budaya akan dijadikan kampus sekolah tinggi pariwisata, namun disebut batal. Kini, kabar terbaru yang beredar adalah rencana perubahan menjadi SPBU.
Vick Baule menilai kabar tersebut sudah melewati batas kesabaran para pelaku seni. Ia mengkritik kesan bahwa kebudayaan kurang mendapat perhatian dibanding sektor ekonomi.
“Saya kira ini sudah di batas puncak kesabaran dan tidak bisa ditolerir lagi! Sudah cukup kesenian Sulawesi Utara direndahkan dan dianggap sektor tidak penting. Selama ini pemerintah terkesan hanya menganak-emaskan sektor ekonomi dan tidak peduli dengan kebudayaan,” kata Vick Baule.
Menjelang rencana aksi, para seniman juga melakukan kampanye penyelamatan Taman Budaya melalui media sosial dengan tagar #kebudayaanmemanggil. Aldes Sambalao menyebut kampanye itu sebagai ajakan kepada masyarakat Sulawesi Utara untuk ikut menanggapi isu tersebut.
“Ini ajakan untuk seluruh rakyat Sulawesi Utara agar bisa menanggapi bahwa seni dan budaya juga bagian dari kita semua, tanpa seni dan kebudayaan kita kehilangan jatidiri, tanpa keduanya manusia kembali ke masa peradaban purba,” ujar Aldes Sambalao.

