SURABAYA – Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, sebagian orang menyimpan luka batin yang kerap berakar dari pengalaman masa kecil. Seiring bertambahnya usia, terutama pada kalangan muda yang mulai memasuki fase dewasa, kesadaran untuk menyembuhkan luka masa lalu dinilai penting agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan utuh.
Isu tersebut dibahas dalam forum pengembangan diri bertajuk “From Hurt to Healing: Break the Pattern. Rewrite Your Story. Lead Beyond Limits” yang digelar di Plaza BRI Surabaya. Dalam sesi ini, Meilinda Sutanto, praktisi bersertifikat Family Constellation sekaligus penerima penghargaan Fortune 40 Under 40 sebagai fasilitator utama, memaparkan pendekatan penyembuhan yang berfokus pada pola relasi dan dinamika keluarga.
Family Constellation diperkenalkan sebagai metode penyembuhan sistemik untuk membantu mengurai pola hubungan, luka batin, serta loyalitas tak sadar yang diwariskan dalam sistem keluarga. “Sering kali batas terbesar kita bukan berasal dari luar, tapi dari dalam, dari cerita lama yang kita warisi tanpa sadar. Ketika kita berani melihat ke dalam, kita memberi diri kita kesempatan untuk sembuh dan memulai babak baru,” ujar Meilinda, Sabtu (5/7/2025).
Menurut penyelenggara, sesi ini tidak hanya berisi pemaparan teori, tetapi juga diarahkan untuk menyentuh akar emosional peserta. Pembahasan turut mencakup dinamika relasi orang tua-anak dan pola yang muncul dalam hubungan pasangan.
Meilinda menekankan pentingnya kesadaran dan batas yang sehat dalam relasi. “Kaku bukan berarti tak cinta. Dalam hubungan, cinta membutuhkan kesadaran dan batas yang sehat. Pasangan adalah cermin diri, apa yang kita beri, itu yang kita terima. Dalam keluarga, semua punya tempat, namun dalam bisnis keluarga, sistem membutuhkan struktur,” katanya.
Selain membahas relasi, peserta juga diajak memahami cara membebaskan diri dari pola bawah sadar yang membatasi serta membangun ketahanan emosional. Proses penyembuhan dipandang sebagai fondasi yang relevan dalam membentuk kepemimpinan, terutama bagi generasi muda.
Acara ini digelar oleh Junior Chamber International (JCI) East Java. Executive Vice President JCI East Java 2025, Cynthia Angelina, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk menyiapkan pemimpin muda yang seimbang. “Acara ini merupakan wujud komitmen JCI East Java untuk membentuk pemimpin muda yang seimbang, memiliki kecerdasan intelektual sekaligus emosional,” tuturnya.
Project Director acara, Stevanie Sumarga, menilai ruang aman untuk refleksi diri diperlukan agar generasi muda dapat menata ulang narasi hidup dan membangun kepemimpinan yang lebih autentik. “Kita tidak bisa memimpin orang lain sebelum mampu memimpin diri sendiri. Pemimpin sejati lahir dari kesadaran diri, bukan hanya kemampuan teknis,” tegasnya.

