BERITA TERKINI
Dubes RI: Ekonomi Digital, AI, dan Startup Jadi Fokus Baru Kerja Sama Indonesia–Swiss

Dubes RI: Ekonomi Digital, AI, dan Startup Jadi Fokus Baru Kerja Sama Indonesia–Swiss

BERN — Indonesia dan Swiss mulai membuka peluang kerja sama di sektor-sektor baru di luar perdagangan, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya mengatakan ekonomi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan ekosistem startup berpotensi menjadi mesin pertumbuhan hubungan bilateral ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Ngurah dalam wawancara khusus di KBRI Bern, Swiss, Senin (30/6/2026). Ia menilai Swiss dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia, sementara Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar digital yang besar, bonus demografi, serta tingkat adopsi teknologi yang berkembang pesat. Menurutnya, keunggulan kedua negara tersebut dapat saling melengkapi.

Ngurah menyebut ekonomi digital sebagai sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan. Ia menilai selama ini Indonesia belum banyak melihat Swiss sebagai mitra ekonomi digital, dan sebaliknya Swiss juga belum banyak memandang Indonesia sebagai pasar maupun mitra strategis di bidang tersebut.

Padahal, menurut Ngurah, Swiss memiliki ekosistem startup yang kuat. Ia menyebut terdapat sekitar 15 hingga 24 startup yang telah mencapai status unicorn, serta sekitar 250 startup yang berpotensi berkembang menjadi unicorn. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menyampaikan kepada pelaku startup di Swiss bahwa Indonesia dapat menjadi tempat ideal untuk menguji pasar karena besarnya pasar dan beragamnya segmen konsumen.

Dalam Business Forum Indonesia–Swiss tahun ini, Ngurah mengatakan ekonomi digital dipilih sebagai tema utama dengan fokus diskusi pada tiga bidang. Pertama, infrastruktur digital, termasuk data center dan ekosistem pendukungnya. Kedua, financial technology. Ia menilai perkembangan fintech di Indonesia berjalan sangat baik, antara lain melalui QRIS, bahkan disebutnya lebih maju dibandingkan Swiss dalam adopsi pembayaran digital.

Namun, Ngurah menambahkan Swiss memiliki keunggulan pada aspek keamanan sistem, perlindungan data, dan tingkat kepercayaan (trust). Ia memandang dua kekuatan tersebut dapat saling melengkapi dalam kerja sama kedua negara.

Bidang ketiga yang dibahas adalah artificial intelligence. Ngurah menekankan bahwa pembahasan AI tidak cukup berhenti pada istilah, melainkan harus mengarah pada penerapan nyata dalam industri dan kehidupan sehari-hari.

Ngurah juga menyoroti perkembangan AI di Swiss yang dinilainya sudah masuk tahap implementasi. Ia merujuk pada penerapan AI di Smart Factory, yang telah digunakan dalam robotika, cobot, serta pengelolaan ekosistem industri. Swiss bahkan, menurutnya, mulai berbicara mengenai Industry 5.0, ketika AI menjadi bagian dari proses produksi.

Ia menilai jika Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan tersebut melalui kerja sama teknologi dan pengembangan sumber daya manusia, manfaatnya akan sangat besar.

Di luar diplomasi ekonomi melalui investasi dan perdagangan, Ngurah menambahkan bahwa promosi produk Indonesia, restoran, pariwisata, hingga pembelajaran bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari upaya memperluas kehadiran Indonesia di Swiss.