Jakarta — Aktris Ayu Dyah Pasha mengatakan film Kamu Tidak Sendiri membuatnya semakin menyadari dampak “inner child” yang terluka, yang menurutnya dapat berpengaruh besar pada kehidupan seseorang ketika memasuki usia dewasa.
Inner child dipahami sebagai kumpulan pengalaman baik maupun buruk yang dialami seseorang pada masa kecil. Pengalaman tersebut dapat membentuk respons, sifat, dan sikap seseorang saat tumbuh dewasa.
“Sebagai orang tua saya merasa dapat sekali pesannya bahwa ya hati-hati dengan inner child dari anak kita sendiri. Kita enggak tahu apa yang terjadi pada anak kita sehingga dia tumbuh menjadi orang dewasa yang antisosial, ya mungkin karena masa kecilnya menurut dia pahit,” kata Ayu usai special screening di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (4/8) malam.
Pesan bagi orang tua
Ayu menilai orang tua perlu memberikan perhatian penuh kepada anak untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
“Sebagai orang tua kita patut memahami apa yang sebetulnya terjadi pada anak kita, sebelum kehilangan dia,” ujar Ayu.
Dalam film tersebut, Ayu berperan sebagai ibu dari Mira yang dimainkan Adinia Wirasti. Diceritakan, Mira memiliki pengalaman pahit dengan orang tuanya saat kecil, yang kemudian memengaruhi dirinya ketika dewasa hingga menjadi pribadi yang kurang bergaul dengan lingkungan sekitar, termasuk dengan ibunya.
“Ibunya pun selama ini enggak pernah menyadari bahwa dia sebenarnya sudah kehilangan anaknya,” imbuh Ayu.
Cerita berlatar lift dan pujian untuk akting
Disutradarai Arwin T Wardhana, Kamu Tidak Sendiri mengisahkan Mira (Adinia Wirasti) yang terjebak di dalam lift bersama pengagum rahasianya, Mika (Ganindra Bimo), saat gempa besar melanda kota. Dalam situasi terkurung itu, Mira kembali memikirkan arti hidup dan relasinya dengan sesama.
Salah satu keunikan film ini, hampir sepanjang durasinya berlatar di dalam lift. Ayu menyebut ide cerita tersebut menarik dan menilai film mampu mempertahankan ketegangan tanpa membuat penonton jenuh.
Ia juga memuji penampilan Adinia Wirasti yang dinilainya berhasil membangun emosi. “Adinia main kayak monolog, walaupun ada Rio Dewanto juga yang akhirnya muncul. Idenya keren menurut saya. Hanya dalam satu kotak bisa jadi satu cerita yang enggak membosankan,” kata Ayu.
Menurut Ayu, tiap adegan tak hanya menegangkan, tetapi juga menghadirkan rasa takut, cemas, hingga depresi yang dialami tokoh. “Setiap scene, enggak cuma menegangkan. Tapi, kita juga merasakan ketakutannya, kecemasannya, depresinya. Kalau kita amati, Adinia berhasil memainkan perannya,” pungkasnya.

