BERITA TERKINI
Ekonomi Tertekan, Konser Tetap Ramai: Hiburan, Katarsis, dan Harga Tiket yang Kian Naik

Ekonomi Tertekan, Konser Tetap Ramai: Hiburan, Katarsis, dan Harga Tiket yang Kian Naik

Bagi Bintang Aulia (30), konser dan festival musik bukan sekadar hiburan. Di tengah ritme kerja yang padat dan target di industri perbankan, pertunjukan musik menjadi ruang pelarian untuk melepas stres. Ia menilai pengalaman menonton langsung tidak tergantikan hanya dengan mendengarkan lagu lewat gawai.

“Musik buatku hiburan sekaligus pelepas stres. Makanya aku suka banget nonton konser. Entah kenapa kalau nonton langsung rasanya puas. Bisa teriak, nyanyi, joget, buat melampiaskan semua masalah kerjaan dan kehidupan,” kata Bintang kepada Tirto, Rabu (8/7/2026).

Sejak memiliki penghasilan sendiri hampir satu dekade lalu, Bintang mengaku rutin menghadiri sedikitnya dua hingga tiga konser atau festival musik setiap tahun. Meski menyukai K-Pop, ia juga menonton musisi lokal, mulai dari Nadin Amizah hingga Sheila On 7. Untuk hobi tersebut, ia mengaku bisa menghabiskan dana hingga puluhan juta rupiah per tahun. Pada konser grup K-Pop idolanya beberapa tahun lalu, ia menyebut mengeluarkan sekitar Rp8 juta untuk tiket, lightstick, suvenir, dan pernak-pernik lainnya.

Desember mendatang, Bintang juga telah menyiapkan anggaran untuk menonton konser BTS World Tour Arirang di Jakarta. Namun ia mengakui penghasilannya bukan termasuk besar. Biaya konser kerap menjadi pos pengeluaran terbesar sehingga ia memangkas kebutuhan lain agar tetap bisa membeli tiket. “Gajiku sebenarnya enggak besar dan sering habis buat nonton konser. Tapi memang ini jadi prioritas hiburanku sekarang. Mumpung juga belum punya anak dan tanggungan masih belum banyak,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Naufal. Ia memandang konser sebagai jeda dari tekanan pekerjaan, dan biaya yang dikeluarkan sepadan dengan pengalaman yang bisa dikenang lama. Karena memiliki daftar musisi internasional yang ingin disaksikan, ia menilai kesempatan konser di Indonesia belum tentu datang dua kali, sehingga harga tiket yang mahal tidak selalu menjadi alasan untuk mengurungkan niat.

Di sisi lain, keresahan soal harga tiket yang terus naik juga menguat. Bintang, yang rutin menonton konser selama hampir satu dekade, menilai kenaikan harga memang terjadi setiap tahun, tetapi lonjakan sepanjang 2026 terasa lebih tajam. Ia mengaitkannya dengan kondisi ekonomi global, perang, kenaikan harga avtur, dan kurs dolar yang lebih tinggi.

Tata, pekerja di industri kreatif, juga merasakan tekanan serupa. Baginya, konser menjadi cara efektif mengurai kepenatan akibat tenggat dan target tinggi. Namun, kenaikan harga tiket membuatnya kini lebih berhitung. Jika sebelumnya ia bisa membeli tiket secara lebih spontan, kini ia mengaku harus selektif dan memprioritaskan musisi yang benar-benar disukai, terutama yang belum pernah ia tonton secara langsung. “Masih pengen dan kayaknya tetap akan nonton konser. Tapi sekarang lebih milih-milih,” katanya, Rabu (8/7/2026).

Antusiasme tinggi, meski anggaran terbatas

Cerita para penonton itu sejalan dengan temuan survei Jakpat bertajuk Music Concert Trends & Fan Behaviour 2025 yang melibatkan 1.658 responden pada 15–17 Agustus 2025. Survei tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap konser masih tinggi. Sebanyak 52 persen responden menyebut hiburan sebagai alasan utama datang ke konser, sementara 46 persen lainnya menyatakan ingin melepas stres. Namun, harga tiket tetap menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian.

