Seekor badak tiba-tiba tersesat ke tengah kota dan singgah di halaman rumah penulis. Kejadian tak terduga itu membuatnya terperangah, terlebih karena selama ini badak dikenal sebagai satwa langka yang semestinya jauh dari permukiman.
Dalam renungannya, penulis mempertanyakan anggapan bahwa badak “selalu” langka. Ia menyinggung catatan Alfred Russel Wallace—ahli taksonomi asal Inggris yang mengunjungi Nusantara pada 1854–1862—yang menulis dalam The Malay Archipelago bahwa badak Sumatera kala itu masih banyak. Wallace mengaku kerap menemukan jejak dan kotorannya, sesekali mendengar kegaduhan di hutan saat badak mencari makan, serta pernah memperoleh tengkorak dan gigi badak yang ditemukan penduduk setempat.
Namun, bagi penulis, masa lalu tidak pernah benar-benar sama dengan masa kini. Catatan tentang kelimpahan badak di masa lampau kini tinggal deret angka yang terus menyusut, sementara ingatan tentang badak kerap hadir sebagai nostalgia yang tak selalu menyenangkan—bahkan sekadar melalui jejak dan kotoran.
Penulis kemudian menyinggung perburuan badak yang didorong kerakusan pasar, permintaan, dan obsesi tertentu terhadap cula. Ia menggambarkan bagaimana mitos tentang cula yang dikaitkan dengan keperkasaan turut mengukuhkan praktik perburuan. Di tengah itu, ia menyoroti ironi: manusia ingin “seperkasa badak”, tetapi enggan menerima segala hal yang melekat pada badak, termasuk citra buruk seperti sebutan “muka badak”.
Di saat yang sama, penulis menyampaikan kekhawatiran bahwa kelak badak hanya akan dikenal lewat representasi “badak-yang-bukan-badak”: patung-patung di ruang publik atau suvenir. Ia bahkan mengingatkan kemungkinan patung-patung itu disalahpahami dan dituntut untuk dihancurkan, sebagaimana pernah terjadi pada patung-patung di Kota Serang beberapa tahun lampau.
Renungan itu berlanjut ketika penulis teringat prosa lirik F. Rahardi berjudul Negeri Badak, yang memuat gagasan tentang kloning massal agar cula bisa diproduksi murah dalam jumlah tak terbatas. Dari sana, penulis membayangkan skenario kloning atau rekayasa genetik badak seperti dalam film-film Hollywood.
Dalam bayangan tersebut, badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dari Taman Nasional Ujung Kulon digambarkan mengantre untuk dikloning agar populasinya—yang disebutnya kini tidak lebih dari 50 ekor atau mungkin kurang—dapat berlipat ganda. Ia juga menyebut badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, serta menyinggung bahwa pada 2013 badak Sumatera telah dinyatakan punah di habitat aslinya di Semenanjung Malaysia, Sabah, Serawak, dan Kerinci Seblat. Dalam skenario itu, sebagian badak dibayangkan dapat kembali ke habitat semula.
Penulis membayangkan keberhasilan upaya tersebut akan disambut baik oleh dunia kedokteran, aktivis konservasi, dan generasi mendatang—yang tak lagi hanya membaca catatan lama, melainkan bisa menemukan jejak dan kotoran badak di banyak tempat. Namun, harapan itu segera diganggu pertanyaan lain: bagaimana jika kloning berjalan lebih lambat dibanding para pemburu cula?
Di hadapan badak yang masih siaga di halaman rumahnya, penulis kembali mempertanyakan mengapa mitos melekat begitu kuat pada cula. Ia menyindir cara manusia mengejar sugesti dan keuntungan dari mitos, bahkan sampai memaknai adagium “kau adalah apa yang kau makan” secara serampangan. Ia membandingkan dengan hal lain yang dianggap lebih “wajar”, seperti manusia melatih tubuh atau kecepatan, tetapi tidak sampai memburu satwa tertentu demi memakan bagian tubuhnya untuk memperoleh kemampuan.
Menjelang akhir, esai bergerak ke wilayah imajinatif: dari kejauhan terdengar huru-hara, debu membumbung, dan badak-badak berlarian dalam jumlah besar—dua, lima, tujuh, sepuluh, lima puluh, seratus, bahkan mungkin seribu. Kepanikan meluas, dan badak yang semula ada di halaman rumah penulis menghilang, seolah bergabung dengan kawanan itu.
Dunia dalam bayangan penulis berubah: televisi, radio, kantor polisi, gedung pemerintahan, kampus, hingga kantor imigrasi dipenuhi badak. Manusia pun digambarkan bermetamorfosis menjadi badak, membentuk “masyarakat badak”. Di titik itu, penulis menyebut bayangan Eugene Ionesco—penulis absurd—dan berharap menjadi Berenger dalam lakon Rhinoceros.