Kebahagiaan kerap dipahami sebagai perasaan, namun dalam perspektif sains, kondisi ini juga berkaitan dengan kerja molekul-molekul di dalam tubuh. Prof. Dr. Agutino Zulys, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kebahagiaan dipengaruhi oleh empat “molekul kebahagiaan” yang berperan dalam berbagai respons emosional dan fisik manusia.
Menurutnya, dopamin dikenal sebagai hormon pencapaian. Zat ini dapat memunculkan rasa senang ketika seseorang berhasil meraih sesuatu, seperti lulus ujian, diterima bekerja, atau bahkan mendapatkan notifikasi. Secara ilmiah, dopamin bekerja pada sistem penghargaan (reward system) di otak. Namun, ia mengingatkan bahwa kelebihan dopamin berpotensi memicu kecanduan terhadap hal-hal yang disukai, misalnya kebiasaan menggulir media sosial.
Molekul berikutnya adalah serotonin, yang disebut sebagai hormon ketenangan. Serotonin berperan membantu seseorang merasa lebih tenang dan stabil, sehingga tidak mudah mengalami stres.
Selain itu, ada endorfin yang dikenal sebagai pereda nyeri alami. Endorfin dapat dilepaskan saat seseorang berolahraga, tertawa, atau menangis karena lega. Secara kimia, endorfin disebut mirip opioid alami tubuh, yang dapat membantu mengurangi rasa sakit sekaligus meningkatkan rasa aman.
Molekul keempat adalah oksitosin, yang kerap disebut hormon cinta dan ikatan. Oksitosin dapat meningkat ketika seseorang berbagi dan merasa dekat dengan orang lain. Prof. Agutino menyampaikan bahwa oksitosin juga terbukti menurunkan hormon stres, yaitu kortisol.
Untuk meningkatkan hormon-hormon tersebut, ia menyebut sejumlah aktivitas yang dapat dilakukan, seperti berolahraga dengan cara yang menyenangkan, memperkuat interaksi sosial, bermain bersama anak, membangun romantisme dengan pasangan sah, menjalankan hobi, serta melakukan berbagai kegiatan positif dan menyenangkan lainnya.