Temuan itu konsisten dengan survei Jakpat pada 2024: sekitar 80 persen responden mengaku senang menghadiri konser musik secara langsung, dengan alasan dominan kebutuhan hiburan (55 persen) dan meredakan stres (50 persen). Survei Populix pada Oktober 2023 juga menunjukkan 77 persen responden tertarik menghadiri konser musik, dan sebagian besar menonton satu hingga tiga konser per tahun.

Meski minat tinggi, kemampuan finansial menjadi tantangan. Data Jakpat menunjukkan hanya satu dari empat responden yang menyiapkan anggaran khusus untuk membeli tiket konser. Selebihnya mengaku menyesuaikan pos pengeluaran lain agar tetap bisa hadir. Jakpat Lead Researcher Farida Hasna menilai kondisi itu mengonfirmasi bahwa konser kerap menjadi “prioritas emosional” meskipun ada risiko finansial.

Harga tiket naik, tetapi biaya dan pasar ikut mendorong

Keluhan harga tiket tidak hanya muncul pada konser 2026. Penelusuran Tirto terhadap sejumlah pertunjukan musisi internasional menunjukkan tren kenaikan sudah berlangsung sejak sebelum pandemi COVID-19, meski lajunya beberapa tahun terakhir terasa lebih cepat.

Konser Katy Perry di Jakarta pada April 2018, misalnya, mematok harga tiket Rp900 ribu hingga Rp5 juta dan sempat menuai perdebatan di media sosial. Dibandingkan negara tetangga, harga di beberapa kategori juga lebih tinggi. Di Singapura, tiket konser yang sama dijual sekitar 128–328 dolar Singapura (setara Rp1,2 juta–Rp3,4 juta saat itu), sedangkan di Jepang berkisar 10 ribu–30 ribu yen (sekitar Rp1,2 juta–Rp3,6 juta).

Delapan tahun kemudian, harga tiket konser internasional di Indonesia semakin tinggi. Pada paruh kedua 2026, Indonesia menjadi tujuan tur sejumlah musisi dunia seperti The Neighbourhood, Mitski, BABYMONSTER, LANY, Guns N’ Roses, My Chemical Romance, 5 Seconds of Summer, hingga BTS. Penelusuran Tirto terhadap delapan konser internasional itu menunjukkan harga tiket termurah rata-rata berada di kisaran Rp850 ribu–Rp900 ribu, sementara kategori premium mencapai Rp7,5 juta.

Kenaikan serupa terlihat pada festival musik. Hammersonic Festival yang konsisten digelar sejak 2012, pada awalnya menjual tiket Rp150 ribu–Rp200 ribu. Pada penyelenggaraan terakhir pada 2024, harga tiket dua hari mencapai Rp1,2 juta–Rp2,5 juta. Dalam sekitar satu dekade, kenaikannya mendekati sepuluh kali lipat.

Namun, harga tinggi tidak selalu berarti keuntungan promotor. Hammersonic Festival 2026 menunjukkan bagaimana situasi global dapat memukul industri konser. Ketidakpastian geopolitik membuat sejumlah penampil, seperti New Found Glory dan The Story So Far, membatalkan kehadiran. Meski promotor mengumumkan pengganti, perubahan itu memengaruhi ekspektasi pasar. Ravel Entertainment kemudian memangkas harga tiket hingga separuhnya: tiket dua hari dari Rp1,1 juta menjadi Rp550 ribu.

Di tingkat global, studi konsultan PMP Strategy mencatat harga tiket konser di Eropa meningkat lebih cepat daripada inflasi. Pada 2019–2023, inflasi kumulatif sekitar 13,6 persen, sementara harga tiket kategori premium naik hingga 22,7 persen. Kenaikan tersebut antara lain didorong membengkaknya biaya produksi, mulai dari transportasi internasional, harga avtur, logistik, akomodasi kru, hingga sewa peralatan pertunjukan setelah pandemi.

Reportase The San Diego Union-Tribune juga mencatat sejumlah promotor mengaku beberapa komponen biaya penyelenggaraan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum pandemi. Tekanan biaya itu turut dirasakan musisi. Santigold membatalkan tur pada 2022 karena biaya produksi dinilai tidak sebanding dengan potensi pemasukan. Animal Collective menyampaikan alasan serupa, menyebut inflasi, pelemahan nilai mata uang, serta biaya pengiriman dan transportasi yang membengkak membuat penyusunan anggaran tur berisiko merugi.

