BERITA TERKINI
Episode Perdana Teach You A Lesson Soroti Perundungan Sistematis dan Kebungkaman Sekolah

Episode Perdana Teach You A Lesson Soroti Perundungan Sistematis dan Kebungkaman Sekolah

Episode pertama drama Korea Teach You A Lesson membuka cerita dengan gambaran keras tentang perundungan di sekolah yang digambarkan bukan sebagai insiden tunggal, melainkan budaya yang berlangsung lama dan diwariskan. Sejak awal, serial ini menekankan bahwa perundungan telah menjadi persoalan yang rumit dan sistematis, melampaui sekadar teguran atau nasihat.

Kisah berpusat pada Park Dae Seok, seorang siswa yang dipaksa menjalani peran sebagai “jongos” bagi murid-murid yang lebih berkuasa. Status tersebut digambarkan sebagai tradisi perundungan yang berpindah dari korban sebelumnya, Kim Gyeong Min, melalui penyerahan “tongkat jongos” yang menandai perpindahan penderitaan dari satu siswa ke siswa lain.

Bagi Dae Seok, tekanan yang terus-menerus—dipermalukan, diperintah, dan diperlakukan tanpa martabat—berujung pada keputusan tragis. Ia mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai atas gedung sekolah. Kematian ini menjadi titik awal cerita sekaligus penegasan bahwa perundungan bukan semata kenakalan remaja, tetapi bentuk kekerasan yang dapat merenggut nyawa.

Namun, episode perdana juga menunjukkan bahwa tragedi tersebut tidak otomatis menghentikan kekerasan. Perundungan justru berlanjut dan kembali menyasar Kim Gyeong Min. Ia digambarkan mengalami pemukulan berulang hingga tubuhnya penuh luka dan darah, sementara lingkungan sekitar memilih diam. Tidak ada yang menghentikan, tidak ada yang membela, dan sebagian hanya menonton seolah kekerasan adalah hal lumrah di sekolah.

Dalam episode ini, perundungan ditampilkan tumbuh dari pembiaran. Korban tidak hanya menghadapi kekerasan fisik dan verbal, tetapi juga kehilangan ruang aman untuk meminta perlindungan. Teman-teman memilih diam agar tidak ikut menjadi sasaran, sedangkan pihak sekolah digambarkan ragu bertindak dan lebih menjaga citra ketimbang menyelesaikan masalah.

Gambaran tersebut selaras dengan pembahasan dalam penelitian Darmawan (2017) di Jurnal Pendidikan tentang fenomena bullying di sekolah, yang menyoroti bagaimana perundungan verbal sering dipandang sebagai candaan atau bagian dari interaksi sehari-hari. Dalam drama, situasi ini tampak melalui reaksi siswa lain yang menonton, tertawa, atau merekam tanpa merasa ada yang salah. Normalisasi semacam itu membuat kekerasan terus berulang dan semakin sulit dihentikan.

Episode pertama juga menyoroti relasi kuasa di lingkungan sekolah. Kim Gyeong Min digambarkan mendengar percakapan para guru yang menunjukkan sikap pasrah dan ketakutan. Salah satu latar yang memperkuat ketakutan itu adalah peristiwa seorang guru yang pernah ditusuk murid, membuat para pendidik memilih diam sebagai opsi paling aman.

Di sisi lain, sekolah juga menghadapi sosok Ryu Jun Heong, anak dari kandidat presiden terkuat di Korea Selatan. Karakter ini diposisikan sebagai sumber ketakutan karena pengaruh dan status keluarganya, yang membuatnya seolah kebal dari konsekuensi. Melalui tokoh tersebut, drama menampilkan kritik bahwa privilese dan kekuasaan dapat menekan penegakan keadilan di institusi pendidikan.

Perspektif ini sejalan dengan penelitian Arief Efianingrum (2018) dalam Dimensia berjudul “Membaca Realitas Bullying di Sekolah: Tinjauan Multiperspektif Sosiologi,” yang menekankan bahwa bullying tidak hanya soal individu, melainkan dipengaruhi struktur sosial seperti relasi kuasa, dominasi kelompok, dan legitimasi dari lingkungan. Dalam episode ini, kekuasaan di sekolah digambarkan tumbuh karena sistem membiarkannya, sementara sekolah lebih fokus pada stabilitas ketimbang keadilan.

Konflik kemudian bergerak ketika diperkenalkan karakter Na Hwa Jin dari Biro Perlindungan Hak Pendidikan Korea Selatan. Biro tersebut disebut memiliki kewenangan khusus, termasuk penggunaan metode yang tidak lazim untuk menghentikan pelaku perundungan dan memberi efek jera. Kehadiran Na Hwa Jin memunculkan pertanyaan moral: apakah keadilan harus ditempuh melalui cara yang keras.

Na Hwa Jin tidak digambarkan sebagai pahlawan ideal. Ia bertindak tegas dan menggunakan tekanan terhadap pelaku, bahkan beberapa tindakannya terasa berada di luar pendekatan pendidikan yang umum. Di titik ini, drama mengajak penonton menimbang batas antara perlindungan korban dan penggunaan kekerasan sebagai alat penegakan keadilan.

Pembacaan tersebut juga dikaitkan dengan temuan Irvan Usman (2013) dalam Humanitas: Indonesian Psychological Journal berjudul “Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya, Iklim Sekolah, dan Perilaku Bullying,” yang menekankan bahwa pencegahan perundungan tidak cukup hanya menghukum pelaku. Upaya itu perlu disertai pembangunan budaya sekolah yang aman, saling menghormati, dan berpihak kepada korban.

Dalam konteks cerita, Na Hwa Jin diposisikan bukan semata solusi, melainkan konsekuensi dari sistem yang dinilai gagal: guru memilih diam, sekolah mengutamakan citra, dan kekuasaan mampu membungkam keadilan. Episode perdana menutup kesan bahwa luka terdalam korban tidak hanya datang dari kekerasan fisik atau hinaan, tetapi juga dari pengalaman ditinggalkan ketika tidak ada yang berani berdiri di pihaknya.