Permintaan tinggi dan harga dinamis

Selain biaya operasional, kenaikan harga tiket juga dipengaruhi tingginya permintaan. Data Statista memperkirakan pendapatan industri konser musik global mencapai 30,13 miliar dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,05 persen per tahun hingga 36,71 miliar dolar AS pada 2027. Dalam periode tersebut, jumlah penonton konser global diperkirakan melampaui 330 juta orang.

Ketika permintaan meningkat sementara kapasitas venue terbatas, harga terdorong naik. Eric Fuller dalam analisis di Forbes menjelaskan tiket konser mengikuti mekanisme penawaran dan permintaan: jika permintaan melebihi jumlah kursi, harga cenderung naik sampai ada titik sebagian orang tidak lagi bersedia membayar.

Dalam beberapa tahun terakhir, mekanisme itu juga diperkuat penerapan dynamic pricing atau harga dinamis, yakni perubahan harga tiket mengikuti permintaan secara real time, mirip model penetapan harga pada maskapai penerbangan.

Di Indonesia, tingginya permintaan terlihat dalam survei Jakpat pada Agustus 2025: 74 persen responden berminat menghadiri konser dalam enam bulan ke depan. Survei yang sama mencatat separuh responden menghadiri dua hingga tiga konser sepanjang 2025. Sebanyak 12 persen menonton empat hingga lima konser, dan lima persen menghadiri enam hingga tujuh konser setahun. Alasan dominan tetap hiburan (52 persen), melepas stres (45 persen), dan menikmati pengalaman menonton langsung.

Lipstick effect, pengalaman, dan selektivitas baru

Tahun 2026 diperkirakan bukan periode mudah bagi ekonomi. Gejolak global, termasuk lonjakan harga minyak, memicu efek domino pada berbagai sektor. Tekanan ekonomi juga tercermin dari nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS, serta melemahnya daya beli akibat inflasi dan turunnya Indeks Keyakinan Konsumen. Kondisi itu terlihat dari menurunnya porsi tabungan rumah tangga dan terkontraksinya Indeks Penjualan Riil.

Namun, di tengah tekanan tersebut, minat terhadap konser dan festival musik tetap tinggi. Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Salsabila Azkia Farhani, menilai konser kini bergeser menjadi experience goods, yakni produk yang nilai utamanya terletak pada pengalaman. Selain menikmati musisi favorit, konser juga menjadi ruang membangun relasi sosial, bertemu komunitas, dan memperkuat identitas sebagai penggemar.

Salsabila melihat fenomena itu memiliki kemiripan dengan lipstick effect, yaitu kecenderungan masyarakat tetap menyisihkan pendapatan untuk kepuasan emosional ketika ekonomi tidak menentu. Meski demikian, ia menilai kenaikan harga tiket mengubah perilaku konsumen menjadi lebih selektif, baik dalam memilih artis maupun kategori tiket sesuai kemampuan. Ia juga menyoroti tekanan biaya bagi promotor akibat pelemahan rupiah—karena banyak transaksi menggunakan mata uang asing—serta kenaikan ongkos transportasi, logistik, bahan bakar, dan produksi. Dalam situasi tersebut, sebagian tekanan biaya sulit dihindari untuk diteruskan kepada konsumen melalui harga tiket. Untuk konser internasional, promotor lokal juga tidak sepenuhnya menentukan harga karena melibatkan manajemen artis dan pihak lain dalam rantai penyelenggaraan.

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai konser merupakan konsumsi yang experience-driven, didorong pencarian pengalaman, bukan sekadar kepemilikan produk. Ronny juga mengaitkan antusiasme yang masih kuat dengan fenomena revenge spending pascapandemi, ketika masyarakat lebih rela mengalokasikan sebagian pendapatan untuk hiburan dan pengalaman yang sebelumnya tertunda.

Di tengah tekanan ekonomi dan tren kenaikan harga tiket, cerita Bintang, Naufal, dan Tata menggambarkan satu benang merah: konser masih dipandang sebagai ruang pemulihan emosional dan pengalaman yang bernilai, meski membuat banyak penonton harus menata ulang prioritas belanja dan menjadi lebih selektif memilih pertunjukan yang ingin didatangi.